Perhitungan defisitnya tidak masuk akal.

Sejak 2020, AS telah mencatat defisit kumulatif sebesar $14,18 triliun. Sementara itu, tingkat pengangguran justru turun 0,4 poin menjadi 4,7% dalam periode yang sama.

Dalam 11 bulan pertama TA 2025 saja, defisit mencapai $1,97 triliun—terbesar ketiga yang pernah tercatat untuk periode tersebut.

Inilah masalahnya: defisit sebesar ini biasanya muncul saat resesi atau krisis. Pemerintah turun tangan ketika pengangguran melonjak dan ekonomi membutuhkan dukungan. Begitulah pola yang selama ini berlaku.

Namun sekarang? Pengangguran rendah. Ekonomi tidak sedang terpuruk. Meski begitu, kita masih mencatat defisit yang tampak seperti belanja darurat.

Mengapa? Ada dua alasan utama: belanja pemerintah belum dikurangi, dan biaya bunga atas utang yang ada terus meningkat. Bahkan tanpa resesi, defisit tetap sangat besar.

Hal yang dulu menjadi alat untuk menghadapi krisis kini telah menjadi kondisi normal. Defisit besar tak lagi bersifat sementara—melainkan struktural.

Ini adalah realitas fiskal yang sangat berbeda dari yang kita lihat dalam siklus-siklus sebelumnya.