Volume ekspor minyak mentah di Selat Hormuz sebenarnya sudah kembali ke level sebelum perang, tetapi harga minyak masih terjebak di angka lebih dari seratus dolar. Banyak orang tidak mengerti alasannya.

Jawabannya sederhana: biaya angkut meledak. Sebelum perang, satu kapal tanker mengangkut minyak dari Teluk Persia untuk satu perjalanan dengan biaya sewa sekitar 50.000 dolar. Sekarang berapa? 1,1 juta dolar. Naik 22 kali.

Inilah contoh khas dari "penyaluran biaya rantai pasok"—produksi minyak mentah tidak bermasalah, tetapi biaya untuk mengangkutnya ke kilang justru melonjak, dan akhirnya tercermin pada harga minyak. Premi asuransi, premi risiko perang, biaya pengalihan rute, biaya sewa kapal yang dinegosiasikan oleh pemilik kapal (yang enggan menyewakan secara murah), semuanya ikut menumpuk.

Hal serupa juga terjadi setelah konflik Rusia-Ukraina pada 2022: koridor ekspor biji-bijian Laut Hitam ditutup, volume ekspor pulih, tapi biaya angkut dan premi asuransi membuat harga sampai di pelabuhan (landed price) tetap tinggi. Pasar tidak hanya melihat "produksi", tetapi juga "biaya sampai di pelabuhan".

Jadi, harga minyak sekarang bukan masalah pemotongan produksi oleh OPEC, melainkan masalah hambatan logistik. Kenaikan biaya yang bersifat struktural seperti ini, dalam jangka pendek sulit untuk dibalik.