Pemblokiran Selat Hormuz dan Serangan Udara Amerika
Perang antara Iran dan Amerika Serikat terus memberi tekanan pada pasar keuangan. Dengan kembalinya pemblokiran Selat Hormuz, arus kapal hampir sepenuhnya terhenti. Selain gangguan di Selat Hormuz, dua kapal yang mengangkut minyak melalui Selat Bab el-Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia melalui Teluk Aden, dipaksa untuk berbalik dan berlayar menuju Terusan Suez setelah Houthis memulai blokade laut terhadap Arab Saudi.
Respons Amerika adalah melanjutkan serangan udara dengan tujuan menargetkan sasaran sipil dan militer, termasuk lokasi yang kemungkinan menyimpan uranium yang diperkaya Iran. Jika Iran terus mengganggu Selat Hormuz, Iran berjanji akan menyerang jembatan, pembangkit listrik, dan sejumlah target sipil lainnya. Tujuan Amerika Serikat tampaknya adalah memaksa Iran menerima “gencatan senjata” baru di tengah kehancuran yang diakibatkan oleh serangan udara.
Harga minyak jenis Brent melampaui kemarin US$ 94,00 per barel. Para analis menilai bahwa jika selat terus terganggu hingga September, harga minyak dapat mencapai lebih dari d US$ 120,00 per barel. Dengan demikian, tingkat suku bunga tetap tertekan akibat meningkatnya kemungkinan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga acuan.
#Fed #Juros