1989 — Benih Pertama Uang Digital DigiCash mencoba menghadirkan konsep uang digital. Teknologinya belum berhasil mengubah dunia, tapi idenya menjadi pondasi.
2008 — Bitcoin Diperkenalkan Seseorang bernama Satoshi Nakamoto merilis white paper Bitcoin. Untuk pertama kalinya muncul gagasan uang digital yang bisa berjalan tanpa bank.
2009 — Bitcoin Mulai Beroperasi Genesis Block berhasil ditambang. Dari sinilah jaringan Bitcoin mulai hidup.
2010 — Pizza Seharga 10.000 BTC Dua loyang pizza dibayar dengan 10.000 Bitcoin. Saat itu terlihat biasa saja, sekarang menjadi salah satu transaksi paling legendaris di dunia kripto.
2013 — Bitcoin Menembus US$1.000 Dunia mulai sadar kalau Bitcoin bukan sekadar eksperimen teknologi.
2015 — Ethereum Hadir Blockchain berkembang lebih jauh lewat smart contract. Bukan cuma soal uang, tapi juga aplikasi dan berbagai inovasi digital.
2017 — Kripto Jadi Perbincangan Dunia Harga Bitcoin mendekati US$20.000. Jutaan orang mulai mengenal aset digital.
2021 — Tahun yang Sulit Dilupakan Bitcoin mencetak rekor baru, NFT meledak, dan industri kripto menjadi pembicaraan global.
2022 — Industri Diuji Runtuhnya FTX mengguncang kepercayaan pasar. Meski begitu, teknologi blockchain tetap berkembang dan industri terus berbenah.
2024 — ETF Bitcoin Disetujui Institusi keuangan besar mulai membuka akses Bitcoin untuk investor yang lebih luas.
2025 — Adopsi Semakin Nyata Semakin banyak perusahaan, bank, dan institusi mulai memasukkan aset digital ke dalam strategi mereka.
2026 — Kripto Masuk Arus Utama Aset digital bukan lagi sekadar alternatif, tetapi mulai menjadi bagian dari ekosistem keuangan global.
2027 — Apa Bab Selanjutnya? Tokenisasi saham dan properti atau inovasi yang bahkan belum kita bayangkan? ⸻ Perjalanan ini menunjukkan satu hal: teknologi akan terus bergerak, dan mereka yang terus belajar biasanya lebih siap menghadapi perubahan.
Bitcoin sempat naik sampai $65.000 setelah data inflasi AS keluar lebih bagus dari perkiraan. Harusnya sih bikin pasar senang. Tapi yang bikin heran, justru banyak investor yang memilih jualan.
Kenapa bisa begitu?
Data dari Glassnode menunjukkan ada hal yang cukup unik.
Di satu sisi, holder lama yang biasanya kuat nahan Bitcoin malah mulai jual meski masih rugi. Ini bahkan jadi aksi jual rugi terbesar sejak akhir 2022.
Di sisi lain, orang-orang yang beli pas harga lagi turun malah memanfaatkan kenaikan ini buat ambil untung. Jadi bukan cuma satu kelompok yang jual, tapi dua-duanya sama-sama keluar.
Nah, ada dua pendapat soal kondisi ini.
🟢 Yang optimis bilang, ini bisa jadi tanda pasar sudah mendekati dasar. Soalnya kalau holder lama sudah menyerah dan tekanan jual mulai habis, biasanya pasar punya peluang buat bangkit lagi.
🔴 Tapi yang pesimis bilang, belum tentu. Menurut mereka, holder jangka pendek masih belum benar-benar panik jualan. Jadi kemungkinan tekanan jual belum selesai.
Ada satu data lagi yang menarik.
Sekarang ada sekitar 10,45 juta BTC yang nilainya masih di bawah harga beli alias masih nyangkut. Ini pertama kalinya di siklus kali ini jumlah BTC yang rugi lebih banyak daripada yang untung.
Selain itu, porsi kerugian yang direalisasikan holder lama juga naik drastis, dari 15% di bulan Februari menjadi 43% sekarang. Dalam sehari bahkan sempat tercatat kerugian yang direalisasikan mencapai US$280 juta.
Kalau menurutmu gimana?
Apakah ini tanda Bitcoin sudah mendekati titik balik, atau justru masih ada potensi turun lagi?
⚠️ Bukan ajakan beli atau jual. Konten ini hanya buat edukasi. Tetap lakukan riset sendiri sebelum mengambil keputusan investasi.
CLARITY Act Masuk Minggu Penentuan? Ini yang Lagi Terjadi di Wall Street
Setahun yang lalu tepat hari ini, DPR Amerika resmi meloloskan CLARITY Act dengan hasil voting 294 banding 134.
Nah, hari ini Kongres menggelar sidang dengar pendapat di Federal Hall, New York, dengan tema “Building the Future of Finance”.
Tapi jangan salah paham dulu. Hari ini bukan voting, jadi belum ada keputusan apakah CLARITY Act bakal disahkan atau tidak.
Tujuan sidang ini lebih ke memberi tekanan ke Senat, karena RUU ini sudah “parkir” di sana sejak 1 Juni. Sementara itu, masa sidang Kongres bakal reses mulai 7 Agustus, jadi waktunya makin mepet.
Supaya bisa lolos, CLARITY Act butuh minimal 60 suara di Senat. Sayangnya, peluang lolos menurut Polymarket sekarang turun jadi sekitar 43%.
Sebenarnya CLARITY Act itu ngatur apa sih?
Singkatnya, RUU ini mau bikin aturan kripto di Amerika jadi lebih jelas.
* Kalau asetnya masuk kategori komoditas, yang ngawas nanti CFTC. * Kalau masuk kategori sekuritas, yang ngawas SEC. * Sementara stablecoin bakal diawasi regulator perbankan.
Kalau aturan ini benar-benar jadi, banyak yang berharap perusahaan dan investor besar bakal lebih berani masuk ke industri kripto karena aturan mainnya sudah jelas.
Tapi kenapa belum disahkan juga?
Masih ada beberapa hal yang belum disepakati, di antaranya:
* Perlindungan hukum untuk developer DeFi. * Boleh atau tidaknya stablecoin memberikan bunga atau imbal hasil. * Aturan soal pejabat pemerintah yang memiliki aset kripto.
Karena itulah pembahasannya masih alot di Senat.
Sekarang pertanyaannya, menurut kalian CLARITY Act bakal berhasil lolos tahun ini, atau bakal kembali tertunda?
人工智能(AI)工業目前正處於狂熱與興奮的頂峯。大型科技公司(Big Tech)競相投入數千億美元資金,打造未來基礎設施。然而,在這種樂觀情緒背後,來自 Tether 首席執行官 Paolo Ardoino 的一則嚴厲警告正悄然傳來。
Ardoino 認爲,如今這些 AI 巨頭所推行的商業模式正走在不可持續(unsustainable)的道路上。爲什麼會這樣?以下是其分析所依據的三個主要因素。
1. 基礎設施成本“燒錢” 要訓練並運行最新一代的大型語言模型(Large Language Models,LLM),需要成千上萬的先進 GPU、巨型數據中心以及巨量的能源消耗。Big Tech 願意“燒錢”,以確保這些基礎設施不會在競爭中落後。問題在於,這些運營成本的膨脹速度遠快於僅由 AI 產品本身所帶來的真實收入增長。
2. 利潤空間縮小,盈利被推遲 與傳統軟件(SaaS)業務擁有極高利潤率不同,AI 是一個“渴求計算能力”的行業。每當用戶輸入指令(prompt),服務提供商就必須支付真實的計算成本。在價格競爭日益激烈、以吸引用戶的情況下,利潤率不斷被壓縮,而回本點(投資回報率,return on investment)卻持續被推遲到遙遠且尚不確定的未來。
3. 來自開源的真實競爭威脅 這是 Ardoino 觀點中最引人關注的一點。儘管封閉式 AI 公司(proprietary)花費數十億美元試圖壟斷技術,但開源社區正以驚人的速度推進。