Binance Square
Herculis Gold Coin XAUH
79 Posting

Herculis Gold Coin XAUH

XAUH is a payment crypto token fully backed by LBMA-certified fine gold bullion (999.9 purity), refined in Switzerland and listed on DEX and CEX.
4 Mengikuti
31 Pengikut
123 Disukai
Posting
ยท
--
Emas: paparan kertas di Barat, akumulasi fisik di Asia. Grafik ini menyoroti perbedaan yang mencolok dalam cara pasar emas terbesar di dunia mendapatkan paparan terhadap logam tersebut pada 2025. ๐Ÿ‡บ๐Ÿ‡ธ Amerika Serikat: permintaan 612 ton, tetapi hanya 29% berupa logam fisik. Komponen terbesar โ€” 437 ton โ€” masuk melalui ETF dan klaim berbasis surat berharga lainnya. ๐Ÿ‡จ๐Ÿ‡ณ Tiongkok: permintaan 925 ton, dengan sekitar 86% dalam emas fisik, terutama untuk perhiasan, batangan, dan koin. ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ณ India: permintaan 749 ton, di mana sekitar 95% berupa logam fisik. Perbedaannya penting. Investor Barat sering memperlakukan emas terutama sebagai aset keuangan โ€” sesuatu yang dapat diperdagangkan secara efisien melalui ETF dan sekuritas. Di Tiongkok dan India, emas terus diakumulasi secara dominan sebagai penyimpan nilai kekayaan yang berwujud. Kesimpulan investasi Bagi investor jangka panjang, pesan utamanya bukan semata-mata bahwa permintaan emas tetap kuat, melainkan dari mana permintaan itu berasal dan dalam bentuk apa. Akumulasi fisik yang terus-menerus di Asia dapat menyediakan fondasi struktural yang penting bagi pasar emas, khususnya pada saat fragmentasi geopolitik, kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang, dan meningkatnya kebutuhan aset di luar sistem keuangan tradisional. Emas layak tetap menjadi komponen strategis dalam portofolio yang terdiversifikasi โ€” bukan hanya sebagai perdagangan jangka pendek, melainkan sebagai alokasi moneter dan aset riil jangka panjang.
Emas: paparan kertas di Barat, akumulasi fisik di Asia.
Grafik ini menyoroti perbedaan yang mencolok dalam cara pasar emas terbesar di dunia mendapatkan paparan terhadap logam tersebut pada 2025.
๐Ÿ‡บ๐Ÿ‡ธ Amerika Serikat: permintaan 612 ton, tetapi hanya 29% berupa logam fisik. Komponen terbesar โ€” 437 ton โ€” masuk melalui ETF dan klaim berbasis surat berharga lainnya.
๐Ÿ‡จ๐Ÿ‡ณ Tiongkok: permintaan 925 ton, dengan sekitar 86% dalam emas fisik, terutama untuk perhiasan, batangan, dan koin.
๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ณ India: permintaan 749 ton, di mana sekitar 95% berupa logam fisik.
Perbedaannya penting. Investor Barat sering memperlakukan emas terutama sebagai aset keuangan โ€” sesuatu yang dapat diperdagangkan secara efisien melalui ETF dan sekuritas. Di Tiongkok dan India, emas terus diakumulasi secara dominan sebagai penyimpan nilai kekayaan yang berwujud.
Kesimpulan investasi
Bagi investor jangka panjang, pesan utamanya bukan semata-mata bahwa permintaan emas tetap kuat, melainkan dari mana permintaan itu berasal dan dalam bentuk apa.
Akumulasi fisik yang terus-menerus di Asia dapat menyediakan fondasi struktural yang penting bagi pasar emas, khususnya pada saat fragmentasi geopolitik, kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang, dan meningkatnya kebutuhan aset di luar sistem keuangan tradisional.
Emas layak tetap menjadi komponen strategis dalam portofolio yang terdiversifikasi โ€” bukan hanya sebagai perdagangan jangka pendek, melainkan sebagai alokasi moneter dan aset riil jangka panjang.
Lihat terjemahan
A MAJOR COPPER SHORTAGE IS EXPECTED OVER THE NEXT 15 YEARS. โžข By 2040, the world could face a copper shortfall of around 10 million tonnes โ€” equivalent to approximately 33% of current global demand. ๐Ÿค Global copper demand could rise from 28 million tonnes in 2025 to 42 million tonnes by 2040. ๐Ÿค Around 60% of the increase in demand will come from Asia, driven primarily by the expansion of electric vehicles and upgrades to power grids. ๐Ÿค Another major factor is AI data centers. Their copper consumption could increase by 127%, reaching 2.5 million tonnes by 2040. ๐Ÿค Meanwhile, copper production is expected to peak at around 34 million tonnes in 2030, before declining to 32 million tonnes by 2040. Electrification, grid modernization, EV adoption and the rapid expansion of AI infrastructure are creating long-term demand that may be increasingly difficult for new mine supply to match. Copper is emerging as the next strategically important commodity of global significance.
A MAJOR COPPER SHORTAGE IS EXPECTED OVER THE NEXT 15 YEARS.
โžข By 2040, the world could face a copper shortfall of around 10 million tonnes โ€” equivalent to approximately 33% of current global demand.
๐Ÿค Global copper demand could rise from 28 million tonnes in 2025 to 42 million tonnes by 2040.
๐Ÿค Around 60% of the increase in demand will come from Asia, driven primarily by the expansion of electric vehicles and upgrades to power grids.
๐Ÿค Another major factor is AI data centers. Their copper consumption could increase by 127%, reaching 2.5 million tonnes by 2040.
๐Ÿค Meanwhile, copper production is expected to peak at around 34 million tonnes in 2030, before declining to 32 million tonnes by 2040.
Electrification, grid modernization, EV adoption and the rapid expansion of AI infrastructure are creating long-term demand that may be increasingly difficult for new mine supply to match.
Copper is emerging as the next strategically important commodity of global significance.
Lihat terjemahan
More than two-thirds of the electricity sought for the US artificial intelligence boom is unlikely to materialize due to a proliferation of โ€œphantomโ€ projects and long-shot pitches. โ€ขWood Mackenzie expects utilities and grid operators to commit to just 28% of the 1,066 gigawatts requested for data centers โ€” capacity equivalent to more than 1,000 traditional nuclear reactors. โ€ขThe inflated forecasts complicate grid planning and risk raising utility bills as infrastructure costs are passed on to customers. โ€ขDevelopers are taking a shotgun approach to pitching projects as they seek ways get ahead in the AI build-out. But that raises the risk of overwhelming US grids and creating even more bottlenecks.
More than two-thirds of the electricity sought for the US artificial intelligence boom is unlikely to materialize due to a proliferation of โ€œphantomโ€ projects and long-shot pitches. โ€ขWood Mackenzie expects utilities and grid operators to commit to just 28% of the 1,066 gigawatts requested for data centers โ€” capacity equivalent to more than 1,000 traditional nuclear reactors. โ€ขThe inflated forecasts complicate grid planning and risk raising utility bills as infrastructure costs are passed on to customers. โ€ขDevelopers are taking a shotgun approach to pitching projects as they seek ways get ahead in the AI build-out. But that raises the risk of overwhelming US grids and creating even more bottlenecks.
Sejarah Emas tidak berjalan lurus. Ini adalah kisah tentang rezim moneter, inflasi, krisis, periode konsolidasi yang panjang โ€” dan penilaian ulang yang berulang terhadap apa yang menjadi penyimpan nilai yang dapat diandalkan. Dari berakhirnya Bretton Woods dan lonjakan pada tahun 1970-an, melalui pasar beruang panjang yang mengikutinya, Krisis Keuangan Global, pandemi, dan siklus terbaru harga-harga rekor, setiap fase memiliki pemicunya masing-masing. Saat ini, Emas kembali mendapat perhatian di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut, dinamika moneter yang berubah, dan permintaan yang tetap dari bank sentral.
Sejarah Emas tidak berjalan lurus. Ini adalah kisah tentang rezim moneter, inflasi, krisis, periode konsolidasi yang panjang โ€” dan penilaian ulang yang berulang terhadap apa yang menjadi penyimpan nilai yang dapat diandalkan. Dari berakhirnya Bretton Woods dan lonjakan pada tahun 1970-an, melalui pasar beruang panjang yang mengikutinya, Krisis Keuangan Global, pandemi, dan siklus terbaru harga-harga rekor, setiap fase memiliki pemicunya masing-masing.
Saat ini, Emas kembali mendapat perhatian di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut, dinamika moneter yang berubah, dan permintaan yang tetap dari bank sentral.
Lihat terjemahan
Chinaโ€™s central bank added a net 20 tonnes of gold in July, as much gold as the combined monthly mine production of the world's 10 largest gold-producing countries. It is a largest monthly purchase since October 2023, following increases of 15 tonnes in June and 10 tonnes in May. This marked the 21st consecutive month of official gold-reserve accumulation. Year-to-date, China has raised its holdings by 60 tonnes to a record 2,366 tonnes. The central bank is also reportedly relocating more of its gold reserves from London to Hong Kong, supporting the cityโ€™s ambition to become a major global gold-trading hub. The move coincides with Hong Kongโ€™s launch of a new gold-clearing system designed to enhance its role in global gold trading and pricing. Chinese demand for gold remains robust, and gold, silver and other metals appear well positioned for a fresh advance after six months of consolidation. Whether this reflects diversification away from the US dollar, preparations for a more fragmented global financial system, or a broader effort to strengthen strategic reserves, the scale of the purchases is impossible to ignore. The real question is: What is China preparing for?
Chinaโ€™s central bank added a net 20 tonnes of gold in July, as much gold as the combined monthly mine production of the world's 10 largest gold-producing countries. It is a largest monthly purchase since October 2023, following increases of 15 tonnes in June and 10 tonnes in May. This marked the 21st consecutive month of official gold-reserve accumulation. Year-to-date, China has raised its holdings by 60 tonnes to a record 2,366 tonnes.

The central bank is also reportedly relocating more of its gold reserves from London to Hong Kong, supporting the cityโ€™s ambition to become a major global gold-trading hub. The move coincides with Hong Kongโ€™s launch of a new gold-clearing system designed to enhance its role in global gold trading and pricing. Chinese demand for gold remains robust, and gold, silver and other metals appear well positioned for a fresh advance after six months of consolidation.

Whether this reflects diversification away from the US dollar, preparations for a more fragmented global financial system, or a broader effort to strengthen strategic reserves, the scale of the purchases is impossible to ignore. The real question is: What is China preparing for?
Lihat terjemahan
BRICS Nations Developing Alternative Gold and Silver Markets ๐Ÿ“ท๐Ÿ“ท In the latest Freedom Report, Rob Kientz dives into: ๐Ÿ“ท The new BRICS alternative to Comex & the LBMA ๐Ÿ“ท Hong Kong, Singapore & Moscow's expanding precious metals exchanges ๐Ÿ“ท The BRICS gold-backed settlement network known as "the Unit" ๐Ÿ“ท Why silver's recent selloff is a mid-cycle lull, not the end of the run ๐Ÿ“ท What the West-to-East shift means for gold & silver holders ๐Ÿ“ท Watch now https://www.youtube.com/watch?v=sTYIhtk2-Ck
BRICS Nations Developing Alternative Gold and Silver Markets
๐Ÿ“ท๐Ÿ“ท
In the latest Freedom Report, Rob Kientz dives into:
๐Ÿ“ท
The new BRICS alternative to Comex & the LBMA
๐Ÿ“ท
Hong Kong, Singapore & Moscow's expanding precious metals exchanges
๐Ÿ“ท
The BRICS gold-backed settlement network known as "the Unit"
๐Ÿ“ท
Why silver's recent selloff is a mid-cycle lull, not the end of the run
๐Ÿ“ท
What the West-to-East shift means for gold & silver holders
๐Ÿ“ท
Watch now
https://www.youtube.com/watch?v=sTYIhtk2-Ck
ยท
--
Bullish
Lihat terjemahan
Today, $XAUH reached another major milestone in its development. ๐Ÿฅ‡ 4,000 $XAUH tokens have now been minted on the Ethereum blockchain, joining the existing 11,500 $XAUH across TON and TRON. ๐ŸŒ 3 blockchains: Ethereum โ€ข TON โ€ข TRON ๐Ÿช™ 15,500 $XAUH in total ๐Ÿ‘ฅ Distributed across 1,060 wallets Investors can instantly buy and sell $XAUH through: ๐Ÿฆ CEX: Biconomy & BTSE โšก DEX: STON.fi ๐Ÿ”„ Direct swap: xauh.gold One gold-backed token. Three blockchains. Multiple ways to access and trade. $XAUH continues to expand its multi-chain ecosystem, accessibility, and liquidity. #XAUH #Gold #TokenizedGold #RWA #Ethereum #TON #TRON #DeFi
Today, $XAUH reached another major milestone in its development. ๐Ÿฅ‡
4,000 $XAUH tokens have now been minted on the Ethereum blockchain, joining the existing 11,500 $XAUH across TON and TRON.
๐ŸŒ 3 blockchains: Ethereum โ€ข TON โ€ข TRON
๐Ÿช™ 15,500 $XAUH in total
๐Ÿ‘ฅ Distributed across 1,060 wallets

Investors can instantly buy and sell $XAUH through:
๐Ÿฆ CEX: Biconomy & BTSE
โšก DEX: STON.fi
๐Ÿ”„ Direct swap: xauh.gold

One gold-backed token. Three blockchains. Multiple ways to access and trade. $XAUH continues to expand its multi-chain ecosystem, accessibility, and liquidity.

#XAUH #Gold #TokenizedGold #RWA #Ethereum #TON #TRON #DeFi
Lihat terjemahan
The ratio of the S&P 500 to the median price of a U.S. home tells less of a story about real estate than it does about the relative price of financial assets compared to real assets. Following the Nixon Shock of 1971, this ratio experienced two major periods of contraction: 1972โ€“1982, and then 2000โ€“2009. In both cases, the correction was close to 65% over the course of about a decade. Today, the ratio is returning to the upper end of its long-term channel. This obviously does not mean that history must mechanically follow the same path through the late 2030s. But the analogy is worth examining, particularly at a time when financial valuations are reaching extremes, while gold, commodities, energy, and physical infrastructure are gradually regaining their strategic value.
The ratio of the S&P 500 to the median price of a U.S. home tells less of a story about real estate than it does about the relative price of financial assets compared to real assets.

Following the Nixon Shock of 1971, this ratio experienced two major periods of contraction: 1972โ€“1982, and then 2000โ€“2009. In both cases, the correction was close to 65% over the course of about a decade.

Today, the ratio is returning to the upper end of its long-term channel. This obviously does not mean that history must mechanically follow the same path through the late 2030s. But the analogy is worth examining, particularly at a time when financial valuations are reaching extremes, while gold, commodities, energy, and physical infrastructure are gradually regaining their strategic value.
Hari ini, SpaceX memasuki tahap pertama dari program pelepasan saham pasca-IPO. Free float diperkirakan akan meningkat dari sekitar 4,9% menjadi 11,8%, menandai dimulainya jadwal rilis bertahap yang akan berlanjut hingga 2027. Secara total, hingga 911,5 juta sahamโ€”senilai kira-kira $116 miliar berdasarkan valuasi indikatif saat iniโ€”akan secara progresif menjadi memenuhi syarat untuk diperdagangkan. Yang penting, โ€œeligibleโ€ tidak berarti โ€œsoldโ€; pembukaan tersebut hanya menghapus batasan transfer. Perdagangan pekan lalu sudah menunjukkan bagaimana pasar memberi harga pada peristiwa-peristiwa seperti ini. Meski kinerja operasional kuat, saham SpaceX mendapat tekanan karena investor menyoroti prospek tersedianya pasokan yang dapat diperdagangkan secara jauh lebih besar. Ini sejalan dengan cara kerja pasar ekuitas: harga ditentukan di tingkat margin. Bahkan jika hanya sebagian kecil dari saham yang baru dibuka akhirnya dijual, ekspektasi adanya pasokan tambahan sering kali cukup untuk menekan valuasi sebelum transaksi aktual terjadi. Pada banyak IPO, antisipasi terhadap pembukaan berdampak lebih besar dalam jangka pendek dibandingkan pembukaan itu sendiri. Peristiwa paling signifikan masih akan datang. Berakhirnya masa lock-up Elon Musk diperkirakan akan meningkatkan free float yang memenuhi syarat dari 50,8% menjadi 96,9% dalam satu langkah, sehingga secara mendasar mengubah profil likuiditas saham. Apakah ini menjadi peluang untuk membeli atau justru menjadi sumber tekanan turun yang berkelanjutan akan bergantung pada satu pertanyaan: Berapa banyak pemegang saham yang benar-benar memilih untuk menjual? Jadwal pembukaan menetapkan potensi pasokan; pasar pada akhirnya akan menentukan seberapa banyak pasokan tersebut terserapโ€”dan pada harga berapa.
Hari ini, SpaceX memasuki tahap pertama dari program pelepasan saham pasca-IPO. Free float diperkirakan akan meningkat dari sekitar 4,9% menjadi 11,8%, menandai dimulainya jadwal rilis bertahap yang akan berlanjut hingga 2027. Secara total, hingga 911,5 juta sahamโ€”senilai kira-kira $116 miliar berdasarkan valuasi indikatif saat iniโ€”akan secara progresif menjadi memenuhi syarat untuk diperdagangkan. Yang penting, โ€œeligibleโ€ tidak berarti โ€œsoldโ€; pembukaan tersebut hanya menghapus batasan transfer.
Perdagangan pekan lalu sudah menunjukkan bagaimana pasar memberi harga pada peristiwa-peristiwa seperti ini. Meski kinerja operasional kuat, saham SpaceX mendapat tekanan karena investor menyoroti prospek tersedianya pasokan yang dapat diperdagangkan secara jauh lebih besar. Ini sejalan dengan cara kerja pasar ekuitas: harga ditentukan di tingkat margin. Bahkan jika hanya sebagian kecil dari saham yang baru dibuka akhirnya dijual, ekspektasi adanya pasokan tambahan sering kali cukup untuk menekan valuasi sebelum transaksi aktual terjadi. Pada banyak IPO, antisipasi terhadap pembukaan berdampak lebih besar dalam jangka pendek dibandingkan pembukaan itu sendiri.
Peristiwa paling signifikan masih akan datang. Berakhirnya masa lock-up Elon Musk diperkirakan akan meningkatkan free float yang memenuhi syarat dari 50,8% menjadi 96,9% dalam satu langkah, sehingga secara mendasar mengubah profil likuiditas saham. Apakah ini menjadi peluang untuk membeli atau justru menjadi sumber tekanan turun yang berkelanjutan akan bergantung pada satu pertanyaan: Berapa banyak pemegang saham yang benar-benar memilih untuk menjual? Jadwal pembukaan menetapkan potensi pasokan; pasar pada akhirnya akan menentukan seberapa banyak pasokan tersebut terserapโ€”dan pada harga berapa.
Lihat terjemahan
The 30-year U.S. Treasury yield has surpassed 5.2%, returning to levels last seen before the 2008 financial crisis. The implied 10-year-to-10-year Treasury yield has reached approximately 6.24%, its highest level since 2004. A U.S. Treasury yield of 5% or higher has historically been viewed as a critically important psychological thresholdโ€”not only for the bond market, but also for risk assets such as equities and cryptocurrencies. Markets are no longer pricing in return to the ultra-low-rate environment of the 2010s. They are gradually pricing in a structurally higher cost of capital, fueled by deficits, increased bond issuance, geopolitical fragmentation, and private demand for financing that has grown to enormous proportions.
The 30-year U.S. Treasury yield has surpassed 5.2%, returning to levels last seen before the 2008 financial crisis. The implied 10-year-to-10-year Treasury yield has reached approximately 6.24%, its highest level since 2004.

A U.S. Treasury yield of 5% or higher has historically been viewed as a critically important psychological thresholdโ€”not only for the bond market, but also for risk assets such as equities and cryptocurrencies.

Markets are no longer pricing in return to the ultra-low-rate environment of the 2010s. They are gradually pricing in a structurally higher cost of capital, fueled by deficits, increased bond issuance, geopolitical fragmentation, and private demand for financing that has grown to enormous proportions.
Pemindahan kekayaan klasik dari investor ritel ke modal institusional dan asing telah terjadi di Korea Selatan. Sementara individu dalam negeri membeli lebih dari $60 miliar saham Korea dalam upaya "membeli penurunan (buy the dip)", investor asing menggunakan permintaan tersebut sebagai likuiditas untuk keluar, dengan menjual sekitar $110 miliar saham. Kombinasi pembelian penurunan yang agresif oleh ritel dan penjualan asing yang terus-menerus adalah tanda peringatan. Investor ritel sering menjadi semakin yakin ketika harga turun, dan sebagian meningkatkan imbal hasil melalui pembiayaan margin. Jika penurunan berlanjut, leverage dapat dengan cepat berubah menjadi penjualan paksa, sehingga mempercepat sisi bawah pasar (marketโ€™s downside). Dinamika ini telah berulang kali diamati pada gelembung pasar yang digerakkan ritel di masa lalu. Koreksi KOSPI saat ini bukan sekadar aksi jual pasar sahamโ€”melainkan peristiwa deleveraging ritel yang menggunakan utang (leverage). Investor ritel Korea mengakumulasi utang margin rekor sekitar โ‚ฉ36โ€“39 triliun ($27โ€“29 miliar) sebelum pasar mencapai puncaknya, kira-kira dua kali lipat dibanding setahun sebelumnya. Dengan memasukkan pinjaman yang dijaminkan saham (stock-collateralized loans), total leverage ritel diperkirakan sekitar โ‚ฉ60 triliun ($43 miliar). Sebagian besar uang pinjaman terkonsentrasi pada Samsung Electronics dan SK Hynix, sehingga investor ritel sangat terekspos pada satu tema investasi AI dan semikonduktor, alih-alih mempertahankan portofolio yang terdiversifikasi.
Pemindahan kekayaan klasik dari investor ritel ke modal institusional dan asing telah terjadi di Korea Selatan. Sementara individu dalam negeri membeli lebih dari $60 miliar saham Korea dalam upaya "membeli penurunan (buy the dip)", investor asing menggunakan permintaan tersebut sebagai likuiditas untuk keluar, dengan menjual sekitar $110 miliar saham.

Kombinasi pembelian penurunan yang agresif oleh ritel dan penjualan asing yang terus-menerus adalah tanda peringatan. Investor ritel sering menjadi semakin yakin ketika harga turun, dan sebagian meningkatkan imbal hasil melalui pembiayaan margin. Jika penurunan berlanjut, leverage dapat dengan cepat berubah menjadi penjualan paksa, sehingga mempercepat sisi bawah pasar (marketโ€™s downside). Dinamika ini telah berulang kali diamati pada gelembung pasar yang digerakkan ritel di masa lalu.

Koreksi KOSPI saat ini bukan sekadar aksi jual pasar sahamโ€”melainkan peristiwa deleveraging ritel yang menggunakan utang (leverage).

Investor ritel Korea mengakumulasi utang margin rekor sekitar โ‚ฉ36โ€“39 triliun ($27โ€“29 miliar) sebelum pasar mencapai puncaknya, kira-kira dua kali lipat dibanding setahun sebelumnya. Dengan memasukkan pinjaman yang dijaminkan saham (stock-collateralized loans), total leverage ritel diperkirakan sekitar โ‚ฉ60 triliun ($43 miliar).

Sebagian besar uang pinjaman terkonsentrasi pada Samsung Electronics dan SK Hynix, sehingga investor ritel sangat terekspos pada satu tema investasi AI dan semikonduktor, alih-alih mempertahankan portofolio yang terdiversifikasi.
Selama beberapa dekade, Jepang telah menggabungkan suku bunga yang nyaris nol, mata uang yang lemah, utang publik yang sangat besar, dan ekspor modal besar-besaran. Kerangka ini telah membantu membiayai obligasi AS, kredit internasional, pasar ekuitas global, serta beragam strategi carry trade. Sumber tersebut kini mulai mengering. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 2,8%, naik dari sekitar 1% pada 2024, setelah baru-baru ini mencapai 2,90%, level tertingginya dalam tiga puluh tahun terakhir. Imbal hasil obligasi tenor 20, 30, dan 40 tahun juga telah melampaui atau mendekati 4%. Mengapa sebuah perusahaan asuransi atau dana pensiun Jepang terus memegang jumlah besar durasi AS ketika obligasi domestik sekali lagi menawarkan hampir 3%? Ini bukan pertanyaan teoretis. Jepang tetap menjadi pemegang asing terbesar obligasi Treasury AS, dengan sekitar $1.210 miliar per April 2026. Negara ini juga memiliki triliunan dolar dalam saham, obligasi, dan investasi langsung luar negeri. Bahkan re-alokasi sebagian dari modal ini ke pasar Jepang dapat menghasilkan tiga efek yang terjadi bersamaan: kenaikan lanjutan imbal hasil AS; berkurangnya likuiditas global; dan pembongkaran strategi yang didanai yen (sehingga, pada akhirnya, nilai yen menguat terhadap USD).
Selama beberapa dekade, Jepang telah menggabungkan suku bunga yang nyaris nol, mata uang yang lemah, utang publik yang sangat besar, dan ekspor modal besar-besaran. Kerangka ini telah membantu membiayai obligasi AS, kredit internasional, pasar ekuitas global, serta beragam strategi carry trade.
Sumber tersebut kini mulai mengering. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 2,8%, naik dari sekitar 1% pada 2024, setelah baru-baru ini mencapai 2,90%, level tertingginya dalam tiga puluh tahun terakhir. Imbal hasil obligasi tenor 20, 30, dan 40 tahun juga telah melampaui atau mendekati 4%.
Mengapa sebuah perusahaan asuransi atau dana pensiun Jepang terus memegang jumlah besar durasi AS ketika obligasi domestik sekali lagi menawarkan hampir 3%?
Ini bukan pertanyaan teoretis. Jepang tetap menjadi pemegang asing terbesar obligasi Treasury AS, dengan sekitar $1.210 miliar per April 2026.
Negara ini juga memiliki triliunan dolar dalam saham, obligasi, dan investasi langsung luar negeri. Bahkan re-alokasi sebagian dari modal ini ke pasar Jepang dapat menghasilkan tiga efek yang terjadi bersamaan: kenaikan lanjutan imbal hasil AS; berkurangnya likuiditas global; dan pembongkaran strategi yang didanai yen (sehingga, pada akhirnya, nilai yen menguat terhadap USD).
Selama lima belas tahun, para investor menilai keberhasilan Tiongkok dengan membandingkan CSI 300 dengan S&P 500. Karena Wall Street tumbuh lebih cepat, mereka menyimpulkan bahwa model Amerika telah menang dan bahwa Tiongkok telah gagal. Sementara itu, Tiongkok membangun jaringan listrik, rantai pasok baterai, pabrik robot, pusat data, model kecerdasan buatan, pemimpin industri memori, danโ€”kiniโ€”mesin litografi imersi pertamanya. Pasar Tiongkok belum sepenuhnya mencerminkan keberhasilan Tiongkok. Namun justru itulah yang membuatnya menarik. Ia memiliki mata uang yang berbeda, siklus kredit yang berbeda, kebijakan moneter yang berbeda, basis tabungan yang berbeda, arah energi yang berbeda, serta arsitektur industri yang kian tidak bergantung pada itikad baik Washington. Karena itu, Tiongkok dapat menjadi sumber diversifikasi bahkan sebelum menjadi sumber kinerja unggul. Dan jika Beijing mampu mencapai keseimbangan yang lebih baik antara pembiayaan korporasi dan imbal hasil investor, diversifikasi pada akhirnya bisa memberikan persis apa yang diklaim dicari oleh investor Barat: kinerja.
Selama lima belas tahun, para investor menilai keberhasilan Tiongkok dengan membandingkan CSI 300 dengan S&P 500. Karena Wall Street tumbuh lebih cepat, mereka menyimpulkan bahwa model Amerika telah menang dan bahwa Tiongkok telah gagal.
Sementara itu, Tiongkok membangun jaringan listrik, rantai pasok baterai, pabrik robot, pusat data, model kecerdasan buatan, pemimpin industri memori, danโ€”kiniโ€”mesin litografi imersi pertamanya.
Pasar Tiongkok belum sepenuhnya mencerminkan keberhasilan Tiongkok. Namun justru itulah yang membuatnya menarik.
Ia memiliki mata uang yang berbeda, siklus kredit yang berbeda, kebijakan moneter yang berbeda, basis tabungan yang berbeda, arah energi yang berbeda, serta arsitektur industri yang kian tidak bergantung pada itikad baik Washington.
Karena itu, Tiongkok dapat menjadi sumber diversifikasi bahkan sebelum menjadi sumber kinerja unggul.
Dan jika Beijing mampu mencapai keseimbangan yang lebih baik antara pembiayaan korporasi dan imbal hasil investor, diversifikasi pada akhirnya bisa memberikan persis apa yang diklaim dicari oleh investor Barat: kinerja.
QQQETF-0,32%
Novo Nordisk menggugat Eli Lilly, menuduh pesaing produsen obat penurun berat badan itu melakukan iklan yang menyesatkan. Novo menyatakan kampanye Lilly bergantung pada perbandingan penurunan berat badan yang sudah ketinggalan zaman dengan dosis yang lebih rendah dari suntikan Novo (Wegovy) dibandingkan yang saat ini tersedia. Meski suntikan Lilly (Zepbound) mengalahkan Wegovy dalam uji head-to-head tahun lalu, Novo kemudian memperoleh persetujuan untuk dosis yang lebih tinggi dari obatnya dibandingkan yang digunakan dalam studi tersebut. Kedua perusahaan sedang bersaing memperebutkan pangsa pasar obesitas global yang diperkirakan akan mencapai $120 miliar per tahun pada 2030, menurut Bloomberg Intelligence. Gugatan tersebut menegaskan bahwa pertarungan ini kini tidak lagi hanya soal mengembangkan pengobatan obesitas yang paling efektifโ€”melainkan semakin tentang mengendalikan narasi, perilaku peresepan dokter, dan pangsa pasar. Bagi investor, ini menyoroti potensi komersial besar dari pasar GLP-1 sekaligus meningkatnya risiko persaingan dan risiko hukum ketika raksasa farmasi bersaing untuk memimpin di salah satu segmen terapi dengan pertumbuhan tercepat.
Novo Nordisk menggugat Eli Lilly, menuduh pesaing produsen obat penurun berat badan itu melakukan iklan yang menyesatkan. Novo menyatakan kampanye Lilly bergantung pada perbandingan penurunan berat badan yang sudah ketinggalan zaman dengan dosis yang lebih rendah dari suntikan Novo (Wegovy) dibandingkan yang saat ini tersedia.

Meski suntikan Lilly (Zepbound) mengalahkan Wegovy dalam uji head-to-head tahun lalu, Novo kemudian memperoleh persetujuan untuk dosis yang lebih tinggi dari obatnya dibandingkan yang digunakan dalam studi tersebut. Kedua perusahaan sedang bersaing memperebutkan pangsa pasar obesitas global yang diperkirakan akan mencapai $120 miliar per tahun pada 2030, menurut Bloomberg Intelligence.

Gugatan tersebut menegaskan bahwa pertarungan ini kini tidak lagi hanya soal mengembangkan pengobatan obesitas yang paling efektifโ€”melainkan semakin tentang mengendalikan narasi, perilaku peresepan dokter, dan pangsa pasar. Bagi investor, ini menyoroti potensi komersial besar dari pasar GLP-1 sekaligus meningkatnya risiko persaingan dan risiko hukum ketika raksasa farmasi bersaing untuk memimpin di salah satu segmen terapi dengan pertumbuhan tercepat.
Kelompok Houthi Yaman yang didukung Teheran mengatakan mereka akan memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi, sehingga membahayakan kelancaran arus jutaan barel minyak yang diekspor kerajaan tersebut melalui Laut Merah. Langkah itu akan menambah tekanan yang lebih besar pada AS saat berupaya membombardir Iran hingga tunduk terkait pengendalian Selat Hormuz. Harga minyak naik selama hari perdagangan yang penuh ketegangan. Arab Saudi mengalihkan pasokan minyaknya ke pelabuhan utama Laut Merah Yanbu setelah serangan 28 Februari oleh AS dan Israel terhadap Iran, serta penutupan Hormuz yang efektif oleh Iran. Ekspor-ekspor tersebut, yang meningkat hingga rekor 4,19 juta barel per hari pada bulan lalu, telah membantu membatasi gangguan terhadap pasokan global, tetapi jalurnya tetap berbahaya. Lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz, tempat sekitar seperlima minyak dunia mengalir sebelum perang, masih nyaris lumpuh karena Teheran dan Washington saling melancarkan serangan balasan. Gangguan terhadap pasokan melalui Laut Merah akan memperparah dampak perang terhadap perdagangan minyak global dan mendorong harga naik.
Kelompok Houthi Yaman yang didukung Teheran mengatakan mereka akan memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi, sehingga membahayakan kelancaran arus jutaan barel minyak yang diekspor kerajaan tersebut melalui Laut Merah. Langkah itu akan menambah tekanan yang lebih besar pada AS saat berupaya membombardir Iran hingga tunduk terkait pengendalian Selat Hormuz.

Harga minyak naik selama hari perdagangan yang penuh ketegangan. Arab Saudi mengalihkan pasokan minyaknya ke pelabuhan utama Laut Merah Yanbu setelah serangan 28 Februari oleh AS dan Israel terhadap Iran, serta penutupan Hormuz yang efektif oleh Iran. Ekspor-ekspor tersebut, yang meningkat hingga rekor 4,19 juta barel per hari pada bulan lalu, telah membantu membatasi gangguan terhadap pasokan global, tetapi jalurnya tetap berbahaya. Lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz, tempat sekitar seperlima minyak dunia mengalir sebelum perang, masih nyaris lumpuh karena Teheran dan Washington saling melancarkan serangan balasan.

Gangguan terhadap pasokan melalui Laut Merah akan memperparah dampak perang terhadap perdagangan minyak global dan mendorong harga naik.
Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun Jepang telah naik ke level tertinggi sejak 1996, sekitar 2,7%, naik tajam dari level mendekati nol yang dipertahankan selama sebagian besar periode 2015-2021. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang menandai pergeseran struktural setelah bertahun-tahun kebijakan moneter yang sangat longgar. Sebagai negara kreditur terbesar di dunia, imbal hasil domestik yang lebih tinggi dapat mendorong investor institusional Jepang untuk memulangkan modal dari pasar obligasi luar negeri, yang berpotensi menurunkan permintaan terhadap Surat Utang (Treasuries) AS dan utang berdaulat Eropa, sekaligus meningkatkan biaya pinjaman global. Investor sebaiknya memantau dengan saksama siklus normalisasi Jepang, karena siklus ini bisa menjadi pendorong utama arus modal global. Dalam situasi ini, mempertahankan eksposur pendapatan tetap berdurasi lebih pendek, mengutamakan institusi keuangan berkualitas tinggi yang diuntungkan oleh suku bunga lebih tinggi, serta memiliki alokasi strategis ke aset riil seperti emas dapat membantu mengurangi risiko yang terkait dengan naiknya imbal hasil obligasi global dan meningkatnya volatilitas pasar.
Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun Jepang telah naik ke level tertinggi sejak 1996, sekitar 2,7%, naik tajam dari level mendekati nol yang dipertahankan selama sebagian besar periode 2015-2021.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang menandai pergeseran struktural setelah bertahun-tahun kebijakan moneter yang sangat longgar. Sebagai negara kreditur terbesar di dunia, imbal hasil domestik yang lebih tinggi dapat mendorong investor institusional Jepang untuk memulangkan modal dari pasar obligasi luar negeri, yang berpotensi menurunkan permintaan terhadap Surat Utang (Treasuries) AS dan utang berdaulat Eropa, sekaligus meningkatkan biaya pinjaman global.

Investor sebaiknya memantau dengan saksama siklus normalisasi Jepang, karena siklus ini bisa menjadi pendorong utama arus modal global. Dalam situasi ini, mempertahankan eksposur pendapatan tetap berdurasi lebih pendek, mengutamakan institusi keuangan berkualitas tinggi yang diuntungkan oleh suku bunga lebih tinggi, serta memiliki alokasi strategis ke aset riil seperti emas dapat membantu mengurangi risiko yang terkait dengan naiknya imbal hasil obligasi global dan meningkatnya volatilitas pasar.
China membeli 480.000 ons emas pada bulan Juni, bulan ke-20 berturut-turut pembelian, dan merupakan pembelian tunggal terbesar sejak Oktober 2023. Tulisan tersebut berpendapat bahwa dalam dua dekade pembiayaan kesepakatan sumber daya, pasar bull market belum pernah mati, sementara uang institusional terbesar dan terlambat di dunia justru sedang mempercepat pembeliannya. Akumulasi berkelanjutan China menyoroti bahwa permintaan bank sentral tetap didorong secara struktural, bukan sensitif terhadap harga. Fakta bahwa pembelian dipercepat meskipun emas diperdagangkan mendekati level tertinggi sepanjang masa menunjukkan bahwa diversifikasi cadangan, manajemen risiko geopolitik, dan berkurangnya ketergantungan pada dolar AS terus lebih dominan daripada kekhawatiran penilaian dalam jangka pendek. Ini memperkuat pandangan bahwa permintaan sektor resmi memberikan lantai yang tahan lama bagi pasar emas. Bagi investor jangka panjang, akumulasi berkelanjutan oleh bank sentral menjadi latar makro yang mendukung untuk mempertahankan alokasi strategis ke emas. Alih-alih mencoba mengatur waktu untuk fluktuasi harga jangka pendek, investor dapat mempertimbangkan penggunaan periode pelemahan pasar untuk secara bertahap membangun posisi, karena permintaan sektor resmi yang terus-menerus secara historis telah memperkuat landasan fundamental jangka panjang untuk logam mulia tersebut.
China membeli 480.000 ons emas pada bulan Juni, bulan ke-20 berturut-turut pembelian, dan merupakan pembelian tunggal terbesar sejak Oktober 2023. Tulisan tersebut berpendapat bahwa dalam dua dekade pembiayaan kesepakatan sumber daya, pasar bull market belum pernah mati, sementara uang institusional terbesar dan terlambat di dunia justru sedang mempercepat pembeliannya.

Akumulasi berkelanjutan China menyoroti bahwa permintaan bank sentral tetap didorong secara struktural, bukan sensitif terhadap harga. Fakta bahwa pembelian dipercepat meskipun emas diperdagangkan mendekati level tertinggi sepanjang masa menunjukkan bahwa diversifikasi cadangan, manajemen risiko geopolitik, dan berkurangnya ketergantungan pada dolar AS terus lebih dominan daripada kekhawatiran penilaian dalam jangka pendek. Ini memperkuat pandangan bahwa permintaan sektor resmi memberikan lantai yang tahan lama bagi pasar emas.

Bagi investor jangka panjang, akumulasi berkelanjutan oleh bank sentral menjadi latar makro yang mendukung untuk mempertahankan alokasi strategis ke emas. Alih-alih mencoba mengatur waktu untuk fluktuasi harga jangka pendek, investor dapat mempertimbangkan penggunaan periode pelemahan pasar untuk secara bertahap membangun posisi, karena permintaan sektor resmi yang terus-menerus secara historis telah memperkuat landasan fundamental jangka panjang untuk logam mulia tersebut.
Lihat terjemahan
BofA highlights what it calls "a generational transfer in free cash flow." Forward 12-month FCF for semiconductor companies (Nvidia, Micron, Broadcom, Applied Materials) is projected to surge past $400bn, overtaking hyperscalers (Amazon, Google, Meta, Microsoft, Oracle), whose forward FCF has collapsed toward negative territory as AI infrastructure spending outpaces their cash generation. The AI value chain is entering a new phase where the primary beneficiaries are shifting from AI users to AI infrastructure providers. As hyperscalers absorb unprecedented capital expenditures to build AI capacity, semiconductor companies are capturing a disproportionate share of the industry's cash generation. Investors may therefore consider increasing exposure to high-quality chip designers, memory manufacturers, semiconductor equipment suppliers, and critical AI infrastructure enablers, while remaining selective among hyperscalers until their massive AI investments begin translating into stronger free cash flow and higher returns on invested capital.
BofA highlights what it calls "a generational transfer in free cash flow." Forward 12-month FCF for semiconductor companies (Nvidia, Micron, Broadcom, Applied Materials) is projected to surge past $400bn, overtaking hyperscalers (Amazon, Google, Meta, Microsoft, Oracle), whose forward FCF has collapsed toward negative territory as AI infrastructure spending outpaces their cash generation.

The AI value chain is entering a new phase where the primary beneficiaries are shifting from AI users to AI infrastructure providers. As hyperscalers absorb unprecedented capital expenditures to build AI capacity, semiconductor companies are capturing a disproportionate share of the industry's cash generation. Investors may therefore consider increasing exposure to high-quality chip designers, memory manufacturers, semiconductor equipment suppliers, and critical AI infrastructure enablers, while remaining selective among hyperscalers until their massive AI investments begin translating into stronger free cash flow and higher returns on invested capital.
Lihat terjemahan
๐Ÿ“‰ Foreign Investors Are Dumping South Korean Equities at a Record Pace Global equity funds sold $8 billion worth of South Korean stocks in July, averaging approximately $1.6 billion in net outflows per trading day. This follows $30 billion in capital outflows recorded in Juneโ€”the largest monthly sell-off on record. Since the beginning of the year, global funds have sold more than $100 billion worth of South Korean equities. Notably, more than half of the shares sold by foreign investors have been absorbed by domestic retail investors, highlighting a significant transfer of ownership from institutional to individual investors. Meanwhile, the KOSPI Index has officially entered bear market territory, falling 23% from its peak on June 19. Recent reports emphasize that the Korean rally had become extremely concentrated: Samsung and SK hynix represented more than half of the index. Retail participation, leverage, and AI enthusiasm reached unusually high levels. Many global managers simply chose to lock in gains after a 90โ€“120% rally. The money is not disappearing from equitiesโ€”it is primarily being reallocated. The main destinations are: Japan (largest beneficiary) and U.S. equities, particularly AI and technology
๐Ÿ“‰ Foreign Investors Are Dumping South Korean Equities at a Record Pace
Global equity funds sold $8 billion worth of South Korean stocks in July, averaging approximately $1.6 billion in net outflows per trading day.
This follows $30 billion in capital outflows recorded in Juneโ€”the largest monthly sell-off on record.
Since the beginning of the year, global funds have sold more than $100 billion worth of South Korean equities.
Notably, more than half of the shares sold by foreign investors have been absorbed by domestic retail investors, highlighting a significant transfer of ownership from institutional to individual investors.
Meanwhile, the KOSPI Index has officially entered bear market territory, falling 23% from its peak on June 19.
Recent reports emphasize that the Korean rally had become extremely concentrated:
Samsung and SK hynix represented more than half of the index. Retail participation, leverage, and AI enthusiasm reached unusually high levels. Many global managers simply chose to lock in gains after a 90โ€“120% rally.
The money is not disappearing from equitiesโ€”it is primarily being reallocated. The main destinations are:
Japan (largest beneficiary) and
U.S. equities, particularly AI and technology
Lihat terjemahan
According to Citadel Securities, retail investors' risk appetite has reached a record high. Zero-day-to-expiration (0DTE) options now account for a record 48% of total retail options trading volume. Over the past five years, this share has more than tripled. Moreover, in May, 0DTE options represented a record 30% of all options trading volume in the U.S. 0DTE options are highly speculative and extremely volatile instruments that expire within 24 hours. The explosive growth of 0DTE options reflects a shift in retail investor behavior toward short-term, high-conviction speculation. Low upfront premiums allow traders to control large notional exposure with limited capital, while the possibility of generating substantial returns within a single trading session creates a lottery-like payoff profile. Social media, commission-free trading platforms, and real-time market commentary have further accelerated this trend by making high-frequency speculation more accessible.
According to Citadel Securities, retail investors' risk appetite has reached a record high. Zero-day-to-expiration (0DTE) options now account for a record 48% of total retail options trading volume. Over the past five years, this share has more than tripled. Moreover, in May, 0DTE options represented a record 30% of all options trading volume in the U.S.

0DTE options are highly speculative and extremely volatile instruments that expire within 24 hours.

The explosive growth of 0DTE options reflects a shift in retail investor behavior toward short-term, high-conviction speculation. Low upfront premiums allow traders to control large notional exposure with limited capital, while the possibility of generating substantial returns within a single trading session creates a lottery-like payoff profile. Social media, commission-free trading platforms, and real-time market commentary have further accelerated this trend by making high-frequency speculation more accessible.
Masuk untuk menjelajahi konten lainnya
Bergabunglah dengan pengguna kripto global di Binance Square
โšก๏ธ Dapatkan informasi terbaru dan berguna tentang kripto.
๐Ÿ’ฌ Dipercayai oleh bursa kripto terbesar di dunia.
๐Ÿ‘ Temukan wawasan nyata dari kreator terverifikasi.
Email/Nomor Ponsel
Sitemap
Preferensi Cookie
S&K Platform