Saya selalu merasa bahwa hal yang paling harus dihindari dalam berinvestasi adalah terlalu memuja apa yang disebut “dewa saham” dan “guru”.

Warren Buffett adalah salah satu investor paling sukses sepanjang sejarah, tetapi penilaiannya terhadap teknologi baru juga tidak selalu tepat.

Pada 2011, ia berinvestasi besar-besaran di IBM, yang pada akhirnya terbukti sebagai investasi yang gagal. Pada 2018, Buffett menyebut BTC sebagai “racun tikus kuadrat” (Rat Poison Squared), padahal saat itu harga BTC belum mencapai 10.000 dolar AS. Lebih awal lagi, pada 2013, ketika Charlie Munger pertama kali menyamakan BTC dengan “racun tikus”, harganya baru sedikit di atas 100 dolar AS.

Namun, hal itu tidak mengurangi kehebatan Buffett dan Munger sebagai investor. Buffett tentu saja kemudian membeli saham Apple, yang menjadi salah satu investasinya yang paling sukses.

Bahkan orang yang paling sukses pun memiliki lingkup kompetensi dan titik buta dalam pemahamannya sendiri. Kinerja jangka panjang yang cemerlang tidak berarti setiap penilaian selalu benar; berkali-kali tepat di masa lalu juga bukan berarti seseorang tidak akan membuat kesalahan di masa depan.

Yang benar-benar layak dipelajari adalah cara berpikir para guru investasi, bukan menganggap setiap perkataan mereka sebagai kebenaran mutlak. Dalam berinvestasi, yang terpenting adalah berpikir mandiri dan waspada terhadap pemujaan otoritas.