Bitcoin (BTC) mengawali pekan ketiga Oktober dengan mempertahankan level support di $82.500 menjelang data inflasi penting AS.

Poin utama:

  • Rilis CPI AS pada Rabu dan data PPI pada Kamis menjadi pemicu utama volatilitas aset berisiko pekan ini. Pasar memperkirakan CPI sebesar 3,7% secara tahunan.

  • Harga minyak bereaksi terhadap rencana AS membeli diesel Rusia, tetapi minyak mentah WTI bergerak naik setelah turun di bawah $90 per barel pada Senin.

  • Bitcoin menutup pekan di atas level support penting $82.500, sehingga terhindar dari penurunan ke kisaran makro sebelumnya pada 2026, yaitu antara $60.000 dan $80.000.

Pasar memperkirakan inflasi September naik tipis

Data inflasi AS menjadi fokus para trader pekan ini menjelang rapat Komite Pasar Terbuka Federal pada 28 Oktober terkait kebijakan suku bunga.

Angka September untuk Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) masing-masing akan dirilis pada Rabu dan Kamis.

Pada Agustus, CPI secara umum sesuai ekspektasi, yakni 3,4% secara tahunan. Kini pasar memperkirakan angka bulan ini naik menjadi 3,7%, dipicu oleh berlanjutnya aksi militer di Timur Tengah dan lonjakan harga bahan bakar yang menyertainya. PPI diperkirakan naik 0,3% secara bulanan, dibandingkan 0,2% pada Agustus.

Perubahan CPI AS selama 12 bulan menurut kategori. Sumber: Biro Statistik Tenaga Kerja

Secara tradisional, kripto, saham, dan emas diuntungkan oleh angka inflasi yang lebih rendah dari perkiraan karena hal itu mengurangi kemungkinan Fed memperketat kebijakan, sehingga aliran modal dapat menguat. Berbicara kepada Reuters tentang harga emas dan imbal hasil obligasi AS saat ini, Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade, menyoroti dampak jika angka CPI dan PPI secara tak terduga bergerak lebih rendah.

“Dalam jangka pendek, angka inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan akan menjadi katalis terdekat yang paling jelas, karena hal itu akan mengurangi kemungkinan Fed kembali memperketat kebijakan dan meredakan tekanan terhadap imbal hasil riil,” katanya.

CME FedWatch menunjukkan bahwa pasar memperkirakan hanya ada peluang 18,8% untuk kenaikan suku bunga pada 28 Oktober dari kisaran saat ini, yaitu 3,75–4,00%. Pada rapat berikutnya, bulan Desember, peluang Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke 4,00–4,25% mencapai 70,6%.

Probabilitas suku bunga target Fed (tangkapan layar). Sumber: CME Group

Ketua Fed Kevin Warsh dijadwalkan berdiskusi dengan Kristalina Georgieva, direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), dalam sebuah acara di Bangkok, Thailand, pada Jumat.

Harga minyak sempat mereda menyusul pengumuman AS-Rusia tentang diesel

Imbal hasil obligasi AS telah turun dari level tertinggi dalam 24 tahun yang tercatat pekan lalu. Pada Senin, imbal hasil obligasi 10 tahun dan 30 tahun masing-masing berada di 5,24% dan 5,60%.

Grafik imbal hasil obligasi AS 10 tahun per jam. Sumber: Cointelegraph/TradingView

Kontrak berjangka saham menguat pada awal pekan, dengan indeks S&P 500 naik 0,25% dan berada sekitar 30 poin di bawah rekor tertinggi baru.

Grafik kontrak berjangka S&P 500 per jam. Sumber: Cointelegraph/TradingView

Pengumuman Presiden AS Donald Trump tentang kesepakatan untuk membeli 300.000 ton diesel dari Rusia tampaknya hanya berdampak kecil pada harga minyak, sementara rencana tersebut menghadapi penolakan bipartisan yang kian besar. Trump juga mengumumkan “gencatan senjata energi” antara Rusia dan Ukraina.

“Berlaku segera, ada GENCATAN SENJATA ENERGI dalam perang antara Rusia dan Ukraina. Kedua pihak telah menyetujuinya,” tulisnya pada Minggu dalam unggahan di Truth Social. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa ia tidak mengetahui adanya gencatan senjata energi tersebut.

Minyak mentah WTI diperdagangkan di sekitar $91,50 per barel pada Senin, naik 2% dari titik terendah hari itu di $89,60. Data dari kelompok pengendara AAA menunjukkan harga rata-rata diesel sebesar $6,26 per galon, dibandingkan rekor tertinggi $6,52 yang tercatat pada 22 September.

Grafik CFD minyak mentah WTI per jam. Sumber: Cointelegraph/TradingView

Analis PVM Tamas Varga mengatakan kepada Reuters bahwa kapasitas produksi Rusia yang berkurang membuat dampak kesepakatan tersebut “patut dipertanyakan.”

“Namun, Moskow telah mencabut sebagian larangan ekspor diesel, sehingga 500.000 ton (sekitar 3,7 juta barel) dapat dipasarkan secara internasional. Jumlah ini setara dengan konsumsi AS selama kira-kira satu hari dan sekitar 13% dari permintaan global,” ujarnya.

Bitcoin menghindari penembusan level support saat penutupan mingguan

Di kisaran $83.700 pada Bitstamp, penutupan candle mingguan pada Minggu mengukuhkan penurunan mingguan BTC/USD sebesar 3,2%.

Grafik mingguan BTC/USD. Sumber: Cointelegraph/TradingView

Pada saat yang sama, pasangan ini mempertahankan level support penting di $82.500 pada kerangka waktu mingguan, sehingga terhindar dari kembali ke kisaran jangka panjang sebelumnya, yaitu antara $60.000 dan $80.000. Seperti dilaporkan Cointelegraph, $82.500 tetap menjadi level penting yang dipantau para trader dan menjadi batas penentu bagi para pembeli Bitcoin.

Pekan lalu, trader dan analis Rekt Capital menulis bahwa penutupan mingguan di atas $82.500 akan menandai pengujian ulang level support yang “berhasil”. Hal ini dapat mendorong investor untuk terus mengakumulasi kembali BTC pada level saat ini, membuka jalan bagi kenaikan serupa dengan pemulihan Bitcoin setelah pasar bearish 2022.

Grafik mingguan BTC/USD. Sumber: Rekt Capital di X.com

Melihat Bitcoin beberapa kali menguji ulang level support setelah menembusnya pada Juli, trader dan analis Aksel Kibar membandingkan pasar kripto dengan pasar saham. Sejak Mei, S&P 500 telah beberapa kali menguji ulang level-level penting, awalnya di 7.300 poin, lalu di 7.600 poin.

Grafik harian S&P 500. Sumber: Cointelegraph/TradingView

Bitcoin mungkin sedang mengalami “pengujian ulang yang kuat” terhadap level support dengan cara serupa. Jika pengujian ulang itu terus berhasil, BTC/USD semestinya bergerak naik, tulis Kibar dalam unggahan di X pada Minggu.

Grafik harian BTC/USD. Sumber: Aksel Kibar di X.com