Struktur utang India sebenarnya cukup menarik. Data IMF menunjukkan bahwa utang pemerintah India pada 2025 mencapai 84,1% dari PDB, jauh lebih rendah dibandingkan Jepang (206,5%), AS (123,9%), Prancis (116,0%), dan Inggris (100,4%)—negara-negara berperingkat AAA/AA. Namun peringkatnya tidak setinggi itu.

Poin kuncinya: lebih dari 95% utang India ditetapkan dalam mata uang rupee, sedangkan eksposur terhadap mata uang asing kurang dari 5% terhadap PDB. Artinya, bahkan jika rupee melemah, hal itu tidak akan memicu krisis utang seperti yang umum terjadi di negara berkembang—tidak ada risiko mismatch kurs.

Coba ingat pelajaran krisis keuangan Asia pada awal 1990-an: Thailand, Korea Selatan, dan Indonesia saat itu sama-sama memegang banyak utang berdenominasi dolar. Ketika mata uang mereka jatuh, beban utang langsung berlipat dua. India mengambil pelajaran tersebut dan memilih pembiayaan berbasis mata uangnya sendiri sebagai prioritas.

Menurut prediksi Deutsche Bank, rasio utang pada 2031 bisa turun menjadi 77,7%, dengan syarat disiplin fiskal tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 6–7%. Jalur ini masuk akal—India tidak menghadapi tekanan penuaan populasi seperti negara-negara Barat, sementara dividen demografis masih terus mengalir.

Namun logika lembaga pemeringkat juga bisa dipahami: yang mereka nilai adalah kualitas institusi, kondisi penegakan hukum, dan transparansi kebijakan, bukan sekadar angka utang. Pada indikator “lunak” tersebut, India memang masih tertinggal.

Dari sisi transaksi, imbal hasil obligasi pemerintah India sekitar 7%. Karena utang didominasi mata uang lokal, inflasi berada di kisaran 4–5%, sehingga tingkat bunga riil masih terbilang wajar. Tetapi penempatan oleh investor asing pada obligasi India perlu mempertimbangkan fluktuasi rupee—meski tidak sampai memicu gagal bayar, risiko kurs dari carry trade tetap tidak boleh diabaikan.