Pernah digugat regulator AS dengan tuntutan lebih dari US$1 miliar, tetapi menang di pengadilan. Dua tahun kemudian, ia diborgol di Istanbul 🦖

📣 盘面异动群里喊

Pendiri Hex, Richard Heart, yang bernama asli Richard James Schueler, dibawa oleh polisi setempat dan badan intelijen nasional Turki di Istanbul pada Rabu pagi. Operasi tersebut dilakukan berdasarkan red notice yang diterbitkan Interpol. Ia dan istrinya ditahan. Polisi sebelumnya telah mengawasi kediamannya di distrik Beşiktaş selama beberapa waktu.

Barang-barang yang disita di lokasi cukup menjelaskan situasinya: belasan ponsel, sejumlah laptop, kartu grafis, senapan, pistol, dua drone, gelang emas, serta uang tunai dalam berbagai mata uang dalam jumlah besar. Informasi ini berasal dari media Turki Daily Sabah, yang mengutip kantor berita lokal IHA ⚖️

Kalau melihat rentang waktunya, kisah ini makin menarik. Pada 2018, ia meluncurkan Hex, yang dipromosikan sebagai sertifikat deposito berbasis blockchain dengan imbal hasil tinggi. Pada 2023, Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) menuduhnya dan tiga entitas yang dikendalikannya—Hex, PulseChain, dan PulseX—menjual sekuritas aset kripto tanpa registrasi, dengan menghimpun dana lebih dari US$1 miliar. SEC juga menuduhnya menggelapkan setidaknya US$12 juta untuk membeli mobil mewah, jam tangan mahal, dan sebuah berlian hitam 555 karat bernama The Enigma.

Namun, pada Februari 2025, hakim federal menolak gugatan tersebut dengan alasan tidak memiliki yurisdiksi, dan menyatakan bahwa aktivitasnya tidak secara jelas menyasar investor AS. SEC juga tidak mengubah gugatannya sebelum tenggat pada April, sehingga kasus itu pun berakhir. Pengacaranya saat itu menyebutnya sebagai kemenangan mutlak 💥

Jadi, kunci sebenarnya kali ini bukanlah US$1 miliar itu, melainkan instrumen penindakannya yang berubah. Red notice tersebut diterbitkan pada 2024 atas permintaan Finlandia. Hanya ada satu dakwaan yang tercantum di dalamnya: penipuan pajak yang diperberat. Finlandia sebelumnya juga pernah meminta bantuan untuk mencarinya terkait dugaan penyerangan. Sementara itu, media Turki mengaitkan red notice tersebut dengan penipuan kripto bernilai besar. Perlu ditegaskan, red notice bukanlah surat perintah penangkapan internasional. Red notice hanyalah permintaan suatu negara kepada aparat penegak hukum di seluruh dunia untuk melacak dan menahan seseorang sementara, demi memfasilitasi proses ekstradisi selanjutnya.

Singkatnya, yang menjatuhkannya bukan hukum sekuritas, melainkan hukum pajak dan kerja sama penegakan hukum lintas negara. Bagi banyak pendiri yang mendaftarkan badan usaha di luar negeri, menyimpan aset di blockchain, dan tinggal di negara ketiga, gugatan sekuritas bisa diulur lewat persoalan yurisdiksi dan bantuan pengacara. Namun, red notice terkait pajak bisa membuat seseorang ditahan langsung di bandara atau kediamannya. Instrumen penindakan regulator sedang bergeser dari kepatuhan produk ke individu dan arus kas ⚠️

Ada satu detail lain yang patut dicermati: belum jelas apakah Finlandia telah secara resmi mengajukan permintaan ekstradisi kepada Turki. Hal ini akan menentukan apakah proses hukum akan berlanjut atau justru berlarut-larut menjadi tarik-menarik diplomatik ⚠️

Menurutmu, apakah masalah yang terus menimpa para pendiri seperti ini akan mendorong lebih banyak proyek memindahkan badan usaha dan tim mereka sepenuhnya dari Eropa dan AS? Yuk, bahas di kolom komentar.

Klik foto profil untuk menonton siaran langsung.

Setiap hari, kami mengajakmu mengikuti perkembangan mata uang kripto dan isu pengawasan di blockchain. Bukan sekadar melihat apa yang terjadi, tetapi juga memahami logika dan peluang di baliknya 👀🚀