Sebuah pemikiran, entah benar atau tidak.

Pengguna WeChat Channels di Tiongkok, atau lebih tepatnya sebagian besar pengguna yang suka menonton video pendek, mungkin lebih mudah menerima konten yang dihasilkan AI. Pertama, mereka tidak perlu memeriksa isi kontennya, juga tidak perlu banyak berpikir, menilai, ataupun belajar. Selain itu, video yang dihasilkan AI dan terutama dirancang untuk membangkitkan emosi ini lebih mudah menyentuh mereka—misalnya tentang orang paruh baya yang butuh waktu menyendiri, perempuan paruh baya yang cemas akan penampilan yang menua, juga soal mencari uang dan kasih sayang keluarga.

Kedua, banyak pengguna di Tiongkok sudah terbiasa memakai filter kecantikan. Sering kali saya merasa filter seperti ini menghilangkan kesan nyata seseorang. Ekspresi wajah, tatapan mata yang begitu halus, dan sebagainya, semuanya lenyap. Yang tersisa hanya topeng sempurna yang menempel pada video bergerak. Kalau sudah terlalu sering melihat hal seperti ini, keberadaan AI jadi tidak terlalu penting—toh yang dilihat sama-sama topeng. Apa bedanya topeng yang dikenakan manusia dengan yang dikenakan AI?