XRP Seoul

Dalam partisipasinya, Monica Long (presiden Ripple) mengonfirmasi bahwa peta jalan perusahaan hingga 2027 mencakup peluncuran layanan kredit untuk pembiayaan pembayaran real-time, dengan menggunakan protokol pinjaman bawaan jaringan (XLS-66) dan XRP sebagai agunan.

Pengumuman ini mendukung tesis mengenai perilaku aset dan struktur pasarnya:

Mekanisme di balik penurunan kecepatan perputaran uang ($V$)
Dari aset perantara menjadi aset neraca: Dalam model tradisional mata uang bridge (perantara pembayaran), kecepatan perputaran $XRP sangat tinggi karena perantara membeli token, mentransfernya dalam 3 detik, lalu langsung menjualnya di tujuan. Tidak ada insentif untuk menahannya.

Penguncian pasokan (Supply Lockup): Ketika institusi menggunakan XRP sebagai agunan untuk membuka fasilitas kredit atau membiayai penyelesaian transaksi lintas negara, token tersebut harus disimpan dalam kontrak pintar atau brankas likuiditas (Single Asset Vaults).

Dampak penyusutan pasokan: Ketika XRP dalam jumlah besar dibekukan sebagai jaminan agunan, pasokan yang tersedia di buku pesanan bursa berkurang drastis. Kecepatan spekulatif menurun, sementara fungsi sebagai aset cadangan meningkat.

Aset ini tengah beralih dari sekadar fasilitator sementara menjadi aset treasury yang produktif. Ketika suatu produk korporat menghasilkan imbal hasil atau berfungsi sebagai agunan untuk mengurangi biaya operasional, permintaan institusional menjadi bersifat struktural, bukan spekulatif.

Kesimpulan
Visi yang disampaikan Monica Long di Seoul menegaskan bahwa strategi Ripple bertujuan mengembangkan peran XRP: dari penghubung yang "melaju" dalam hitungan detik menjadi aset agunan di neraca. Karena XRP perlu disimpan tanpa bergerak untuk menjamin fasilitas kredit, kecepatan penjualan langsung menurun dan memicu efek umpan balik terhadap likuiditas yang tersedia di pasar.