US$415 ribu per bulan, total sekitar US$6,3 juta—seorang senator meminta Tether menyerahkan alamat dompet 🦖
📣 盘面异动群里喊
Pada 22 Oktober, Senator AS Richard Blumenthal mengirim surat kepada CEO Tether Paolo Ardoino untuk memulai penyelidikan terkait pembayaran sekitar US$6,3 juta oleh penerbit stablecoin tersebut kepada firma konsultan Nxum. Ia meminta Tether menyerahkan kontrak, catatan pembayaran kripto, alamat dompet, dan komunikasi terkait. Batas waktu jawabannya ditetapkan pada 6 November.
Nxum didirikan bersama oleh Bo Hines, mantan direktur eksekutif Dewan Penasihat Aset Digital Gedung Putih. Ia memiliki sekitar sepertiga saham perusahaan. Di sinilah letak persoalan utamanya: pada periode yang sama, ia ikut merumuskan aturan aset digital di pemerintahan, sekaligus memiliki saham di perusahaan yang menerima bayaran konsultasi dari penerbit stablecoin. Senator itu juga menyebut bahwa selama menjabat, Hines tetap berkoordinasi dengan Nxum melalui aplikasi komunikasi terenkripsi.
Alur dananya juga cukup jelas. Sejak Mei 2025, Tether membayar Nxum US$415 ribu per bulan untuk layanan komunikasi strategis, lobi, dan hubungan masyarakat. Senator itu juga mempertanyakan apakah Tether lebih dulu mengirim kripto melalui perusahaan pemasaran Notorious, lalu dana tersebut dibagikan oleh para pemegang saham Nxum. Setelah Agustus 2025, Tether beralih menandatangani kontrak langsung dengan Nxum dan mempekerjakan Bo Hines untuk memimpin bisnisnya yang baru dibentuk di AS ⚖️
Inti persoalan ini sebenarnya bukan US$6,3 juta. Bagi raksasa stablecoin, angka itu tidak terlalu besar. Sinyal yang sesungguhnya ada pada tiga kata itu: alamat dompet. Dulu, regulator meminta penerbit stablecoin menunjukkan bukti cadangan dan laporan audit. Kali ini, yang diminta adalah jalur on-chain yang dilalui dana. Jika preseden ini terbentuk, semua penerbit harus menjelaskan setiap pembayaran keluar dengan standar yang sama seperti bank. Siapa yang punya akses di Washington dan berapa biaya akses itu, semuanya bisa menjadi dokumen publik.
Dalam jangka pendek, hal ini hampir tidak berdampak pada patokan nilai maupun likuiditas USDT. Sepucuk surat dari Kongres tidak akan mengubah kebutuhan akan penyelesaian transaksi menggunakan stablecoin. Dalam jangka menengah, biaya kepatuhan stablecoin akan meluas dari sisi cadangan ke ranah politik. Semakin besar penerbitnya, semakin sulit menyembunyikan pengeluaran lobi dalam kontrak konsultasi. Akumulasi modal yang dilakukan lewat pembayaran kripto justru meninggalkan jejak yang paling sulit dihapus 💥
Yuk, bahas di kolom komentar: menurutmu, apakah wajar perusahaan stablecoin mengeluarkan banyak uang untuk humas di Washington, atau mereka harus diwajibkan mengungkap setiap transaksi satu per satu? 💬
Klik foto profil untuk menonton siaran langsung
Setiap hari, kami mengajakmu mengikuti isu-isu hangat di pasar kripto. Bukan hanya melihat apa yang terjadi, tetapi juga memahami logika dan peluang di baliknya 👀🚀
📣 盘面异动群里喊
Pada 22 Oktober, Senator AS Richard Blumenthal mengirim surat kepada CEO Tether Paolo Ardoino untuk memulai penyelidikan terkait pembayaran sekitar US$6,3 juta oleh penerbit stablecoin tersebut kepada firma konsultan Nxum. Ia meminta Tether menyerahkan kontrak, catatan pembayaran kripto, alamat dompet, dan komunikasi terkait. Batas waktu jawabannya ditetapkan pada 6 November.
Nxum didirikan bersama oleh Bo Hines, mantan direktur eksekutif Dewan Penasihat Aset Digital Gedung Putih. Ia memiliki sekitar sepertiga saham perusahaan. Di sinilah letak persoalan utamanya: pada periode yang sama, ia ikut merumuskan aturan aset digital di pemerintahan, sekaligus memiliki saham di perusahaan yang menerima bayaran konsultasi dari penerbit stablecoin. Senator itu juga menyebut bahwa selama menjabat, Hines tetap berkoordinasi dengan Nxum melalui aplikasi komunikasi terenkripsi.
Alur dananya juga cukup jelas. Sejak Mei 2025, Tether membayar Nxum US$415 ribu per bulan untuk layanan komunikasi strategis, lobi, dan hubungan masyarakat. Senator itu juga mempertanyakan apakah Tether lebih dulu mengirim kripto melalui perusahaan pemasaran Notorious, lalu dana tersebut dibagikan oleh para pemegang saham Nxum. Setelah Agustus 2025, Tether beralih menandatangani kontrak langsung dengan Nxum dan mempekerjakan Bo Hines untuk memimpin bisnisnya yang baru dibentuk di AS ⚖️
Inti persoalan ini sebenarnya bukan US$6,3 juta. Bagi raksasa stablecoin, angka itu tidak terlalu besar. Sinyal yang sesungguhnya ada pada tiga kata itu: alamat dompet. Dulu, regulator meminta penerbit stablecoin menunjukkan bukti cadangan dan laporan audit. Kali ini, yang diminta adalah jalur on-chain yang dilalui dana. Jika preseden ini terbentuk, semua penerbit harus menjelaskan setiap pembayaran keluar dengan standar yang sama seperti bank. Siapa yang punya akses di Washington dan berapa biaya akses itu, semuanya bisa menjadi dokumen publik.
Dalam jangka pendek, hal ini hampir tidak berdampak pada patokan nilai maupun likuiditas USDT. Sepucuk surat dari Kongres tidak akan mengubah kebutuhan akan penyelesaian transaksi menggunakan stablecoin. Dalam jangka menengah, biaya kepatuhan stablecoin akan meluas dari sisi cadangan ke ranah politik. Semakin besar penerbitnya, semakin sulit menyembunyikan pengeluaran lobi dalam kontrak konsultasi. Akumulasi modal yang dilakukan lewat pembayaran kripto justru meninggalkan jejak yang paling sulit dihapus 💥
Yuk, bahas di kolom komentar: menurutmu, apakah wajar perusahaan stablecoin mengeluarkan banyak uang untuk humas di Washington, atau mereka harus diwajibkan mengungkap setiap transaksi satu per satu? 💬
Klik foto profil untuk menonton siaran langsung
Setiap hari, kami mengajakmu mengikuti isu-isu hangat di pasar kripto. Bukan hanya melihat apa yang terjadi, tetapi juga memahami logika dan peluang di baliknya 👀🚀