Para pelaku pasar obligasi seharusnya sudah menyerbu gerbang. Namun, yang terjadi justru dolar menguat dan saham mencetak rekor tertinggi baru. Ada apa?
Perhatikan komposisi pergerakan imbal hasil. Hampir seluruhnya berasal dari imbal hasil riil—bukan ekspektasi inflasi. Inflasi impas untuk tenor lima dan sepuluh tahun masih bertahan di sekitar 2,4%, nyaris tidak berubah. Ini menunjukkan bahwa pasar sedang menyesuaikan ekspektasi pertumbuhan riil, bukan memperhitungkan lonjakan inflasi yang tak terkendali atau kekhawatiran akan risiko kredit pemerintah.
Jika situasinya kembali seperti tahun 2022—krisis inflasi yang sesungguhnya—kita akan melihat inflasi impas melonjak dan saham berguguran secara bersamaan. Namun, keduanya tidak terjadi. Narasi aksi jual obligasi tidak sesuai dengan data. Pasar sedang menyesuaikan diri dengan pertumbuhan yang lebih kuat dan suku bunga terminal yang lebih tinggi, bukan panik menghadapi keruntuhan fiskal.
Konteks lebih penting daripada berita utama.
Perhatikan komposisi pergerakan imbal hasil. Hampir seluruhnya berasal dari imbal hasil riil—bukan ekspektasi inflasi. Inflasi impas untuk tenor lima dan sepuluh tahun masih bertahan di sekitar 2,4%, nyaris tidak berubah. Ini menunjukkan bahwa pasar sedang menyesuaikan ekspektasi pertumbuhan riil, bukan memperhitungkan lonjakan inflasi yang tak terkendali atau kekhawatiran akan risiko kredit pemerintah.
Jika situasinya kembali seperti tahun 2022—krisis inflasi yang sesungguhnya—kita akan melihat inflasi impas melonjak dan saham berguguran secara bersamaan. Namun, keduanya tidak terjadi. Narasi aksi jual obligasi tidak sesuai dengan data. Pasar sedang menyesuaikan diri dengan pertumbuhan yang lebih kuat dan suku bunga terminal yang lebih tinggi, bukan panik menghadapi keruntuhan fiskal.
Konteks lebih penting daripada berita utama.