Jika Trump Kembali ke Gedung Putih, “Prioritas Utama AS” akan Mengguncang Tata Kelola Global

Goyangan arah politik AS yang kembali terjadi secara ekstrem sedang mendorong pasar global dan para perumus kebijakan ke sebuah persimpangan yang penuh ketidakpastian. Jika Donald Trump kembali memimpin Gedung Putih, logika utama agenda kebijakannya akan mengarah secara jelas pada penguatan ekstrem “Amerika Utama”. Ini tidak hanya berarti restrukturisasi mendasar lingkungan regulasi di dalam negeri, tetapi juga menandakan bahwa kerangka kerja kerja sama multilateral internasional menghadapi gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mulai dari penarikan komitmen iklim, pergeseran kebijakan energi yang lebih agresif, hingga pembangunan hambatan tarif yang tinggi—jika serangkaian langkah ini benar-benar diterapkan, semuanya akan sepenuhnya menghancurkan keseimbangan tata kelola global yang telah terbentuk selama puluhan tahun terakhir. Bagi para pengamat, ini bukan lagi sekadar kelanjutan urusan dalam negeri AS, melainkan badai sistemik yang berpotensi membentuk ulang rantai pasok global, lanskap energi, serta hubungan geopolitik.

Di bidang lingkungan dan energi, skala kemunduran kebijakan jauh melampaui ekspektasi normal. Menurut berbagai sumber, tim Trump berencana menandatangani perintah eksekutif pada awal masa jabatannya untuk secara resmi membuat AS kembali keluar dari Perjanjian Paris. Langkah ini bukan kasus tunggal: pada 2017, pemerintahan Trump pernah memulai prosedur serupa, namun kali ini didampingi oleh instrumen eksekutif yang lebih menyeluruh. Kabar menyebutkan bahwa kantor pusat Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) dan seluruh stafnya kemungkinan dipindahkan dari Washington, D.C. Sejak didirikan pada 1970, EPA berperan sebagai inti pengawasan lingkungan di tingkat federal; keberadaannya di ibu kota melambangkan posisi sentral isu lingkungan dalam politik nasional. Memindahkannya pada dasarnya merupakan operasi “marjinalisasi” di level administratif, yang bertujuan melemahkan peran pemerintah federal dalam tata kelola iklim. Sementara itu, pengembangan energi akan dibebaskan lebih longgar. Trump berencana meninjau kembali monumen sejarah nasional dan tanah publik yang telah ditetapkan sebagai kawasan perlindungan permanen, serta mengizinkan perusahaan energi memperluas cakupan pengeboran dan penambangan. Ini kontras tajam dengan keputusan pemerintahan Biden pada Januari tahun ini yang menangguhkan persetujuan untuk proyek ekspor gas alam cair (LNG) baru. Trump ingin menghidupkan kembali persetujuan tersebut untuk menyesuaikan dengan aspirasi pemilih negara bagian kunci seperti Pennsylvania, yang bergantung pada sumber daya gas alam melimpah dan lapangan kerja terkait. Perubahan kebijakan dari “melepaskan regulasi” menjadi “mendorong pengembangan” secara langsung menanggapi perdebatan panjang dalam negeri soal keamanan energi dan daya saing ekonomi. Para pendukung memandangnya sebagai cara untuk melepaskan potensi dan mengurangi ketergantungan ke luar negeri, sedangkan para penentang memperingatkan bahwa langkah ini akan merusak ekosistem dan memperparah krisis iklim.

Kebijakan perdagangan dan tarif menjadi gelombang gangguan lain, dengan tokoh utamanya adalah mantan perwakilan perdagangan Robert Lighthizer. Menurut laporan, Trump telah mengundang tokoh garis keras yang terkenal sebagai “perancang tarif” itu untuk kembali memegang jabatan penting di pemerintahan. Lighthizer mendukung pengenaan tarif 10% untuk semua barang impor dan tarif tambahan 60% untuk barang-barang dari China. Logika usulan ini bukan sekadar alat tawar-menawar tradisional, melainkan bertujuan menyelesaikan defisit perdagangan struktural AS yang sudah lama terjadi, dan mengangkatnya ke level keamanan nasional serta pengaruh global. Pandangan seperti ini memicu kontroversi sengit di kalangan perdagangan internasional. Perhitungan penelitian Peterson Institute for International Economics memperkirakan bahwa jika rencana tersebut diterapkan sepenuhnya, AS dapat kehilangan puluhan hingga ratusan ribu pekerjaan, sementara biaya hidup keluarga rata-rata akan meningkat beberapa ribu dolar per tahun. Meski Lighthizer yakin bahwa pada akhirnya negara-negara akan menerima “sistem perdagangan yang lebih baik” berdasarkan perhitungan kepentingan, hambatan nyata masih sangat besar. Federasi Industri Jerman memperingatkan hubungan transatlantik bisa rusak, sementara kelompok ekonomi Jepang juga menyatakan kekhawatiran. Tarif menyeluruh tidak hanya berpotensi menaikkan harga di dalam negeri, tetapi juga akan mempercepat restrukturisasi rantai pasok global, memaksa perusahaan mendesentralisasi tata letak produksi untuk menghindari risiko politik, sehingga secara mendalam mengubah jaringan pembagian kerja global yang dibangun selama puluhan tahun terakhir.

Isu imigrasi menjadi fokus paling tajam dari perpecahan politik di dalam negeri. Dalam wawancara baru-baru ini, Trump menyatakan secara tegas bahwa ia akan mendorong aksi besar-besaran pengusiran imigran ilegal “tanpa menghitung biaya”, serta mengutip narasi keras seperti “penjahat narkoba menghancurkan negara” sebagai dasar. Namun, sejumlah studi menunjukkan bahwa tingkat kejahatan imigran tidak lebih tinggi daripada penduduk kelahiran setempat, bahkan lebih rendah pada beberapa kategori; fakta ini kerap ditutupi oleh narasi politik yang emosional. Organisasi seperti American Civil Liberties Union (ACLU) telah memperingatkan bahwa pengusiran besar-besaran dapat melibatkan penetapan berdasarkan ras, pelanggaran due process, dan menimbulkan krisis kemanusiaan berupa pemisahan keluarga. Konflik yang lebih mendalam terletak pada pertentangan federal vs daerah: beberapa negara bagian dan kota yang dipimpin Partai Demokrat telah menyatakan akan terus menyediakan perlindungan, menolak bekerja sama dengan lembaga penegak hukum imigrasi federal. Pertarungan tarik-menarik antara hukum dan administrasi ini tidak hanya akan menghabiskan sumber daya administratif yang besar, tetapi juga dapat mengguncang sektor pertanian, konstruksi, dan layanan yang bergantung pada tenaga kerja imigran, sehingga memengaruhi stabilitas pasar tenaga kerja AS.

Di balik serangkaian pergerakan kebijakan ini, tersirat pergeseran cara pandang dari kerja sama multilateral menuju tindakan sepihak, dari tata kelola global menuju prioritas nasional. Bagi dunia, jika AS kembali keluar dari perjanjian iklim, hal itu akan melemahkan efektivitas Perjanjian Paris, bahkan mungkin dipandang oleh sebagian negara berkembang sebagai dalih untuk memperlambat aksi iklim. Selain itu, langkah tersebut juga dapat memengaruhi mekanisme pendanaan internasional seperti Green Climate Fund. Di bidang perdagangan, hambatan tarif akan memaksa rantai pasok global untuk reorganisasi lebih cepat, industri berorientasi ekspor akan terpukul, dan konsumen harus menanggung biaya yang lebih tinggi. Dalam isu imigrasi, ketegangan di perbatasan bisa meningkat dan memengaruhi hubungan AS dengan negara-negara di Amerika Latin. Meskipun keseimbangan di Kongres, peninjauan yudisial, serta resistensi pemerintah negara bagian akan menjadi berbagai variabel yang membuat kebijakan sulit berjalan mulus, arah perubahannya sudah jelas. Dalam beberapa bulan ke depan, dunia akan terus mengamati bagaimana isu-isu ini berubah dari janji kampanye menjadi perintah eksekutif yang konkret, karena ini tidak hanya menentukan haluan internal AS, tetapi juga akan membentuk prospek kerja sama global dan batas risiko di bidang-bidang kunci seperti iklim, perdagangan, dan imigrasi. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini, memahami perubahan struktural seperti itu menjadi pelajaran wajib bagi semua pihak dalam menyusun strategi.

Ikuti saya—baca kilas berikutnya, jangan sampai terlewat.