Bertahun-tahun yang lalu, seorang teman fotografer datang berkunjung. Aku bercerita kepadanya bahwa dua hari sebelumnya aku pergi mendaki gunung. Aku membawa GoPro yang otomatis mengambil satu foto setiap 5 detik. Setelah sekali mendaki, aku pulang dengan ratusan foto.

Dia bertanya, «Memangnya apa gunanya? Buat apa?»

Kataku, «Pasti ada beberapa foto keren yang bisa dipilih.»

Dia menoleh dan memandang ke luar jendela selama beberapa detik, lalu berkata, «Foto yang tidak melibatkan manusia seperti ini tidak ada artinya.»

Saat itu aku hanya menanggapinya sambil tertawa. Baru bertahun-tahun kemudian aku benar-benar memahami maksudnya: pengalaman dan niatmu adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses berkarya. Bagi penonton, jika niat sang kreator sebagai manusia tidak ikut terlibat, yang mereka rasakan adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.

Kini, AI generatif telah menurunkan hambatan hingga ke titik terendah. Siapa pun bisa menggunakan AI untuk menghasilkan karya yang indah. Sisi baiknya, hambatan teknis memang telah hilang. Dulu, banyak orang terhalang oleh rumitnya penggunaan 3ds Max dan Photoshop untuk membuat 3D atau mengolah gambar. Sekarang, mereka bisa berkarya dengan lebih leluasa.

Namun, ada satu hal yang tidak berubah: manusia harus terlibat agar niat yang sungguh-sungguh dan jelas dapat tersampaikan. Sama seperti idola digital 3D, misalnya Yuki yang dibuat oleh tim Hanqing. Tanpa pemikiran, niat, dan gagasan yang ingin disampaikan oleh tim mereka, Yuki tidak lebih dari sosok 3D kecil lain yang menari di internet.