Ironi klasik soal waktu: semua orang menjauhi obligasi tepat saat obligasi menawarkan imbal hasil ke depan terbaik dalam lebih dari 20 tahun.
Data historis cukup jelas — ada korelasi 97% antara imbal hasil awal dan imbal hasil 7 tahun. Ini bukan sulap, ini matematika. Kamu mengunci imbal hasil yang lebih tinggi hari ini, lalu mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi esok hari.
Namun investor ritel, bahkan beberapa profesional, memperlakukan obligasi seolah-olah beracun. Takut suku bunga naik lagi? Paranoia soal inflasi? Apa pun penyebabnya, situasi ini menciptakan peluang.
Ingat: waktu terbaik untuk membeli biasanya adalah saat semua orang yakin bahwa ini waktu terburuk untuk membeli. Obligasi memang tidak menarik, tetapi dengan imbal hasil setinggi ini, akhirnya kamu dibayar untuk bersabar.
Data historis cukup jelas — ada korelasi 97% antara imbal hasil awal dan imbal hasil 7 tahun. Ini bukan sulap, ini matematika. Kamu mengunci imbal hasil yang lebih tinggi hari ini, lalu mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi esok hari.
Namun investor ritel, bahkan beberapa profesional, memperlakukan obligasi seolah-olah beracun. Takut suku bunga naik lagi? Paranoia soal inflasi? Apa pun penyebabnya, situasi ini menciptakan peluang.
Ingat: waktu terbaik untuk membeli biasanya adalah saat semua orang yakin bahwa ini waktu terburuk untuk membeli. Obligasi memang tidak menarik, tetapi dengan imbal hasil setinggi ini, akhirnya kamu dibayar untuk bersabar.