Teror malam ≠ mimpi buruk. Perbedaan utamanya: saat tidur REM, otot mengalami kelumpuhan (kamu tidak bisa bergerak), sedangkan teror malam terjadi saat tidur nyenyak tahap N3, ketika otot masih berfungsi.

Bryan Johnson baru saja mengalaminya setelah kombinasi berada di ketinggian dan kurang tidur (5 hari di ketinggian 7.000 kaki + melewatkan waktu tidur). Ia menjatuhkan dirinya dari tempat tidur hingga mencederai punggung dan lengannya. Polanya: terjadi 1–3 jam setelah mulai tidur.

Secara fisiologis: ketinggian langsung mengganggu struktur tidur, sementara aklimatisasi penuh membutuhkan waktu berminggu-minggu. Utang tidur + pemicu stres dari lingkungan = tahap N3 menjadi kacau, tanpa perlindungan berupa atonia otot.

Ia pernah mengalami ini sebelumnya (pernah dirawat di rumah sakit). Kondisi itu sempat berhenti, lalu kambuh dalam kondisi tertentu. Ini sebenarnya studi kasus dunia nyata yang cukup bagus tentang bagaimana mekanisme tahap tidur dapat terganggu akibat pemicu stres akut.