Pertama kali saya masuk ke P2P sambil membawa pikiran yang penuh percaya diri bahwa ini sama saja seperti jual beli barang—tinggal uang masuk ke akun maka bisa langsung dinyatakan selesai.

Saya ingat, saya menempatkan order jual sebesar 15 juta dong melalui p2p di akun Binance. Sambil duduk sambil menyesap kopi, uangnya masuk dengan tepat. Saya berniat menekan tombol konfirmasi, namun saya melihat ada dua status pemberitahuan. Saya baca baik-baik kedua pemberitahuan itu dan kemudian memeriksa kembali detail transaksi di bank. Ternyata informasi pengirim berbeda dengan informasi pembeli. Tekanan sekali rasanya, ya. “Ada apa, kenapa begini, ya?” begitu pertanyaan yang terlintas di kepala saya.

Saya lalu mempelajari transaksi P2P Binance sampai satu putaran, dan saya lihat Binance merekomendasikan agar informasi transaksi harus sama dengan informasi pada rekening bank.
Tidak, itu bukan sekadar rekomendasi biasa. Itu merupakan langkah untuk mengurangi risiko saat bertransaksi.

Saya langsung berhenti di titik itu dan meminta pembeli memberikan bukti pembayaran. Pembeli menolak.
15 juta itu tidak sedikit. Jantung saya berdebar kencang, saya langsung melaporkan di Binance dan memberikan semua informasi serta bukti yang relevan, tanpa menyelesaikan konfirmasi.

Sekitar 10 menit kemudian, Binance selesai memverifikasi, barulah transaksi dinyatakan selesai. Saya akhirnya menghela napas lega, tapi semuanya telah menghancurkan pikiran awal saya.

Mungkin transaksi P2P tidak hanya dilihat dari uang yang sudah masuk ke akun.
Sebelum mengonfirmasi selesai, perlu memastikan orangnya benar, rekeningnya benar, dan metode pembayarannya benar.
Itulah juga langkah yang diperlukan demi keamanan saat bertransaksi P2P di Binance.

@Binance Vietnam
#BinanceP2PAnToan
#p2p #P2P #antoan