Lebih dari sepuluh tahun lalu, saat krisis utang Eropa, pasar menjuluki negara-negara Eropa Selatan sebagai “Lima Babi Eropa” (PIIGS)—Portugal, Italia, Irlandia, Yunani, dan Spanyol. Yunani menjadi negara yang paling parah terdampak. Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahunnya sempat melonjak hingga lebih dari 30%, yang pada dasarnya berarti pasar sudah menjatuhkan vonis mati.

Bagaimana sekarang? Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun Prancis sudah melampaui Yunani. Ya, Anda tidak salah baca—Yunani, yang dulu termasuk “Babi Eropa”, kini memiliki biaya pinjaman lebih rendah daripada Prancis.

Apa artinya? Siklus memang berputar, tetapi yang lebih penting, dalam jangka panjang, disiplin fiskal, reformasi struktural, dan stabilitas politik jauh lebih menentukan daripada penanganan krisis jangka pendek. Dulu, Yunani dipaksa Troika (ECB, IMF, dan Uni Eropa) untuk memangkas defisit, mereformasi sistem pensiun, dan menjual aset negara. Menyakitkan, tetapi berhasil. Sementara itu, sejak pemerintahan kiri berkuasa di Prancis, belanja fiskal diperbesar, tunjangan kesejahteraan ditambah, dan reformasi mandek. Rasio defisit terus-menerus melampaui batas, sedangkan utang terhadap PDB naik dari 90% menjadi lebih dari 110%.

Pasar tidak bodoh. Kalau Anda meminjam uang tetapi tak sanggup membayar, fiskal tak terkendali, dan politik terus dilanda pertikaian internal, imbal hasil obligasi tentu akan naik. Masalah Prancis sekarang bukan kekurangan uang, melainkan kekurangan kepercayaan—investor mulai meragukan kemauan dan kemampuan Anda untuk membayar utang.

Pelajaran sejarah: krisis itu sendiri bukan hal yang menakutkan; yang menakutkan adalah tidak berubah setelah krisis dan terus hidup dengan berutang. Saat krisis utang Eropa, banyak orang mengira Yunani akan keluar dari Uni Eropa, gagal bayar, dan benar-benar kolaps. Namun Yunani bertahan dan melakukan reformasi, sementara Prancis kini mengandalkan kejayaan masa lalu.

Siklus seperti ini memang pada akhirnya akan berbalik menghantam.