#日本央行加息至31年高位

Bank Sentral Jepang memutuskan dengan hasil voting 7 banding 2, secara brutal menaikkan suku bunga kebijakan dari 1,00% menjadi 1,25%—ini adalah level suku bunga tertinggi dalam 31 tahun sejak 1995! Kenaikan kali ini hanya berselang 3 bulan dari kenaikan sebelumnya, sekaligus mencatat jeda kenaikan suku bunga terpendek sejak 1990!

Tapi yang paling “meledak” justru terjadi saat kenaikan diterapkan: yen malah ambruk! Dolar terhadap yen melonjak lebih dari 70 poin dalam waktu singkat, bahkan sempat menembus level 157. Kenapa? Karena 2 komisioner memilih menentang—Ueda dan Otoko bahkan lebih terang-terangan: “Tidak ada jadwal kenaikan; tidak ada target level suku bunga.” Pasar pun seketika paham: ini ternyata “kenaikan suku bunga versi dovish”!

Sekarang lihat kebenaran pahit dari fundamentalnya: CPI inti Jepang telah naik secara year-on-year selama 60 bulan berturut-turut. Memang CPI inti Agustus sebesar 1,7%, tapi begitu subsidi energi dihentikan, CPI inti Oktober berpotensi langsung menembus 2%, bahkan sampai mendekati 3% sebelum Maret 2027!

Sementara itu, kontradiksi yang paling fatal adalah: rasio utang pemerintah Jepang sudah melampaui 230% terhadap PDB. Di saat Kabinet Koichi Takichi mendorong ekspansi fiskal dengan anggaran terbesar sepanjang sejarah senilai 122 triliun yen, bank sentral justru dipaksa mengencangkan kebijakan moneter—arah kebijakan fiskal dan moneter menjadi sangat terbelah!

Naikkan suku bunga, tapi tak bisa menciptakan kemakmuran; mengencangkan, tapi tak bisa menekan utang. Ini adalah perjudian paling berani Bank Sentral Jepang dalam 31 tahun terakhir—tapi yang dipertaruhkan bukan inflasi, melainkan sebuah negara yang sedang ditelan masalah struktural. Lalu, masih sanggup bertahan berapa lama?