Dalam satu setengah tahun, nilainya naik dari US$4 miliar menjadi US$10 miliar. Imbal hasil yang dipromosikan berkisar 3% hingga 10%. Namun, yang benar-benar menentukan apakah modalmu bisa kembali adalah tumpukan agunan dalam kontrak yang tak dipahami siapa pun 🦖
🚨 行情变了群里说
Financial Times mengungkap pada 19 Oktober bahwa simpanan di vault pinjaman kripto telah menembus US$10 miliar. Pada awal 2025, angkanya masih hanya US$4 miliar. Dalam waktu kurang dari dua tahun, nilainya meningkat 1,5 kali lipat. Produk semacam ini berjalan di atas smart contract DeFi. Setiap vault memiliki pengelola yang bertugas memilih strategi pinjaman, menetapkan batas risiko, dan memungut biaya pengelolaan—perannya nyaris sama dengan manajer dana tradisional.
Sekilas, tawarannya sangat menggiurkan. Strategi biasa menawarkan imbal hasil tahunan 3% hingga 10%, sedangkan strategi agresif bisa menjanjikan lebih dari 20%. Yang disetorkan adalah stablecoin dan koin utama, sementara yang diterima hanya sederet angka imbal hasil. Namun, agunannya bisa berupa token yang sangat tidak likuid, stablecoin yang didukung aset kripto, atau kredit privat yang ditokenisasi. Semua aset ini bisa dinilai saat pasar sedang bagus. Begitu harga jatuh, barulah diketahui bahwa tak ada pembeli yang mau menampungnya 💥
Yang lebih merepotkan adalah likuidasi otomatis. Saat harga jatuh melewati ambang batas, kontrak akan menutup posisi secara mekanis. Puluhan vault menggunakan oracle yang sama dan memantau jenis agunan yang sama, sehingga likuidasi bisa terpicu pada saat bersamaan. Tekanan jual pun memicu tekanan jual lebih lanjut. Ditambah lagi dengan celah kode dan mekanisme penetapan harga yang gagal berfungsi, skenario likuidasi berantai pada 2022 hanya kembali terjadi dengan kemasan yang lebih canggih.
Yang masuk ke sini juga bukan investor ritel. Perusahaan teknologi finansial, perusahaan perbendaharaan aset digital, dan hedge fund justru menjadi deposan utama. Misalnya, platform pinjaman Bitcoin Two Prime meluncurkan sebuah vault di Pareto pada September, dengan target imbal hasil tahunan hanya 1,5% hingga 2%. Setoran minimum adalah 5 WBTC, dan Two Prime juga menyiapkan sekitar US$10 juta dana sendiri sebagai penyangga kerugian pertama. Imbal hasil yang ditekan serendah ini menunjukkan bahwa selisih bunga dari pinjaman murni antarinstitusi sudah sangat tipis. Jika ingin imbal hasil lebih tinggi, satu-satunya cara adalah beralih ke agunan yang lebih berisiko.
Regulator sudah di depan pintu. SEC bertanya apakah vault yang memegang sekuritas dapat dianggap sebagai penerbitan sekuritas. Sementara itu, regulator Eropa mengusulkan agar perantara yang menyediakan akses ke DeFi turut diawasi. Pada dasarnya, kedua pihak mengajukan pertanyaan yang sama: siapa yang bertanggung jawab atas aset dasar yang tak dipahami orang-orang? ⚖️
Menurut saya, yang dijual vault bukanlah imbal hasil, melainkan alih daya manajemen risiko. Kamu menyerahkan koinmu kepada orang asing dan membiarkannya memutuskan kepada siapa koin itu dipinjamkan, apa agunannya, dan kapan posisi dilikuidasi. Memang, semua transaksi di blockchain transparan, tetapi transparan bukan berarti mudah dipahami. Saat likuiditas benar-benar terkuras, curator yang sudah mengantongi biaya pengelolaan bisa langsung pergi. Yang tertinggal di depan pintu pada akhirnya adalah para deposan.
Apakah kamu rela menaruh koinmu di vault dengan agunan yang tak kamu pahami demi imbal hasil tahunan 3% hingga 10%? Yuk, diskusikan di kolom komentar.
Ketuk foto profil untuk menonton siaran langsung.
Setiap hari, kami membawamu mengikuti topik hangat di pasar kripto. Bukan hanya melihat apa yang terjadi dalam berita, tetapi juga memahami logika dan peluang di baliknya 👀🚀
🚨 行情变了群里说
Financial Times mengungkap pada 19 Oktober bahwa simpanan di vault pinjaman kripto telah menembus US$10 miliar. Pada awal 2025, angkanya masih hanya US$4 miliar. Dalam waktu kurang dari dua tahun, nilainya meningkat 1,5 kali lipat. Produk semacam ini berjalan di atas smart contract DeFi. Setiap vault memiliki pengelola yang bertugas memilih strategi pinjaman, menetapkan batas risiko, dan memungut biaya pengelolaan—perannya nyaris sama dengan manajer dana tradisional.
Sekilas, tawarannya sangat menggiurkan. Strategi biasa menawarkan imbal hasil tahunan 3% hingga 10%, sedangkan strategi agresif bisa menjanjikan lebih dari 20%. Yang disetorkan adalah stablecoin dan koin utama, sementara yang diterima hanya sederet angka imbal hasil. Namun, agunannya bisa berupa token yang sangat tidak likuid, stablecoin yang didukung aset kripto, atau kredit privat yang ditokenisasi. Semua aset ini bisa dinilai saat pasar sedang bagus. Begitu harga jatuh, barulah diketahui bahwa tak ada pembeli yang mau menampungnya 💥
Yang lebih merepotkan adalah likuidasi otomatis. Saat harga jatuh melewati ambang batas, kontrak akan menutup posisi secara mekanis. Puluhan vault menggunakan oracle yang sama dan memantau jenis agunan yang sama, sehingga likuidasi bisa terpicu pada saat bersamaan. Tekanan jual pun memicu tekanan jual lebih lanjut. Ditambah lagi dengan celah kode dan mekanisme penetapan harga yang gagal berfungsi, skenario likuidasi berantai pada 2022 hanya kembali terjadi dengan kemasan yang lebih canggih.
Yang masuk ke sini juga bukan investor ritel. Perusahaan teknologi finansial, perusahaan perbendaharaan aset digital, dan hedge fund justru menjadi deposan utama. Misalnya, platform pinjaman Bitcoin Two Prime meluncurkan sebuah vault di Pareto pada September, dengan target imbal hasil tahunan hanya 1,5% hingga 2%. Setoran minimum adalah 5 WBTC, dan Two Prime juga menyiapkan sekitar US$10 juta dana sendiri sebagai penyangga kerugian pertama. Imbal hasil yang ditekan serendah ini menunjukkan bahwa selisih bunga dari pinjaman murni antarinstitusi sudah sangat tipis. Jika ingin imbal hasil lebih tinggi, satu-satunya cara adalah beralih ke agunan yang lebih berisiko.
Regulator sudah di depan pintu. SEC bertanya apakah vault yang memegang sekuritas dapat dianggap sebagai penerbitan sekuritas. Sementara itu, regulator Eropa mengusulkan agar perantara yang menyediakan akses ke DeFi turut diawasi. Pada dasarnya, kedua pihak mengajukan pertanyaan yang sama: siapa yang bertanggung jawab atas aset dasar yang tak dipahami orang-orang? ⚖️
Menurut saya, yang dijual vault bukanlah imbal hasil, melainkan alih daya manajemen risiko. Kamu menyerahkan koinmu kepada orang asing dan membiarkannya memutuskan kepada siapa koin itu dipinjamkan, apa agunannya, dan kapan posisi dilikuidasi. Memang, semua transaksi di blockchain transparan, tetapi transparan bukan berarti mudah dipahami. Saat likuiditas benar-benar terkuras, curator yang sudah mengantongi biaya pengelolaan bisa langsung pergi. Yang tertinggal di depan pintu pada akhirnya adalah para deposan.
Apakah kamu rela menaruh koinmu di vault dengan agunan yang tak kamu pahami demi imbal hasil tahunan 3% hingga 10%? Yuk, diskusikan di kolom komentar.
Ketuk foto profil untuk menonton siaran langsung.
Setiap hari, kami membawamu mengikuti topik hangat di pasar kripto. Bukan hanya melihat apa yang terjadi dalam berita, tetapi juga memahami logika dan peluang di baliknya 👀🚀