MGS5 tamat.

Akhirnya aku menamatkan game lawas yang dirilis lebih dari sepuluh tahun lalu. Rasanya seperti menuntaskan keinginan untuk menamatkan seluruh seri MGS. Setelah bermain selama lima puluh jam sampai akhir, aku sadar memang Hideo Kojima yang paling bisa: pada akhirnya ia merancang sebuah pertukaran identitas yang cerdik.

Keren banget.

Bagian ketiga dalam seri ini mungkin punya latar yang paling mirip film spionase yang seru, dan karakternya juga sangat mendalam. Menurutku, di bagian keempat ia sudah menuntaskan seluruh cerita seri ini; akhir, identitas, dan takdir semua karakternya telah dijelaskan. Sementara MGS5 adalah eksplorasi dari segi gameplay. Aku juga sangat mengagumi Hideo Kojima karena mampu membuat seri yang telah berjalan lebih dari dua puluh tahun ini menghadirkan gameplay yang revolusioner di seri terakhirnya.

Sebelumnya, saat memainkan Death Stranding, aku merasa latar dan ceritanya benar-benar luar biasa. Namun, setelah memainkan MGS5, aku sadar bahwa sebenarnya sudah ada jejak yang bisa ditelusuri. Empat bagian pertama seri ini sudah mengembangkan alur, penceritaan, dan karakter hingga ke tingkat maksimal.

Sementara bagian kelima dan Death Stranding setelahnya menerapkan pendekatan yang lebih canggih: memadukan game dengan cerita, menjadikan gameplay dan pengalaman pemain sebagai bagian dari penceritaan game secara keseluruhan. Ini bukan sekadar bercerita; pengalaman itu sendiri adalah ceritanya. Sangat canggih. Aku tidak akan membahasnya secara terperinci, karena sudah banyak artikel dan diskusi tentangnya di internet.

Cerita MGS5 membahas bagaimana identitas dan bahasa dapat mengubah identitas serta peran seseorang. Awalnya kupikir itu hanya keinginan Skull Face, sang antagonis. Namun, menjelang akhir, ternyata tokoh utama juga mengalami nasib serupa. Itu keren. Tapi aku lebih suka pendekatan Hideo Kojima yang absurd ini: di satu sisi, game ini membahas bagaimana identitas dimanipulasi oleh dominasi bahasa—tentang tentara anak-anak, penyiksaan, AI, dan hal-hal lain yang sangat dingin dan kejam. Di sisi lain, ia langsung bertanya kepadamu: mau pakai helm kepala ayam untuk mengurangi tingkat kesulitan game?

Hanya Hideo Kojima yang bisa menyeimbangkan kedua hal itu dengan begitu baik.