Negosiasi yang sedang berlangsung mengenai plafon utang AS telah menjadi perhatian utama investor menjelang tenggat waktu 1 Juni yang semakin dekat.
Imbal hasil di pasar Treasury AS turun pada hari Jumat karena investor menantikan rilis data inflasi utama dan perkembangan terbaru dalam negosiasi plafon utang.
Menurut laporan tersebut, imbal hasil Treasury 10-tahun turun 3 basis poin menjadi 3,829%, sedangkan imbal hasil Treasury 2-tahun turun hampir 6 basis poin menjadi 4,57%. Perlu dicatat bahwa imbal hasil dan harga bergerak berlawanan arah. Basis poin adalah seperseratus poin persentase, sama dengan 0,01%. Oleh karena itu, pemotongan 3 basis poin mewakili penurunan imbal hasil Treasury 10-tahun sebesar 0,03% dari level sebelumnya.
Fluktuasi imbal hasil Treasury memberikan informasi tentang sentimen investor dan dinamika pasar. Ketika imbal hasil turun, hal ini menandakan bahwa investor mencari aset yang lebih aman untuk mengantisipasi berbagai skenario, kenaikan suku bunga, peristiwa geopolitik, atau perubahan ekspektasi kebijakan moneter.
Investor dengan sabar menunggu rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulan April, yang dipandang sebagai ukuran inflasi favorit The Fed. Indeks PCE memberikan wawasan mengenai perubahan harga yang dibayar konsumen untuk barang dan jasa dan berfungsi sebagai indikator penting mengenai tekanan inflasi dalam perekonomian.
Berdasarkan data, PCE meningkat sebesar 4,7% year-on-year, naik dari nilai sebelumnya sebesar 4,6%.

Kinerja Treasury Yield: Dampak Kenaikan Suku Bunga
Federal Reserve memiliki kendali penuh atas kebijakan moneter dan suku bunga suatu negara, yang pada akhirnya mempengaruhi kinerja imbal hasil Treasury. Khususnya, The Fed secara efektif menentukan bagaimana bank saling memberikan pinjaman.
Federal Reserve terus menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada awal Mei, sebuah langkah yang menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi dampaknya. Bank sentral telah menaikkan suku bunga untuk mencegah lonjakan inflasi. Kenaikan suku bunga terbaru ini merupakan yang ke-10 dalam kurun waktu satu tahun, dan merupakan kenaikan suku bunga tercepat yang dilakukan The Fed sejak awal tahun 1980an.
Namun, para pejabat telah mengirimkan sinyal yang bertentangan mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Meskipun beberapa pejabat telah mengisyaratkan preferensi untuk menghentikan sementara kampanye kenaikan suku bunga, sebagian lainnya percaya bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mencapai tingkat inflasi yang diinginkan, yaitu sekitar 2%.
Sentimen seputar pembicaraan plafon utang
Negosiasi yang sedang berlangsung mengenai plafon utang AS telah menjadi perhatian utama investor menjelang tenggat waktu 1 Juni yang semakin dekat, sehingga memicu kekhawatiran mengenai plafon utang AS. Potensi gagal bayar atas kewajiban utang negara. Perunding dari Partai Republik, Patrick McHenry, mengatakan meskipun perundingan menunjukkan tanda-tanda kemajuan, masih ada masalah sensitif yang perlu diselesaikan.
Pada akhirnya, penyelesaian masalah-masalah ini sangat penting untuk menghindari potensi gagal bayar utang AS, yang dapat berdampak luas pada pasar keuangan. Pelaku pasar tetap berharap bahwa resolusi yang berhasil akan mengembalikan kepercayaan pasar dan menunjukkan komitmen pemerintah AS untuk memenuhi kewajiban utangnya.

