Akhir pekan ini sama sekali tidak tenang. Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali jika militer AS angkat kaki dari Timur Tengah. Mesir juga mengirim pasukan ke medan konflik, membuat rantai pasokan minyak berada dalam ketegangan. Bank-bank sentral di berbagai negara memborong 63 ton emas pada September, tertinggi sejak akhir 2024. Para petinggi memilih dengan uang sungguhan—jauh lebih jujur daripada indikator apa pun.

Situasi di bursa saham AS lebih buruk lagi. Nasdaq 100 turun 5,5% pekan ini, menjadikannya pekan terburuk sejak April 2025. Goldman Sachs bahkan langsung menyebut ada tanda-tanda kapitulasi dalam perdagangan AI. Selera risiko terpukul telak, jadi saya sudah siap secara mental kalau $BTC ikut terseret turun.

Namun, ada kabar baik dari sisi lain: Trump tiba-tiba menyebut Hyperliquid dan mengatakan Ketua SEC sedang mendorong agar $HYPE diperkenalkan di AS. Goldman Sachs, Wells Fargo, dan Morgan Stanley juga menyatakan bahwa tokenisasi adalah peluang pertumbuhan, bukan ancaman. Volume perdagangan kontrak perpetual RWA di $INJ telah menembus $1,1 miliar sepanjang tahun ini. Sikap Wall Street terhadap RWA diam-diam mulai berubah—ini lebih konkret daripada sekadar slogan.

Penilaian saya: situasi makro sedang bergolak, tetapi narasi RWA dan derivatif on-chain justru makin tangguh meski harga terus turun. Pekan depan, pantau dulu situasi Iran dan sentimen saat pasar dibuka pada Senin. Jangan buru-buru membeli saat harga turun; yang penting bertahan hidup dulu. NFA DYOR

#BTC #HYPE #RWA #黄金 #Kripto