Pembelian kembali saham oleh perusahaan—yang secara historis menjadi sumber permintaan ekuitas terbesar—mulai melambat. Dampaknya lebih besar daripada yang disadari kebanyakan orang.

Ketika perusahaan berhenti membeli kembali sahamnya sendiri, hilanglah permintaan beli yang selama ini menopang valuasi saat laba meleset dari perkiraan, ketidakpastian makro meningkat, dan valuasi sudah terlalu tinggi. Pembelian kembali saham tidak dipengaruhi sentimen atau faktor teknikal. Permintaannya bersifat mekanis dan dapat diprediksi.

Kini, permintaan itu memudar. Entah karena suku bunga yang naik membuat pembelian kembali saham dengan pendanaan utang menjadi kurang menarik, arus kas yang lebih ketat, atau tim manajemen yang berhati-hati agar tidak membayar terlalu mahal pada harga saat ini—dampaknya sama: tekanan beli berkurang.

Secara teknikal, kita berada di titik penentuan. Level-level support yang bertahan selama koreksi sebelumnya kini kembali diuji. Jika aktivitas pembelian kembali saham terus menurun sementara arus dari investor ritel dan institusi tetap beragam, level-level tersebut mungkin kali ini tidak akan bertahan.

Pekan mendatang akan memperjelas apakah ini jeda sementara atau awal dari koreksi yang lebih serius. Perhatikan laporan arus kas perusahaan, pengumuman otorisasi pembelian kembali saham, serta apakah tim manajemen benar-benar melaksanakan otorisasi tersebut.

Pasar menyukai era pembelian kembali saham. Kini pertanyaannya: apa yang terjadi ketika pembeli terbesar angkat kaki?