🌍 Membayar pemasok di Lagos dari Cotonou bisa saja harus lewat… Paris atau New York. Gubernur Bank of Mauritius mengakuinya, sekaligus memperingatkan soal stablecoin.

Moussa, pedagang di Cotonou, membeli kainnya dari Nigeria. Melalui bank, uangnya harus memutar lewat luar Afrika. Jadi, ia melirik $USDT. Ide bagus?

📌 Fakta (pidato Priscilla Muthoora Thakoor, diterbitkan oleh BRI pada 13 Okt. 2026)
• ~835 juta akun uang seluler di Afrika Sub-Sahara (GSMA).
• Mengirim 200 $ ke Afrika: biaya rata-rata lebih dari 8%, menjadikannya kawasan termahal di dunia.
• 57,2 miliar$ transfer diterima pada 2024.
• Banyak pembayaran antarnegara Afrika melewati bank-bank di luar benua.
• Kawasan ini akan gagal mencapai target G20 untuk 2027.

🧠 Cara kerjanya
Bank « koresponden » menghubungkan dua bank yang belum saling mengenal. Franc CFA → euro/dolar → bank asing → naira: setiap perantara menambah biaya, waktu, dan selisih kurs. Stablecoin, token yang nilainya mengikuti dolar, menghindari perantara tersebut. Namun, jika semua orang menabung dalam dolar digital, bank lokal kehilangan simpanan dan bank sentral menjadi kurang mampu mengendalikan mata uangnya (kedaulatan moneter).

⚖️ Catatannya
Ia tidak mengatakan ÂŤ larang Âť: ia menginginkan kerangka aturan dan jaringan Afrika dalam mata uang lokal (PAPSS, TCIB, REPSS). Stablecoin juga tidak gratis: ada selisih harga P2P, dana bisa dibekukan, dan penipuan.

👉 Untuk Moussa
1. Bandingkan total biaya: biaya transaksi + nilai tukar yang diterima dalam naira.
2. Coba kirim jumlah kecil terlebih dahulu.
3. Tanyakan kepada banknya apakah transaksi dilakukan melalui PAPSS.
4. Tidak punya ponsel pintar? Agen resmi dapat membantu membandingkan. Minta bukti transaksi.

Kalau kamu: untuk membayar di negara Afrika lain, pilih bank, uang seluler, atau stablecoin? 👇

Bukan nasihat keuangan. DYOR.
Sumber: BRI / Bank of Mauritius (pidato 15 Jul. 2026); TokenPost (13 Okt.); GSMA.

#Stablecoins #CryptoAfrique