Kita mungkin mengabaikan pentingnya menyaring dan memilah informasi di era ini.

Manusia tidak mampu menerima semua informasi. Informasi di dunia nyata nyaris tak terbatas. Suara, gambar, dan aroma yang membanjiri indra kita setiap saat jumlahnya sudah sangat besar, bahkan jika ditelaah satu per satu.

Karena itu, manusia secara alami menyaring informasi. Di tengah rerumputan, kita mengabaikan puluhan ribu helai rumput hijau dan hanya memperhatikan sekuntum bunga merah karena sinyal itu lebih penting. Algoritma semacam ini telah tertanam di dalam DNA kita melalui proses alam.

Dalam kehidupan yang kita jalani, penyaringan informasi juga penting. Dulu, saat bekerja sebagai desainer, ada satu hal yang paling saya takuti sekaligus sukai—atau lebih tepatnya, hal yang paling membuat saya pusing tetapi juga paling memberi kepuasan: mempresentasikan proposal proyek. Saya memiliki begitu banyak informasi, lalu ingin menyampaikan semuanya sekaligus kepada audiens—rekan kerja yang hadir dalam rapat, para manajer dari departemen lain, dan penanggung jawab lainnya. Namun, upaya untuk menyampaikan semua informasi itu biasanya tidak efektif.

Baru kemudian saya belajar bahwa penyampaian informasi juga perlu dirancang. Kita harus mempertimbangkan audiens, tujuan semua orang, dan informasi yang telah kita kuasai untuk menentukan mana yang penting, informasi apa yang wajib disampaikan, informasi mana yang mungkin terlalu kering, serta bagaimana menyelipkan variasi di antaranya.

Di era AI, menyaring dan memilah informasi mungkin akan menjadi semakin penting, bahkan bisa jadi sangat menentukan.