Sebuah blockchain publik mengeluarkan 100 juta token hanya untuk menarik stablecoin senilai US$3 miliar ke ekosistemnya sendiri 🦖
⚡ 有大动静群里说
Pada 6 Oktober, USDG, stablecoin yang diterbitkan Paxos, resmi hadir secara native di Arbitrum One. Arbitrum juga bergabung dengan Global Dollar Network. Sebuah proposal yang diajukan ke ArbitrumDAO bahkan mengusulkan pemberian insentif sebesar 100 juta ARB, padahal stablecoin senilai sekitar US$4 miliar sudah ada di jaringan Layer 2 ini.
Di satu sisi, kolam likuiditasnya sudah penuh. Di sisi lain, mereka masih berusaha keras menarik stablecoin baru. Strategi ini layak kita telaah lebih jauh.
Pertama, apa itu USDG? Menurut data DeFiLlama, USDG adalah stablecoin terbesar ketujuh di dunia, dengan suplai beredar sekitar US$3,09 miliar. Sebagian besar suplainya terkonsentrasi di tiga jaringan: X Layer, Robinhood Chain, dan Solana. Setelah hadir di Arbitrum One, protokol DeFi seperti Fluid, Morpho, GMX, dan Maple akan mengintegrasikannya. Sebuah bursa juga mendukung deposit dan penarikan, sementara Stargate menangani transfer lintas jaringan.
Langkah besar sesungguhnya ada di dalam proposal itu: 100 juta ARB langsung dialokasikan untuk program insentif. Aset dari kas Arbitrum juga akan digunakan untuk menyediakan likuiditas bagi USDG. Proyek yang mengintegrasikan stablecoin ini dapat meminta dukungan dari Arbitrum Foundation. Sebagai anggota Global Dollar Network, Arbitrum juga bisa memperoleh bagian dari pendapatan yang dihasilkan USDG di jaringan ini.
Mengapa sebuah jaringan rela mengeluarkan biaya sebesar itu demi merebut satu stablecoin? Jawabannya adalah tokenisasi aset ⚖️ Arbitrum sudah lama tak puas hanya menjadi tempat bagi aplikasi native kripto. Mereka ingin menjadi infrastruktur dasar untuk membawa aset tradisional ke blockchain. Contoh paling jelasnya adalah Robinhood Chain, jaringan Layer 2 yang dibangun dengan teknologi Arbitrum. Mainnet publiknya baru diluncurkan Juli tahun ini, dengan fokus pada aset dunia nyata dan aset digital yang ditokenisasi. Perdagangan 24 jam, pinjam-meminjam, dan kontrak perpetual—semuanya ingin mereka hadirkan di sana.
Perhitungan institusi sudah jauh ke depan. Bulan lalu, Standard Chartered mengatakan bahwa model seperti Robinhood Chain dapat mengubah model ekonomi Arbitrum. Sebanyak 10% dari pendapatan bersih protokol proyek di jaringan akan dikembalikan ke ekosistem. Bank itu bahkan memberikan proyeksi: aset yang ditokenisasi bisa mencapai US$4 triliun pada akhir 2028, dan dengan logika ini, ARB berpeluang menyentuh US$10 pada 2030—sekitar 70 kali lipat dari harga token saat itu.
Menurut saya, ini bukan sekadar upaya sebuah jaringan menarik satu stablecoin. Ini adalah perebutan pengguna demi likuiditas yang sudah ada 💥 Pertumbuhan total nilai terkunci di jaringan Layer 2 sudah lama mencapai puncaknya. Nilai yang terkunci berkat subsidi adalah yang paling mudah terlihat, tetapi juga paling rentan. Sebanyak 100 juta ARB bisa menarik USDG masuk, tetapi setelah insentif dikurangi, apakah dananya akan tetap tinggal? Itu bergantung pada ada tidaknya kebutuhan nyata untuk penyelesaian transaksi dan perdagangan di Arbitrum—bukan pada panjangnya daftar insentif.
Ada dua hal yang patut dipantau. Pertama, bagaimana dan selama berapa lama 100 juta ARB ini akan dibelanjakan. Kedua, apakah dana sungguhan di Robinhood Chain benar-benar bisa mengalir masuk. Jika hanya ada subsidi tanpa kegiatan bisnis yang nyata, perebutan pengguna ini cuma memindahkan sesuatu dari tangan kiri ke tangan kanan.
Menurutmu, strategi membagikan token demi menarik stablecoin seperti ini bisa memperbesar kue atau justru menggali lubang untuk diri sendiri? Yuk, bahas di kolom komentar.
Ketuk foto profil untuk menonton siaran langsung.
Setiap hari, kami membawamu mengikuti kabar terbaru seputar kripto. Bukan cuma melihat apa yang terjadi, tetapi juga memahami logika dan peluang di baliknya 👀🚀
⚡ 有大动静群里说
Pada 6 Oktober, USDG, stablecoin yang diterbitkan Paxos, resmi hadir secara native di Arbitrum One. Arbitrum juga bergabung dengan Global Dollar Network. Sebuah proposal yang diajukan ke ArbitrumDAO bahkan mengusulkan pemberian insentif sebesar 100 juta ARB, padahal stablecoin senilai sekitar US$4 miliar sudah ada di jaringan Layer 2 ini.
Di satu sisi, kolam likuiditasnya sudah penuh. Di sisi lain, mereka masih berusaha keras menarik stablecoin baru. Strategi ini layak kita telaah lebih jauh.
Pertama, apa itu USDG? Menurut data DeFiLlama, USDG adalah stablecoin terbesar ketujuh di dunia, dengan suplai beredar sekitar US$3,09 miliar. Sebagian besar suplainya terkonsentrasi di tiga jaringan: X Layer, Robinhood Chain, dan Solana. Setelah hadir di Arbitrum One, protokol DeFi seperti Fluid, Morpho, GMX, dan Maple akan mengintegrasikannya. Sebuah bursa juga mendukung deposit dan penarikan, sementara Stargate menangani transfer lintas jaringan.
Langkah besar sesungguhnya ada di dalam proposal itu: 100 juta ARB langsung dialokasikan untuk program insentif. Aset dari kas Arbitrum juga akan digunakan untuk menyediakan likuiditas bagi USDG. Proyek yang mengintegrasikan stablecoin ini dapat meminta dukungan dari Arbitrum Foundation. Sebagai anggota Global Dollar Network, Arbitrum juga bisa memperoleh bagian dari pendapatan yang dihasilkan USDG di jaringan ini.
Mengapa sebuah jaringan rela mengeluarkan biaya sebesar itu demi merebut satu stablecoin? Jawabannya adalah tokenisasi aset ⚖️ Arbitrum sudah lama tak puas hanya menjadi tempat bagi aplikasi native kripto. Mereka ingin menjadi infrastruktur dasar untuk membawa aset tradisional ke blockchain. Contoh paling jelasnya adalah Robinhood Chain, jaringan Layer 2 yang dibangun dengan teknologi Arbitrum. Mainnet publiknya baru diluncurkan Juli tahun ini, dengan fokus pada aset dunia nyata dan aset digital yang ditokenisasi. Perdagangan 24 jam, pinjam-meminjam, dan kontrak perpetual—semuanya ingin mereka hadirkan di sana.
Perhitungan institusi sudah jauh ke depan. Bulan lalu, Standard Chartered mengatakan bahwa model seperti Robinhood Chain dapat mengubah model ekonomi Arbitrum. Sebanyak 10% dari pendapatan bersih protokol proyek di jaringan akan dikembalikan ke ekosistem. Bank itu bahkan memberikan proyeksi: aset yang ditokenisasi bisa mencapai US$4 triliun pada akhir 2028, dan dengan logika ini, ARB berpeluang menyentuh US$10 pada 2030—sekitar 70 kali lipat dari harga token saat itu.
Menurut saya, ini bukan sekadar upaya sebuah jaringan menarik satu stablecoin. Ini adalah perebutan pengguna demi likuiditas yang sudah ada 💥 Pertumbuhan total nilai terkunci di jaringan Layer 2 sudah lama mencapai puncaknya. Nilai yang terkunci berkat subsidi adalah yang paling mudah terlihat, tetapi juga paling rentan. Sebanyak 100 juta ARB bisa menarik USDG masuk, tetapi setelah insentif dikurangi, apakah dananya akan tetap tinggal? Itu bergantung pada ada tidaknya kebutuhan nyata untuk penyelesaian transaksi dan perdagangan di Arbitrum—bukan pada panjangnya daftar insentif.
Ada dua hal yang patut dipantau. Pertama, bagaimana dan selama berapa lama 100 juta ARB ini akan dibelanjakan. Kedua, apakah dana sungguhan di Robinhood Chain benar-benar bisa mengalir masuk. Jika hanya ada subsidi tanpa kegiatan bisnis yang nyata, perebutan pengguna ini cuma memindahkan sesuatu dari tangan kiri ke tangan kanan.
Menurutmu, strategi membagikan token demi menarik stablecoin seperti ini bisa memperbesar kue atau justru menggali lubang untuk diri sendiri? Yuk, bahas di kolom komentar.
Ketuk foto profil untuk menonton siaran langsung.
Setiap hari, kami membawamu mengikuti kabar terbaru seputar kripto. Bukan cuma melihat apa yang terjadi, tetapi juga memahami logika dan peluang di baliknya 👀🚀
