Hari ini 🇮🇩 pasar saham Indonesia anjlok lebih dari 11% dalam sehari, mencatat penurunan harian terburuk sejak krisis keuangan Asia 1998.
BCA ($BBCA), bank swasta terbesar di Indonesia yang posisinya kurang lebih setara dengan DBS di Singapura, hari ini langsung menyentuh batas penurunan harian, merosot 14,81%. Dibandingkan dengan puncak historisnya, nilainya hampir tinggal separuh. Bahkan saham blue chip berkualitas tinggi seperti BCA pun dihantam sedemikian parah.
Sejak awal 2026, pasar saham Indonesia telah merosot hampir 40%, menjadikannya salah satu pasar saham dengan kinerja terburuk di dunia.
Pemicu langsung hari ini adalah pertimbangan MSCI untuk menurunkan status Indonesia dari Emerging Market (pasar berkembang) langsung menjadi Standalone Market (pasar mandiri). UBS memperkirakan bahwa jika penurunan status ini resmi diberlakukan, arus keluar dana bisa mencapai US$19 miliar.
Masalah yang lebih mendasar adalah semakin berkurangnya kepercayaan modal internasional terhadap kebijakan ekonomi Presiden Prabowo.
Sejak mantan jenderal ini menjabat pada 2024, meski ia terus menekankan pentingnya menarik investasi, arah kebijakan ekonomi dalam praktiknya semakin condong pada kendali negara:
Program makan gratis berskala besar, subsidi fiskal yang terus membengkak, Danantara—dana kekayaan negara yang mengelola aset BUMN dalam jumlah besar—serta perubahan kebijakan yang kerap terjadi dan pergantian pejabat ekonomi yang sering, semuanya membuat investor asing meragukan campur tangan pemerintah, disiplin fiskal, dan transparansi kebijakan.
Moody’s dan Fitch telah menurunkan prospek peringkat kredit pemerintah Indonesia menjadi negatif.
Ada teman yang bertanya, apakah sekarang saat yang tepat untuk berlibur ke Bali sekaligus memborong saham Indonesia yang sedang murah? Menurut teman saya yang tinggal di Bali, sekarang di sana sedang terjadi kelangkaan bensin dan banyak sepeda motor tidak bisa mengisi bahan bakar.
Bagi teman-teman yang ingin memborong saham saat harga sedang turun, harap berhati-hati sebelum berangkat 😅
BCA ($BBCA), bank swasta terbesar di Indonesia yang posisinya kurang lebih setara dengan DBS di Singapura, hari ini langsung menyentuh batas penurunan harian, merosot 14,81%. Dibandingkan dengan puncak historisnya, nilainya hampir tinggal separuh. Bahkan saham blue chip berkualitas tinggi seperti BCA pun dihantam sedemikian parah.
Sejak awal 2026, pasar saham Indonesia telah merosot hampir 40%, menjadikannya salah satu pasar saham dengan kinerja terburuk di dunia.
Pemicu langsung hari ini adalah pertimbangan MSCI untuk menurunkan status Indonesia dari Emerging Market (pasar berkembang) langsung menjadi Standalone Market (pasar mandiri). UBS memperkirakan bahwa jika penurunan status ini resmi diberlakukan, arus keluar dana bisa mencapai US$19 miliar.
Masalah yang lebih mendasar adalah semakin berkurangnya kepercayaan modal internasional terhadap kebijakan ekonomi Presiden Prabowo.
Sejak mantan jenderal ini menjabat pada 2024, meski ia terus menekankan pentingnya menarik investasi, arah kebijakan ekonomi dalam praktiknya semakin condong pada kendali negara:
Program makan gratis berskala besar, subsidi fiskal yang terus membengkak, Danantara—dana kekayaan negara yang mengelola aset BUMN dalam jumlah besar—serta perubahan kebijakan yang kerap terjadi dan pergantian pejabat ekonomi yang sering, semuanya membuat investor asing meragukan campur tangan pemerintah, disiplin fiskal, dan transparansi kebijakan.
Moody’s dan Fitch telah menurunkan prospek peringkat kredit pemerintah Indonesia menjadi negatif.
Ada teman yang bertanya, apakah sekarang saat yang tepat untuk berlibur ke Bali sekaligus memborong saham Indonesia yang sedang murah? Menurut teman saya yang tinggal di Bali, sekarang di sana sedang terjadi kelangkaan bensin dan banyak sepeda motor tidak bisa mengisi bahan bakar.
Bagi teman-teman yang ingin memborong saham saat harga sedang turun, harap berhati-hati sebelum berangkat 😅

