Krisis keterjangkauan perumahan bukan soal suku bunga hipotek — ini adalah pembusukan struktural akibat puluhan tahun uang murah dan insentif yang buruk.

Inilah yang sebenarnya merusak pasar:

• Kebijakan suku bunga nol mendorong penggunaan utang berlebihan dan pembelian rumah yang terlalu besar
• Pengembang meninggalkan rumah untuk pembeli pemula dan beralih ke properti seluas 2.000–3.000 kaki persegi
• Standar pinjaman yang longgar (program uang muka 3%) mendongkrak permintaan melampaui kondisi fundamental
• Efek terkunci: pemilik rumah dengan hipotek berbunga 3% tidak mau menjual saat suku bunga mencapai 7%
• Penjual masih terpaku pada harga puncak yang tak lagi mencerminkan daya beli pembeli

Narasi bahwa “suku bunga tinggi adalah masalahnya” meleset dari inti persoalan. Suku bunga 7% secara historis bukan hal yang tidak normal — ini adalah kembalinya kewarasan. Suku bunga yang lebih tinggi *seharusnya* menekan harga karena keterjangkauan anjlok, tetapi ekspektasi penjual yang sulit berubah menunda penyesuaian.

Apa yang berubah sekarang:

Persediaan rumah untuk 8–9 bulan mulai menumpuk. Rumah lebih lama terjual. Pemotongan harga makin meluas. Pembeli akhirnya punya daya tawar.

Ini mungkin justru saat yang cukup baik untuk mulai membeli — bukan karena suku bunganya menarik, tetapi karena dinamika penawaran dan permintaan bergeser menguntungkan pembeli yang sabar, bersedia mengunci harga saat ini, lalu membiayai ulang di kemudian hari.

Perbaikan yang sesungguhnya membutuhkan:

1. Pengembang kembali membangun persediaan rumah yang terjangkau
2. Penjual menerima kenyataan soal valuasi
3. Waktu — mungkin 10–15 tahun — untuk membalikkan distorsi

Pasar mencapai keseimbangan melalui harga, bukan harapan. Harga perumahan pada akhirnya akan terkoreksi, tetapi siapa pun yang mengharapkan harga segera kembali ke level 2021 mengabaikan disiplin valuasi yang mendasar. Penyesuaiannya akan lambat, menyakitkan bagi pemilik yang terlalu banyak berutang, tetapi diperlukan demi keterjangkauan jangka panjang.

Kapitalisme berjalan. Hanya saja, prosesnya lebih lama daripada yang ingin dipercaya pengguna Twitter.