#cftc拟将事件合约纳入掉期监管
39 negara bagian dan 145 suku mengajukan kasus pasar prediksi hingga ke depan pintu Mahkamah Agung AS
⚖️ ⏰ 消息群里第一时间说
Pekan lalu, sejumlah amicus curiae diajukan ke Mahkamah Agung AS, meminta para hakim untuk menangani sebuah kasus: apakah kontrak acara olahraga termasuk kontrak swap? Sementara itu, pada Jumat, CFTC mengajukan dua proposal yang ingin secara resmi memasukkan kontrak acara ke dalam pengawasan swap. Salah satunya sudah berlaku ⚖️
Lihat dulu betapa kuatnya daftar pihak yang mengajukan amicus curiae ini: mantan senator Chris Dodd, mantan ketua CFTC sekaligus SEC Gary Gensler, National Football League (NFL), 39 negara bagian ditambah Washington, D.C., 145 suku, serta beberapa asosiasi industri terkait. Mayoritas memiliki sikap yang sama: pasar prediksi olahraga seharusnya diatur oleh negara bagian, bukan pemerintah federal.
Dalam amicus curiae-nya, Dodd langsung menegaskan bahwa Dodd-Frank Act tahun 2010 tidak pernah bermaksud menyerahkan kewenangan negara bagian untuk mengatur kontrak semacam ini kepada CFTC. Ia mencontohkan kontrak gabungan yang mengaitkan beberapa pertandingan dari berbagai cabang olahraga di kota-kota berbeda. Kontrak seperti itu tidak membantu lindung nilai dan juga tidak berperan dalam penemuan harga, sehingga bukan termasuk kontrak swap menurut undang-undang tersebut 📉
Mengapa perkara ini patut diperhatikan? Pengadilan banding sudah terpecah. Dua pengadilan sirkuit memutuskan bahwa pasar prediksi olahraga berada di bawah kewenangan negara bagian, sedangkan Pengadilan Sirkuit Ketiga memutuskan dengan suara 2-1 bahwa CFTC memiliki yurisdiksi. Di sisi lain, pasar prediksi yang tumbuh pesat berkat penyelesaian transaksi menggunakan kripto menghadapi pertanyaan soal siapa yang menetapkan aturan. Jawabannya akan menentukan apakah mereka masih bisa menyentuh sektor olahraga, sumber trafik terbesar 🦖
Menurut saya, di permukaan ini adalah pertarungan soal kontrak olahraga, tetapi sebenarnya ini tentang siapa yang berwenang, pemerintah federal atau negara bagian. Ini juga menjadi pintu masuk bagi preseden hukum di masa depan terkait kontrak acara berbasis kripto. Jika Mahkamah Agung menerima kasus ini, pihak yang paling terdampak lebih dulu bukanlah pengguna biasa, melainkan platform yang memasarkan kontrak acara sebagai produk baru ⚠️
Menurutmu, pada akhirnya Mahkamah Agung akan berpihak kepada negara bagian atau CFTC? Yuk, bahas di kolom komentar.
Klik foto profil untuk menonton siaran langsung.
Setiap hari, kami membawakan perkembangan terbaru pasar kripto. Bukan cuma melihat apa yang terjadi dalam berita, tetapi juga membantu kamu memahami logika dan peluang di baliknya 👀🚀
39 negara bagian dan 145 suku mengajukan kasus pasar prediksi hingga ke depan pintu Mahkamah Agung AS
⚖️ ⏰ 消息群里第一时间说
Pekan lalu, sejumlah amicus curiae diajukan ke Mahkamah Agung AS, meminta para hakim untuk menangani sebuah kasus: apakah kontrak acara olahraga termasuk kontrak swap? Sementara itu, pada Jumat, CFTC mengajukan dua proposal yang ingin secara resmi memasukkan kontrak acara ke dalam pengawasan swap. Salah satunya sudah berlaku ⚖️
Lihat dulu betapa kuatnya daftar pihak yang mengajukan amicus curiae ini: mantan senator Chris Dodd, mantan ketua CFTC sekaligus SEC Gary Gensler, National Football League (NFL), 39 negara bagian ditambah Washington, D.C., 145 suku, serta beberapa asosiasi industri terkait. Mayoritas memiliki sikap yang sama: pasar prediksi olahraga seharusnya diatur oleh negara bagian, bukan pemerintah federal.
Dalam amicus curiae-nya, Dodd langsung menegaskan bahwa Dodd-Frank Act tahun 2010 tidak pernah bermaksud menyerahkan kewenangan negara bagian untuk mengatur kontrak semacam ini kepada CFTC. Ia mencontohkan kontrak gabungan yang mengaitkan beberapa pertandingan dari berbagai cabang olahraga di kota-kota berbeda. Kontrak seperti itu tidak membantu lindung nilai dan juga tidak berperan dalam penemuan harga, sehingga bukan termasuk kontrak swap menurut undang-undang tersebut 📉
Mengapa perkara ini patut diperhatikan? Pengadilan banding sudah terpecah. Dua pengadilan sirkuit memutuskan bahwa pasar prediksi olahraga berada di bawah kewenangan negara bagian, sedangkan Pengadilan Sirkuit Ketiga memutuskan dengan suara 2-1 bahwa CFTC memiliki yurisdiksi. Di sisi lain, pasar prediksi yang tumbuh pesat berkat penyelesaian transaksi menggunakan kripto menghadapi pertanyaan soal siapa yang menetapkan aturan. Jawabannya akan menentukan apakah mereka masih bisa menyentuh sektor olahraga, sumber trafik terbesar 🦖
Menurut saya, di permukaan ini adalah pertarungan soal kontrak olahraga, tetapi sebenarnya ini tentang siapa yang berwenang, pemerintah federal atau negara bagian. Ini juga menjadi pintu masuk bagi preseden hukum di masa depan terkait kontrak acara berbasis kripto. Jika Mahkamah Agung menerima kasus ini, pihak yang paling terdampak lebih dulu bukanlah pengguna biasa, melainkan platform yang memasarkan kontrak acara sebagai produk baru ⚠️
Menurutmu, pada akhirnya Mahkamah Agung akan berpihak kepada negara bagian atau CFTC? Yuk, bahas di kolom komentar.
Klik foto profil untuk menonton siaran langsung.
Setiap hari, kami membawakan perkembangan terbaru pasar kripto. Bukan cuma melihat apa yang terjadi dalam berita, tetapi juga membantu kamu memahami logika dan peluang di baliknya 👀🚀