📰 Bagian paling kejam dari penipuan kripto ini bukanlah menipu korban sekali, melainkan menunggu sampai korban sadar bahwa uangnya tidak bisa ditarik, lalu kembali menipu mereka untuk kedua kalinya.
Para penipu awalnya merekrut investor melalui iklan berbahasa Rusia di Facebook. Mereka menyamar sebagai penasihat investasi, mengarahkan orang ke platform phishing, lalu membujuk mereka membeli aset kripto dan mentransfernya ke dompet tertentu. Saat korban mengajukan penarikan, ada yang akunnya dikunci, sementara yang lain diminta membayar biaya administrasi atau pajak tambahan.
🔥 Beberapa minggu kemudian, kelompok yang sama kembali menyamar sebagai lembaga pemulihan aset. Dengan menggunakan data korban yang diperoleh dari penipuan pertama, mereka menghubungi secara langsung orang-orang yang sudah kehilangan uang dan mengaku bisa membantu memulihkan aset mereka. Sejujurnya, ketika seseorang sangat ingin mendapatkan kembali tabungannya, “bantuan” seperti ini mudah dianggap sebagai harapan terakhir.
💡 Jaksa Brooklyn dan FBI melancarkan operasi, menutup 112 server dan 241 situs web, dengan tujuan memutus akses ke data backend, perangkat lunak penipuan, dan basis data korban sekaligus. Penyelidikan ini berlangsung selama tiga tahun, tetapi dana hasil kejahatan yang berhasil disita hanya sekitar 300 ribu dolar AS—jauh lebih kecil dibandingkan nilai kasus yang diperkirakan jaksa mencapai puluhan juta dolar.

👀 Pihak berwenang belum mengungkapkan berapa banyak orang yang menjadi korban penipuan untuk kedua kalinya, dan juga belum menjelaskan apakah para korban bisa mendapatkan ganti rugi. Menutup situs web adalah satu hal, tetapi memulihkan uang adalah hal lain; data yang ditinggalkan para penipu jelas juga membuat penipuan berulang semacam ini lebih sulit dicegah.
🤔 Jika sudah tertipu, lalu seseorang menghubungi Anda tanpa diminta dan mengaku bisa memulihkan aset kripto, apa yang akan Anda lakukan terlebih dahulu untuk memverifikasi identitasnya?
#加密诈骗 #资产追回骗局 #区块链安全 #RisikoInvestasi