Baru-baru ini bank sentral mengusulkan agar lembaga non-bank (seperti perusahaan sekuritas, dan sejenisnya) diberi semacam instrumen dukungan likuiditas. Intinya adalah pengakuan bahwa realitasnya struktur pembiayaan di Tiongkok telah berubah. Porsi pendanaan pasar modal terhadap total pembiayaan sosial (社融) naik dari 27% pada 2019 menjadi lebih dari 32% saat ini. Artinya, pentingnya sistemik lembaga non-bank—seperti sekuritas dan dana—semakin meningkat, sehingga mereka tidak lagi bisa dipandang sebagai peran pinggiran.

Logika dari instrumen ini sebenarnya sederhana—dalam kondisi ekstrem, lembaga non-bank dapat menyerahkan obligasi untuk ditukar menjadi uang tunai, sehingga mencegah penularan krisis likuiditas ke seluruh sistem keuangan. Ini bukan ide yang baru. Di akhir tahun lalu, SFISF, dan pada bulan April tahun ini perluasan untuk dealer tingkat pertama, semuanya merupakan kelanjutan dari rangkaian strategi yang sama. Otoritas regulasi sedang memasang jaring pengaman bagi lembaga non-bank, karena era pembiayaan tidak langsung yang dipimpin bank sudah sedang bertransformasi.

Dari sisi siklus, kebijakan seperti ini biasanya muncul pada dua tahap: baik sebagai langkah antisipasi untuk risiko di masa depan, atau karena pihak terkait sudah mencium tanda-tanda tertentu. Mengingat likuiditas global yang ketat, serta meningkatnya volatilitas aset domestik, instrumen ini lebih mirip langkah pencegahan. Namun juga perlu dipahami: adanya instrumen tidak berarti tidak akan terjadi masalah, hanya saja ketika masalah muncul, akan ada penyangga. Masalah sesungguhnya tetap pada leverage (utang berbasis) dan kualitas aset lembaga non-bank—itulah akarnya.

Jika melihat sejarah, setiap kali terjadi transformasi struktur keuangan, selalu disertai titik risiko baru dan instrumen regulasi baru. Krisis simpanan-pinjaman (S&L) AS pada era 1980-an, serta kebangkrutan sekuritas Jepang pada 1990-an, adalah contoh pelajaran yang serupa. Saat ini Tiongkok menempuh jalur perluasan pembiayaan langsung; pembesaran peran lembaga non-bank adalah sesuatu yang tidak terhindarkan. Tetapi apakah manajemen risikonya bisa mengikuti perkembangan, itulah kuncinya. Instrumen ini bisa dibilang menambal salah satu kekurangan, namun jangan berharap ia bisa menyelesaikan semua masalah.