Dulu saya menganggap kampungku terlalu kecil. Dari ujung timur desa ke ujung barat, ada jalan aspal, di kedua sisinya pohon poplar. Kalau berjalan cepat, hanya perlu waktu sebatang rokok saja untuk sampai. Saya bolak-balik di jalan ini selama delapan belas tahun; selalu ingin pergi keluar, dan tidak akan pulang lagi. Waktu itu saya pergi ke kota kecamatan, dulu jalan kaki empat puluh menit di jalan tanah, lalu bergoyang satu jam naik angkutan minibus. Begitu mobil lewat, debunya bisa mengejar hingga setengah li. Saya menutup hidung dan berpikir, tempat yang akan saya datangi nanti tidak akan ada debu. Waktu itu saya pikir jauh itulah yang disebut dunia, sedangkan kampung tidak termasuk. Sekarang saya tinggal di sebuah kota di selatan, setahun dua kali pulang. Satu kali pada musim dingin, tepat pada tanggal dua puluh delapan bulan terakhir penanggalan Tionghoa;