#英国高院裁定钱志敏案适用中国法
61 ribu Bitcoin naik 200 kali lipat dalam sepuluh tahun, dari 2.815 yuan per keping menjadi 560.000 yuan. Para korban mungkin hanya akan mendapat kembali modal mereka 🦖
🕐 最新解读群里更新
Pada 12 Oktober, Pengadilan Tinggi Inggris mengeluarkan putusan penting terkait kasus penggalangan dana ilegal Tianjin Lantian Gerei. Klaim hak kepemilikan atas sekitar 61 ribu Bitcoin yang disita dan milik 16 ribu korban di China harus diputuskan berdasarkan hukum China. Bitcoin ini dibeli pada 2014 dengan harga rata-rata 2.815 yuan per keping. Kini harganya sekitar 560.000 yuan per keping, dengan nilai total lebih dari 34 miliar yuan. Kemungkinan besar, korban yang memenuhi syarat untuk mengajukan klaim hanya bisa mendapatkan kembali modal beserta bunganya ⚖️
Apa bedanya? Bedanya ada pada satu kata. Hukum Inggris menggolongkan Bitcoin sebagai property, yaitu harta benda. Para korban bisa mengklaim kepemilikan atas Bitcoin itu sendiri, termasuk kenaikan nilainya hingga 200 kali lipat. Hukum China tidak mengakui Bitcoin sebagai harta benda. Putusan terkait mata uang kripto biasanya hanya mendukung pengembalian modal awal beserta bunga. Sederhananya, kamu menginvestasikan 100 yuan dan uang itu dipakai membeli Bitcoin yang kemudian nilainya naik menjadi 20.000 yuan. Hukum hanya mengakui 100 yuan milikmu, ditambah sedikit bunga. Sisa 19.900 yuan tidak ada hubungannya denganmu.
Lantian Gerei berdiri pada Maret 2014 dan menerbitkan 10 produk investasi yang menjanjikan imbal hasil 1 hingga 3 kali lipat. Pada masa jayanya, perusahaan ini menarik lebih dari 120 ribu investor dan menghimpun dana total lebih dari 40 miliar yuan. Pengelolanya, Qian Zhimin yang menggunakan nama samaran “Kakak Hua”, memakai dana dalam jumlah besar untuk menimbun Bitcoin di sebuah bursa. Bukti di pengadilan Inggris menunjukkan bahwa Bitcoin yang pernah ditanganinya mungkin mencapai 190 ribu keping. Sekitar 120 ribu keping hingga kini belum diketahui keberadaannya 🐋
Pada Juli 2017, pembayaran kepada investor terhenti. Qian Zhimin melarikan diri ke Inggris menggunakan paspor palsu. Pada 2018, ia berusaha membeli rumah mewah di London seharga 23,5 juta pound dengan Bitcoin, tetapi transaksi itu batal karena ia tidak bisa menjelaskan asal-usul dananya. Pada Mei 2021, polisi Inggris menyita sekitar 61 ribu Bitcoin. Saat itu nilainya lebih dari 3 miliar pound, menjadikannya penyitaan aset kripto terbesar dalam sejarah penegakan hukum. Pada November 2025, ia dijatuhi hukuman 11 tahun 8 bulan penjara di London. Para kaki tangannya di China juga sudah lama dijatuhi hukuman. Dalam dua putaran pengembalian dana, para korban hanya menerima kembali sekitar 13% dari modal mereka.
Yang lebih menyedihkan, Inggris memiliki skema insentif pemulihan aset bernama ARIS. Jika aset hasil kejahatan yang berhasil dipulihkan tidak memiliki pihak dengan klaim hukum yang sah, 50% akan masuk ke kas negara Inggris. Jika korban hanya mendapatkan kembali modal berdasarkan hukum China, sementara kenaikan nilai hingga 200 kali lipat tidak memiliki pihak yang bisa mengajukan klaim sah, kemungkinan besar uang itu akan masuk ke kas negara Inggris. Bitcoin yang dibeli dengan uang hasil jerih payah mereka naik 200 kali lipat, tetapi bagian kenaikan nilainya mungkin justru masuk ke kas negara lain 📈
Putusan ini belum final. Pengadilan mengatakan bukti masih perlu diperiksa lebih lanjut dan para pihak dapat mengajukan banding. Sebanyak 61 ribu Bitcoin itu tersimpan di rekening kustodian. Nilainya terus berfluktuasi dan terus bertambah setiap hari.
Ada satu hal penting yang patut diingat: penentuan apakah aset kripto memiliki status sebagai harta benda secara langsung menentukan apakah Bitcoin itu dianggap sebagai milikmu. Ini bukan masalah teknologi, melainkan masalah yurisdiksi hukum. Untuk aset kripto lintas negara, kepemilikannya sering kali bergantung pada pengadilan negara mana yang lebih dulu menyitanya dan apakah hukum negara itu mengakuinya. Pengadilan Tinggi Inggris memutuskan bahwa kasus Qian Zhimin tunduk pada hukum China. Dampaknya bisa dirasakan oleh satu generasi pemilik aset kripto lintas negara.
Ayo diskusi di kolom komentar: menurutmu, siapa yang akhirnya akan mendapatkan kenaikan nilai 200 kali lipat ini? Apakah banding para korban punya peluang membalikkan keadaan?
Setiap hari, kami membawakan berita terkini seputar dunia kripto. Bukan hanya memberi tahu apa yang terjadi, tetapi juga membantu memahami logika dan peluang di baliknya 👀🚀
61 ribu Bitcoin naik 200 kali lipat dalam sepuluh tahun, dari 2.815 yuan per keping menjadi 560.000 yuan. Para korban mungkin hanya akan mendapat kembali modal mereka 🦖
🕐 最新解读群里更新
Pada 12 Oktober, Pengadilan Tinggi Inggris mengeluarkan putusan penting terkait kasus penggalangan dana ilegal Tianjin Lantian Gerei. Klaim hak kepemilikan atas sekitar 61 ribu Bitcoin yang disita dan milik 16 ribu korban di China harus diputuskan berdasarkan hukum China. Bitcoin ini dibeli pada 2014 dengan harga rata-rata 2.815 yuan per keping. Kini harganya sekitar 560.000 yuan per keping, dengan nilai total lebih dari 34 miliar yuan. Kemungkinan besar, korban yang memenuhi syarat untuk mengajukan klaim hanya bisa mendapatkan kembali modal beserta bunganya ⚖️
Apa bedanya? Bedanya ada pada satu kata. Hukum Inggris menggolongkan Bitcoin sebagai property, yaitu harta benda. Para korban bisa mengklaim kepemilikan atas Bitcoin itu sendiri, termasuk kenaikan nilainya hingga 200 kali lipat. Hukum China tidak mengakui Bitcoin sebagai harta benda. Putusan terkait mata uang kripto biasanya hanya mendukung pengembalian modal awal beserta bunga. Sederhananya, kamu menginvestasikan 100 yuan dan uang itu dipakai membeli Bitcoin yang kemudian nilainya naik menjadi 20.000 yuan. Hukum hanya mengakui 100 yuan milikmu, ditambah sedikit bunga. Sisa 19.900 yuan tidak ada hubungannya denganmu.
Lantian Gerei berdiri pada Maret 2014 dan menerbitkan 10 produk investasi yang menjanjikan imbal hasil 1 hingga 3 kali lipat. Pada masa jayanya, perusahaan ini menarik lebih dari 120 ribu investor dan menghimpun dana total lebih dari 40 miliar yuan. Pengelolanya, Qian Zhimin yang menggunakan nama samaran “Kakak Hua”, memakai dana dalam jumlah besar untuk menimbun Bitcoin di sebuah bursa. Bukti di pengadilan Inggris menunjukkan bahwa Bitcoin yang pernah ditanganinya mungkin mencapai 190 ribu keping. Sekitar 120 ribu keping hingga kini belum diketahui keberadaannya 🐋
Pada Juli 2017, pembayaran kepada investor terhenti. Qian Zhimin melarikan diri ke Inggris menggunakan paspor palsu. Pada 2018, ia berusaha membeli rumah mewah di London seharga 23,5 juta pound dengan Bitcoin, tetapi transaksi itu batal karena ia tidak bisa menjelaskan asal-usul dananya. Pada Mei 2021, polisi Inggris menyita sekitar 61 ribu Bitcoin. Saat itu nilainya lebih dari 3 miliar pound, menjadikannya penyitaan aset kripto terbesar dalam sejarah penegakan hukum. Pada November 2025, ia dijatuhi hukuman 11 tahun 8 bulan penjara di London. Para kaki tangannya di China juga sudah lama dijatuhi hukuman. Dalam dua putaran pengembalian dana, para korban hanya menerima kembali sekitar 13% dari modal mereka.
Yang lebih menyedihkan, Inggris memiliki skema insentif pemulihan aset bernama ARIS. Jika aset hasil kejahatan yang berhasil dipulihkan tidak memiliki pihak dengan klaim hukum yang sah, 50% akan masuk ke kas negara Inggris. Jika korban hanya mendapatkan kembali modal berdasarkan hukum China, sementara kenaikan nilai hingga 200 kali lipat tidak memiliki pihak yang bisa mengajukan klaim sah, kemungkinan besar uang itu akan masuk ke kas negara Inggris. Bitcoin yang dibeli dengan uang hasil jerih payah mereka naik 200 kali lipat, tetapi bagian kenaikan nilainya mungkin justru masuk ke kas negara lain 📈
Putusan ini belum final. Pengadilan mengatakan bukti masih perlu diperiksa lebih lanjut dan para pihak dapat mengajukan banding. Sebanyak 61 ribu Bitcoin itu tersimpan di rekening kustodian. Nilainya terus berfluktuasi dan terus bertambah setiap hari.
Ada satu hal penting yang patut diingat: penentuan apakah aset kripto memiliki status sebagai harta benda secara langsung menentukan apakah Bitcoin itu dianggap sebagai milikmu. Ini bukan masalah teknologi, melainkan masalah yurisdiksi hukum. Untuk aset kripto lintas negara, kepemilikannya sering kali bergantung pada pengadilan negara mana yang lebih dulu menyitanya dan apakah hukum negara itu mengakuinya. Pengadilan Tinggi Inggris memutuskan bahwa kasus Qian Zhimin tunduk pada hukum China. Dampaknya bisa dirasakan oleh satu generasi pemilik aset kripto lintas negara.
Ayo diskusi di kolom komentar: menurutmu, siapa yang akhirnya akan mendapatkan kenaikan nilai 200 kali lipat ini? Apakah banding para korban punya peluang membalikkan keadaan?
Setiap hari, kami membawakan berita terkini seputar dunia kripto. Bukan hanya memberi tahu apa yang terjadi, tetapi juga membantu memahami logika dan peluang di baliknya 👀🚀