#baby $BABY Di depanmu ada sebuah botol. Jika kamu minum air darinya, botol itu menjadi tempat minum; jika kamu merokok, botol itu menjadi asbak; jika kamu memasang bunga, botol itu menjadi vas. Bahkan botol itu sendiri, sebenarnya tidak berarti apa-apa—itulah yang disebut kekosongan (sunyata). Kamu menggunakannya untuk apa, maka itulah yang jadinya—itulah yang disebut keajaiban/kegunaan (miao yong). Jika kamu memaksa untuk tetap menganggapnya satu hal saja, ia akan tetap menjadi botol—itulah yang disebut kemelekatan (zhu xiang). Karena itu, kamu rela berdebat dengan orang lain, menyanggah demi menyanggah—itulah yang disebut keterikatan pada “aku” (wo ji). Akibatnya, saat kamu terus menyanggah, muncullah emosi dan hinaan—itulah yang disebut penderitaan (fan nao). Pada akhirnya, kamu menjadi tidak suka pada orang itu—itulah yang disebut prasangka (pian jian). Lalu, akhirnya kamu mengerti: dunia ini sebenarnya tidak ada “orang lain”; yang ada hanya dirimu sendiri. Saat kamu hadir, dunia ikut “ada”; saat kamu pergi, dunia pun ikut “lenyap”. Semua orang itu, semua keterikatan itu, semua kemelekatan itu, semua kontrol itu—hanyalah pergulatan batinmu sendiri dengan dirimu. Maka kamu pun kembali mengerti kalimat itu: “Asal mula tak ada apa pun, mana mungkin ada debu yang menempel?”
Saya sedang menjual jas hujan di gurun, dan kamu menelepon saya enam atau tujuh kali sehari menanyakan apa yang saya lakukan. Saya pasti tidak sebaik kamu. Besok saya akan meminjam uang online. Saya akan membuka gym di desa dan menjual kopi. Saya sama sekali tidak akan melakukan hal-hal yang serius. Saya akan berutang beberapa juta di awal, bagaimana? Lagipula, saya akan melakukan apa saja yang merugikan. Tidak mungkin saya bisa makan daging kali ini, jadi apakah kamu tenang? #NEIORO