Core CPI mulai dingin, tapi kenapa The Fed masih hawkish?
Grafik menunjukkan momentum Core CPI AS melandai, dengan laju 3 bulan terakhir jika disetahunkan mendekati 2%. Namun, ini belum berarti target inflasi The Fed sudah tercapai, karena acuan resminya adalah PCE, bukan CPI.
Risalah rapat September menunjukkan The Fed masih mengkhawatirkan tekanan inflasi, termasuk dari harga energi. Konflik Iran dan gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz menjadi salah satu risiko yang bisa membuat suku bunga tetap tinggi atau kembali naik.
Bagi trader kripto, perkembangan kesepakatan Iran, harga minyak, dan data PCE menjadi faktor penting untuk dipantau. Jika tekanan energi mereda, sentimen risk-on berpotensi membaik, meski bukan jaminan Bitcoin langsung reli.
Follow Menjadi Trader untuk update market lainnya.
Pasar mulai antisipasi kenaikan suku bunga The Fed lagi?
Per 24 September 2026, selisih suku bunga efektif The Fed dan yield obligasi AS tenor 2 tahun mencapai -0,93 poin persentase atau -93 bps. Ini berarti yield 2 tahun berada lebih tinggi dibanding suku bunga efektif The Fed.
Spread negatif tersebut mengindikasikan pasar obligasi mulai memperhitungkan suku bunga yang lebih tinggi ke depan. Namun, kondisi ini bukan jaminan The Fed akan kembali melakukan rate hike.
Bagi trader crypto, ekspektasi suku bunga tinggi berpotensi menekan likuiditas dan sentimen aset berisiko seperti Bitcoin. Pergerakan yield AS dan data inflasi menjadi indikator penting untuk dipantau.
Follow Menjadi Trader untuk update market lainnya.