#英国高院裁定钱志敏案适用中国法

Pengadilan Tinggi Inggris memutuskan bahwa hukum Tiongkok, bukan hukum Inggris, berlaku atas hak penagihan aset berupa 61.000 bitcoin dalam kasus Qian Zhimin. Alasan Hakim Mark Turner dingin dan lugas: para investornya adalah warga Tiongkok, penggalangan dana terjadi di Tiongkok, dan kerugiannya pun terjadi di Tiongkok.

Apa artinya? Saat Qian Zhimin membeli bitcoin pada 2014, harga rata-ratanya hanya 2.815 yuan per keping. Kini, harganya telah menembus 84.000 dolar AS. Dengan berlakunya hukum Tiongkok, kemungkinan besar para korban hanya bisa menuntut pengembalian “modal pokok plus bunga”—keuntungan fantastis sebesar 266 kali lipat tidak akan menjadi hak mereka.

Ada 128.000 korban dengan nilai perkara mencapai 43 miliar yuan, tersebar di 31 wilayah setingkat provinsi di seluruh negeri. Kebanyakan adalah warga paruh baya dan lanjut usia dari kota-kota tingkat tiga dan empat. Yang mereka tunggu bukanlah pembagian keuntungan yang adil, melainkan uang yang dikembalikan “sebesar nilai awal”. Seorang korban berkata, “Mereka meraup untung besar dari uang ini, tetapi hanya memberi kami bunga yang sedikit. Siapa yang tidak marah?”

Logika hakim itu tak bercela, tetapi dampaknya terasa mencekik: Pemerintah Inggris kemungkinan besar akan mempertahankan bitcoin senilai 3,8 miliar pound ini, sementara tidak ada ruang untuk kerja sama penegakan hukum pidana antara Tiongkok dan Inggris. Kerangka hukum untuk melacak dan menyita aset lintas negara di sini berubah menjadi hitung-hitungan yang kejam.

Pengacara para korban sedang mengajukan banding, tetapi perjalanan masih panjang. Peringatan dari putusan ini jauh lebih luas—ketika skema Ponzi menyamar sebagai mata uang kripto lalu kabur melintasi perbatasan, hukum yang berlaku mungkin hanya mampu memberikan empat kata kepada para korban: “ambil kembali modal pokok”. Dan itu jelas tidak cukup.