Januari tahun ini, saat membaca *Slow Productivity* karya Cal Newport, saya menulis catatan di pinggir buku: kita bisa menetapkan jam konsultasi tetap untuk setiap klien.
Februari, saya benar-benar mulai mencobanya. Setiap Kamis pagi, saya menyediakan satu jam. Kalau klien punya pertanyaan soal desain, mereka bisa menghubungi saya pada waktu itu.
Saat itu saya juga menulis catatan lain, yang sampai sekarang belum juga saya pahami: apakah dunia nyata memang menuntut kita untuk menangani banyak tugas sekaligus?
Agustus, setelah sebuah kontrak berakhir, saya baru menyadari sesuatu yang menarik.
Pekerjaan ini hanya menyita 10 jam seminggu, tetapi rasanya menghabiskan setidaknya separuh kapasitas pikiran saya. Begitu kontraknya berakhir, tiba-tiba ada ruang kosong yang sangat luas di kepala saya.
Jadi sekarang saya merasa, untuk mengukur seberapa berat suatu pekerjaan, kita tidak bisa hanya melihat berapa banyak waktu yang dihabiskannya. Kita juga perlu melihat seberapa besar ruang yang ditempatinya di kepala kita sehari-hari.
Februari, saya benar-benar mulai mencobanya. Setiap Kamis pagi, saya menyediakan satu jam. Kalau klien punya pertanyaan soal desain, mereka bisa menghubungi saya pada waktu itu.
Saat itu saya juga menulis catatan lain, yang sampai sekarang belum juga saya pahami: apakah dunia nyata memang menuntut kita untuk menangani banyak tugas sekaligus?
Agustus, setelah sebuah kontrak berakhir, saya baru menyadari sesuatu yang menarik.
Pekerjaan ini hanya menyita 10 jam seminggu, tetapi rasanya menghabiskan setidaknya separuh kapasitas pikiran saya. Begitu kontraknya berakhir, tiba-tiba ada ruang kosong yang sangat luas di kepala saya.
Jadi sekarang saya merasa, untuk mengukur seberapa berat suatu pekerjaan, kita tidak bisa hanya melihat berapa banyak waktu yang dihabiskannya. Kita juga perlu melihat seberapa besar ruang yang ditempatinya di kepala kita sehari-hari.