Baru-baru ini saya membaca *The Designer of Books* dan menemukan sebuah gagasan yang sangat menarik: desain sampul buku dan desain produk digital yang kita kerjakan saat ini ternyata menghadapi masalah yang sangat mirip.
Pada awal 2009, desainer Isaac Tobin mengemukakan bahwa seiring makin populernya e-book dan cara orang membeli buku perlahan beralih dari toko buku fisik ke toko online, pendekatan dalam desain sampul juga seharusnya ikut berubah.
Dulu, desainer terutama memikirkan seperti apa tampilan sebuah buku saat dipajang di rak toko buku. Ukuran sampul, jenis huruf, tata letak, dan kertas, semuanya dirancang dengan berpusat pada objek fisik tersebut.
Namun, di era digital, sebuah buku bisa hadir sekaligus di toko buku fisik, hasil pencarian Amazon, perangkat pembaca Kindle, aplikasi ponsel, dan media sosial. Sampul yang sama bisa memiliki ukuran, rasio, dan cara penyajian yang sangat berbeda dalam berbagai konteks.
Karena itu, Tobin berpendapat bahwa desain sampul seharusnya semakin tidak berfokus pada satu sampul saja, dan lebih memperhatikan sistem identitas visual sebuah buku (Visual Identity System). Desainer perlu beralih dari merancang satu objek konkret ke merancang sebuah sistem terbuka.
Hal ini mengingatkan saya pada perubahan dalam desain produk digital.
Dulu, saat membuat situs web, mungkin kita terutama memikirkan seperti apa tampilan sebuah halaman. Namun sekarang, sebuah produk bisa hadir sekaligus di situs web, aplikasi ponsel, aplikasi desktop, notifikasi email, bahkan jam tangan pintar.
Jika setiap antarmuka dirancang secara terpisah, pengalaman produk bisa dengan mudah menjadi terpecah-pecah. Karena itu, kita mulai membangun Design System dengan bahasa desain, komponen, dan aturan yang seragam, agar produk tetap konsisten di berbagai perangkat dan konteks, sekaligus cukup fleksibel.
Logika di balik keduanya sebenarnya sangat mirip: **hal yang perlu dipertimbangkan desainer kini bukan lagi sebatas hasil akhir yang tetap, melainkan sebuah sistem yang mampu beradaptasi dengan berbagai media dan konteks, serta terus berkembang.**
Yang lebih menarik, Tobin sudah melihat tren ini pada 2009. Saat itu, iPad bahkan belum diluncurkan.
Sampul buku dan antarmuka produk digital memang tampak seperti dua bidang desain yang berbeda, tetapi keduanya tengah mengalami perubahan yang serupa.
Pada awal 2009, desainer Isaac Tobin mengemukakan bahwa seiring makin populernya e-book dan cara orang membeli buku perlahan beralih dari toko buku fisik ke toko online, pendekatan dalam desain sampul juga seharusnya ikut berubah.
Dulu, desainer terutama memikirkan seperti apa tampilan sebuah buku saat dipajang di rak toko buku. Ukuran sampul, jenis huruf, tata letak, dan kertas, semuanya dirancang dengan berpusat pada objek fisik tersebut.
Namun, di era digital, sebuah buku bisa hadir sekaligus di toko buku fisik, hasil pencarian Amazon, perangkat pembaca Kindle, aplikasi ponsel, dan media sosial. Sampul yang sama bisa memiliki ukuran, rasio, dan cara penyajian yang sangat berbeda dalam berbagai konteks.
Karena itu, Tobin berpendapat bahwa desain sampul seharusnya semakin tidak berfokus pada satu sampul saja, dan lebih memperhatikan sistem identitas visual sebuah buku (Visual Identity System). Desainer perlu beralih dari merancang satu objek konkret ke merancang sebuah sistem terbuka.
Hal ini mengingatkan saya pada perubahan dalam desain produk digital.
Dulu, saat membuat situs web, mungkin kita terutama memikirkan seperti apa tampilan sebuah halaman. Namun sekarang, sebuah produk bisa hadir sekaligus di situs web, aplikasi ponsel, aplikasi desktop, notifikasi email, bahkan jam tangan pintar.
Jika setiap antarmuka dirancang secara terpisah, pengalaman produk bisa dengan mudah menjadi terpecah-pecah. Karena itu, kita mulai membangun Design System dengan bahasa desain, komponen, dan aturan yang seragam, agar produk tetap konsisten di berbagai perangkat dan konteks, sekaligus cukup fleksibel.
Logika di balik keduanya sebenarnya sangat mirip: **hal yang perlu dipertimbangkan desainer kini bukan lagi sebatas hasil akhir yang tetap, melainkan sebuah sistem yang mampu beradaptasi dengan berbagai media dan konteks, serta terus berkembang.**
Yang lebih menarik, Tobin sudah melihat tren ini pada 2009. Saat itu, iPad bahkan belum diluncurkan.
Sampul buku dan antarmuka produk digital memang tampak seperti dua bidang desain yang berbeda, tetapi keduanya tengah mengalami perubahan yang serupa.
