Emas internasional mengalami penurunan harian terbesar dalam 40 tahun, kepanikan pasar menyebabkan penjualan berantai
Pada dini hari tanggal 31 Januari 2026, pasar logam mulia global mengalami “Jumat Hitam” yang jarang terjadi dalam hampir 40 tahun. Harga emas spot internasional anjlok 12,92% dalam satu hari, melanggar beberapa level penting dari 5400 hingga 4700 dolar AS, dengan titik terendah mencapai 4682 dolar AS/ons, mencatatkan penurunan harian terbesar sejak 1980. Pasar perak juga runtuh, harga perak spot sempat anjlok lebih dari 35%, dengan nilai pasar yang menguap hampir sepertiga dalam satu hari. Guncangan epik ini dengan cepat memicu reaksi berantai di pasar keuangan global. Pemicunya anjloknya harga kali ini adalah meningkatnya ekspektasi hawkish akibat perubahan personel di Fed. Setelah Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi pencalonan Kevin Walsh sebagai Ketua Fed, kekhawatiran pasar terhadap pengetatan moneter meningkat, indeks dolar AS melonjak tajam, dan emas sebagai aset tanpa bunga mengalami penjualan besar-besaran. Sementara itu, sebelumnya harga emas yang naik terlalu cepat dalam jangka pendek telah mengakumulasi keuntungan besar, permintaan untuk koreksi teknis sangat kuat, dan faktor-faktor seperti penyesuaian margin memicu pemanggilan kembali dana berleverase tinggi, menciptakan siklus buruk “perbaikan ekspektasi—pelanggaran teknis—pijakan leverase” yang memperburuk tingkat penurunan.
Dalam sejarah, ada dua kali lonjakan harga emas dan perak yang berakhir dengan cukup tragis.
Yang pertama adalah tahun 1979-1980, di mana emas melonjak dari 200 dolar menjadi 850 dolar dalam setahun, dan perak dari 6 dolar menjadi 50 dolar. Hasilnya, setelah mencapai puncaknya selama dua bulan, harga emas terjun bebas, perak kehilangan dua pertiganya, dan kemudian memasuki periode beku selama 20 tahun.
Yang kedua adalah tahun 2010-2011, di mana harga emas naik dari 1000 dolar menjadi 1921 dolar, dan perak kembali melonjak hingga 50 dolar. Setelah lonjakan tersebut, emas mengalami penurunan sebesar 45%, perak jatuh 70%, dan kemudian kembali stagnan selama bertahun-tahun.
Kedua lonjakan ini terjadi dalam konteks krisis minyak, inflasi parah, atau kelebihan likuiditas setelah krisis keuangan.
Semakin gila kenaikannya, semakin tajam penurunannya, hampir menjadi hukum. Saat ini, siklus ini memiliki naskah baru: bank sentral global menambah kepemilikan, de-dollarization, dan permintaan industri perak dari A mendukung harga. Ada yang merasa kali ini berbeda, dengan dukungan dari bank sentral, penurunan mungkin terbatas.
Namun sejarah berulang kali membuktikan: setelah lonjakan, pasti ada penurunan, dan sering kali cepat dan dalam.
Rata-rata penurunan emas melebihi 30%, sedangkan perak sering kali di atas 50%. Saat ini, pasar sudah keluar dari pola sejarah, tidak ada yang tahu di mana puncaknya. Tetapi satu hal yang sangat jelas: semakin tajam kenaikannya, semakin besar kekuatan penyesuaian di masa depan.
Harga emas spot mengalami penurunan besar sebelum rebound, kembali menembus batas 5400 dolar AS, mengapa terjadi gejolak sebesar ini?
Kemarin, logam mulia tiba-tiba anjlok, harga emas langsung dari 5500 jatuh ke 5200, lalu cepat-cepat naik kembali dan menembus batas 5400. 1️⃣ Mengapa kemarin terjadi 'lonjakan besar'? 📈 Titik waktu yang spesial: Kemarin adalah 'hari penyelesaian' untuk kontrak berjangka, yang setara dengan momen penyelesaian dalam sebuah kompetisi. Tujuan yang jelas: Pihak bullish (yang melihat kenaikan) dengan sengaja mengangkat harga secara signifikan, memaksa 'short' (yang melihat penurunan) ke dalam keadaan terjepit. Banyak posisi short dibiayai dengan pinjaman, lonjakan harga yang drastis akan menyebabkan mereka mengalami kerugian besar, terpaksa 'menjual rugi' dan menutup posisi. Hasil: Penutupan posisi short secara besar-besaran sama dengan pembelian terpaksa, yang pada gilirannya mendorong harga lebih tinggi, membentuk reaksi berantai 'mengguncang posisi short'. Saat penutupan, semua posisi yang ditutup sudah ditutup, dan pasar sementara kehilangan momentum.