📰 Banyak orang mengira Michael Saylor baru paham Bitcoin secara tiba-tiba pada tahun 2020, lalu mempertaruhkan reputasi perusahaan dan reputasi dirinya sekaligus. Namun, jika menelusuri pengalamannya ke belakang, keputusan itu lebih mirip hasil dari persiapan selama tiga puluh tahun.
🔥 Ia dibesarkan dalam keluarga militer angkatan udara; ayahnya mengajarkan bahwa apa pun yang dikerjakan harus dilakukan dengan baik, sementara ibunya terus mengingatkannya bahwa ia mampu meraih hal-hal besar. Disiplin dan ambisi selalu menyatu dalam karakternya. Ditambah lagi, sejak kecil ia kecanduan bacaan novel fiksi ilmiah, sehingga cara berpikirnya sejak dulu bukanlah menanyakan manfaat apa yang dimiliki sebuah teknologi saat ini, melainkan perubahan seperti apa yang akan dibawanya ketika teknologi itu telah matang—bagaimana ia akan mengubah dunia.

💡 Saat kuliah di MIT, Saylor mempelajari teknik kedirgantaraan dan sejarah sains, serta menggunakan model matematika untuk meneliti negara-kota Italia pada masa Renaisans. Setelah lulus, ia pun membangun model komputer untuk perusahaan-perusahaan seperti DuPont, Dow, dan Exxon—memecah realitas yang rumit menjadi variabel, lalu menelusuri kemungkinan hasil yang bisa terjadi.

👀 Pada usia 24 tahun ia mendirikan MicroStrategy, membawa perusahaan itu sampai go public, kemudian—ketika gelembung dot-com pecah—ia menyaksikan kekayaan puluhan miliar dolar menguap. Jujur saja, pengalaman ini sangat penting: ia pernah melihat gelombang teknologi mendorong kekayaan ke puncak, sekaligus secara langsung membayar “biaya pendidikan” di pasar modal.
🤔 Jadi, ketika pada tahun 2020 Bitcoin dimasukkan ke dalam strategi perusahaan, kemungkinan itu bukan sekadar keputusan mendadak. Melainkan, pemikiran teknik, imajinasi fiksi ilmiah, dan pasang-surut kewirausahaan akhirnya bertemu pada jawaban yang sama. Menurutmu, Saylor sudah lebih dulu memahami Bitcoin, atau ia memproyeksikan sepenuhnya keyakinannya selama tiga puluh tahun ke Bitcoin?

#MichaelSaylor #Bitcoin #MicroStrategy #tokoh kripto