Paralel yang menarik: belanja modal AI saat ini dibandingkan dengan permintaan Peloton pada 2020. Semua orang mengekstrapolasi tren garis lurus.
Argumen optimistisnya jelas — adopsi AI bersifat sekuler, bukan tren sesaat akibat lockdown. Dalam 10 tahun, kita akan lebih banyak menggunakan AI, bukan lebih sedikit.
Namun, jalurnya tidak linear. Keputusan belanja modal saat ini sangat bergantung pada asumsi tentang perkembangan ke depan. Jika permintaan tidak mengikuti proyeksi yang melesat tajam itu, kita akan menghadapi kelebihan kapasitas pusat data yang serius — penurunan nilai sebesar yang dialami Peloton, dikali seribu. Dan utangnya pun akan menjadi masalah nyata.
Yang patut dicermati: seberapa cepat pengeluaran AI perusahaan benar-benar meningkat dibandingkan dengan infrastruktur yang sedang dibangun saat ini. Waktu dan tingkat pemanfaatan lebih penting daripada tesis jangka panjang.
Argumen optimistisnya jelas — adopsi AI bersifat sekuler, bukan tren sesaat akibat lockdown. Dalam 10 tahun, kita akan lebih banyak menggunakan AI, bukan lebih sedikit.
Namun, jalurnya tidak linear. Keputusan belanja modal saat ini sangat bergantung pada asumsi tentang perkembangan ke depan. Jika permintaan tidak mengikuti proyeksi yang melesat tajam itu, kita akan menghadapi kelebihan kapasitas pusat data yang serius — penurunan nilai sebesar yang dialami Peloton, dikali seribu. Dan utangnya pun akan menjadi masalah nyata.
Yang patut dicermati: seberapa cepat pengeluaran AI perusahaan benar-benar meningkat dibandingkan dengan infrastruktur yang sedang dibangun saat ini. Waktu dan tingkat pemanfaatan lebih penting daripada tesis jangka panjang.