Setiap hari $1000 tanpa perlu verifikasi identitas, beli koin meme dan masih bisa untung dari cashback kartu kredit—Visa akhirnya turun tangan menutup celah ini.

Pada hari Jumat, Visa mengirim perintah khusus kepada penyedia pemrosesan pembayaran: dilarang lagi mengklasifikasikan pembelian koin meme dengan kartu kredit sebagai transaksi “media digital”. Alasannya? Ada yang menemukan bahwa setelah diklasifikasikan seperti itu, pembelian koin ternyata bisa mengumpulkan poin kartu kredit dan mendapatkan cashback layaknya membeli tiket film—padahal menurut aturan Visa, membeli mata uang kripto seharusnya tidak mendapatkan cashback.

Kunci celah ini ada pada sesuatu yang disebut “merchant category code”. Kode “5815” pada dasarnya memang disediakan untuk barang digital dan konten media; di dalamnya tidak ada penanda “terkait kripto”. Akibatnya, lewat perusahaan bernama Crossmint, pengguna di dua aplikasi—Fomo dan dompet Robinhood—bisa membeli koin meme dengan kartu kredit, dan sistem akan menganggap transaksi tersebut sebagai pembelian “konten digital”, sehingga poin dan cashback yang semestinya tetap diberikan.

Seberapa besar celahnya? Saluran checkout Crossmint memungkinkan pengguna membelanjakan hingga $1000 per hari untuk koin meme, tanpa KYC verifikasi identitas sepanjang proses, dengan batas total volume transaksi mencapai $1 juta. Yang pertama mendeteksi kejanggalan adalah bank Chase; mereka melaporkan masalah ini ke Visa. Visa kemudian mengonfirmasi bahwa setidaknya ada satu transaksi yang salah klasifikasi.

Masa tenggang yang diberikan Visa akan berakhir minggu depan. Setelah itu, transaksi pembelian koin tersebut harus diperlakukan sebagai “transaksi kripto biasa”—tidak lagi menikmati cashback konsumsi, bahkan kemungkinan akan ikut terseret ke pemeriksaan KYC yang lebih ketat.

Crossmint tidak terima. Mereka berargumen bahwa berdasarkan sebagian panduan dari SEC, beberapa koin meme bisa diperlakukan seperti “koleksi barang”, sehingga pengklasifikasian sebagai media digital masih bisa dianggap masuk akal. Ucapan asli dari kepala strategi mereka, Fonz Olvera, adalah: “Di antara bisnis dan hukum, pada akhirnya selalu ada sedikit ketegangan.” Setelah ditanya media, dua koin—GENIUS dan DEGEN—sudah dikeluarkan dari jalur pembayaran melalui Apple Pay.

Yang lebih layak dicermati: kantor Jaksa Agung New York, Letitia James, sudah mengetahui produk ini dan sedang melakukan penyelidikan. Sementara itu, organisasi kartu besar lainnya, Mastercard, hingga kini belum menyatakan sikap apakah akan ikut menindak.

Pendapat saya: ini terlihat seperti permainan kucing-kucingan “mengambil kesempatan (skim)” dan jaringan pembayaran, tapi intinya sebenarnya—uang cashback kartu kredit adalah subsidi bank untuk “konsumsi”, sedangkan pembelian koin dicatat sebagai “investasi/pemindahan”, yang semestinya tidak menikmati subsidi itu. Yang dimanfaatkan adalah batas yang kabur antara “konsumsi” dan “investasi”.

Dampak tingkat pertama: saluran pemasukan kartu kredit yang minim gesekan untuk koin meme berkurang, sehingga pembelian di pasar luar (OTC) untuk koin berbasis emosi kemungkinan ikut menurun. Dampak tingkat kedua: ketika Jaksa Agung New York turun tangan, itu menunjukkan bahwa “top up kartu kredit untuk pembelian koin meme” sudah dipandang sebagai titik risiko kepatuhan, dan ke depan besar kemungkinan akan ada verifikasi identitas dan pemeriksaan anti pencucian uang yang lebih ketat.

Beli koin meme pakai kartu kredit lalu dapat cashback—menurut Anda ini masuk akal sebagai mengeruk keuntungan, atau justru menyamarkan investasi menjadi konsumsi? Mari diskusikan di kolom komentar.

Setiap hari saya membawakan Anda sorotan tren kripto—bukan cuma melihat berita apa yang terjadi, tapi juga membantu Anda memahami logika dan peluang di baliknya 👀🚀
⚖️ 合规风向,进群一起看