AS menolak bantuan ke Arab Saudi demi minyak demi keamanan yang retak, Pakistan bersumpah mempertahankan apa pun

Putra mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, pada 10 September menelepon Presiden AS, Donald Trump, dua kali untuk meminta dukungan serangan langsung militer AS terhadap kelompok Houthi di Yaman, namun mendapat penolakan yang tegas. Pejabat AS kemudian menjelaskan bahwa meskipun 200 tentara AS ditempatkan di Arab Saudi untuk memberikan dukungan intelijen, Washington tidak memiliki rencana untuk ikut bertempur secara langsung. Penolakan ini menandai adanya retakan pada pola lama “minyak untuk keamanan” yang selama ini diandalkan Arab Saudi, memaksa Riyadh beralih cepat kepada mitra keamanan lain. Dalam konteks ini, juru bicara militer Pakistan, Joduri, di depan media Arab Saudi menyatakan dengan tegas “bersedia mengorbankan apa pun” untuk membela Arab Saudi; ini bukan sekadar retorika diplomatik, melainkan didasarkan pada penempatan militer yang sudah terlaksana.

Faktanya, kekuatan militer Pakistan sudah lama siap. Pada April, Kementerian Pertahanan Arab Saudi secara rendah hati mengumumkan bahwa kekuatan militer Pakistan telah tiba di pangkalan udara King Abdulaziz. Pada Mei, Reuters mengungkap rincian: 8.000 tentara Pakistan, satu skuadron tempur penuh (termasuk 16 pesawat tempur JF-17 Block III), dua skuadron pesawat nirawak, serta satu paket sistem pertahanan udara jarak jauh HQ-9 (Hongqi-9) telah dikerahkan di bagian timur Arab Saudi. Peralatan tersebut dioperasikan oleh personel Pakistan, sementara Arab Saudi menanggung biayanya. Pejabat keamanan menegaskan ini merupakan pasukan dengan kemampuan tempur penuh, bukan kelompok penasihat; serta perjanjian memungkinkan pengerahan maksimal hingga 80.000 tentara. Dengan penempatan besar pertama sistem HQ-9 buatan Tiongkok di Timur Tengah, yang bekerja bersama pesawat tempur JF-17, terbentuklah jaringan pencegat jarak jauh. Akibatnya, sistem pertahanan udara Arab Saudi yang semula hanya mengandalkan sistem buatan AS “Patriot” dan “THAAD”, kini berubah menjadi lanskap yang lebih kompleks dengan keberadaan dua sistem dari AS dan Tiongkok sekaligus.

Serangkaian langkah ini bukan rencana dadakan, melainkan realisasi kerja sama yang telah dilembagakan dalam jangka panjang. Pada 17 September 2025, Pakistan dan Arab Saudi menandatangani “Perjanjian Pertahanan Strategis Bersama”, yang menyatakan bahwa serangan pihak ketiga terhadap salah satu negara dianggap sebagai serangan terhadap kedua negara. Lebih awal, pada 7 Agustus tahun ini, Arab Saudi, Pakistan, dan Turki menandatangani “Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah”. Ketentuannya mirip dengan mekanisme pertahanan kolektif NATO, dan oleh media disebut sebagai “NATO versi Islam”. Pada 31 Agustus, para menteri pertahanan ketiga negara mengadakan rapat komite pertama di Istanbul, dan menyetujui pembentukan sekretariat, dengan Pakistan menunjuk Sekretaris Jenderal pertama. Menteri Pertahanan Pakistan bahkan secara terbuka menyatakan bahwa jika Arab Saudi membutuhkan, rencana nuklirnya dapat “disediakan”. Sebagai satu-satunya negara berkemampuan nuklir di dunia Islam, Pakistan memiliki sekitar 170 hulu ledak nuklir, yang menjadi jaminan keamanan paling akhir bagi Arab Saudi. Sementara itu, hubungan Pakistan dan Arab Saudi dapat ditelusuri hingga 1967; Pakistan telah melatih lebih dari 8.000 personel militer Arab Saudi, akumulasi puluhan tahun kini berubah menjadi ikatan keamanan yang nyata.

Di balik langkah Pakistan ini ada perhitungan geopolitik dan ekonomi yang jelas. Pertama, Arab Saudi baru saja memberikan pinjaman senilai 3 miliar dolar AS dan memperpanjang simpanan sebesar 5 miliar dolar AS; arus dana dan penempatan militer membentuk hubungan timbal balik. Kedua, Pakistan berupaya menaikkan peran, dari pemain di Asia Selatan menjadi “pelindung nuklir” di Timur Tengah, mengisi ruang hampa keamanan yang ditinggalkan AS. Namun, meski sikapnya tegas, kemungkinan Pakistan terlibat langsung dalam konflik Yaman sangat rendah. Pihak resmi berulang kali menekankan ini adalah “aliansi defensif”, tidak bersifat ofensif. Kementerian Luar Negeri menyebut spekulasi terkait sebagai “bersifat asumtif”, dan Menteri Pertahanan menegaskan secara jelas bahwa protokol hanya dapat diaktifkan jika konflik Yaman meluas dan mengancam langsung wilayah Arab Saudi.

Faktor nyata yang membatasi Pakistan untuk bertindak bahkan lebih berat. Dari sisi domestik, Pakistan memiliki sekitar 20% penduduk bermazhab Syiah; parlemen pernah mengesahkan resolusi yang meminta pemerintah tetap netral dalam konflik Timur Tengah. Keterlibatan ofensif akan memicu gejolak internal yang serius. Dari sisi geopolitik, Pakistan berbagi perbatasan panjang dengan Iran; pasokan energi bergantung pada Selat Hormuz; dan saat ini Pakistan berperan sebagai mediator antara Iran dan AS, menyampaikan peringatan Arab Saudi kepada Iran. Peran mediasi seperti itu sendiri menuntut agar menghindari konfrontasi langsung. Dari sisi ekonomi, Pakistan sangat bergantung pada “suntikan” dari Arab Saudi, namun tidak sanggup menanggung biaya besar yang ditimbulkan perang. Selain itu, pencegahan nuklir terhadap kelompok non-negara seperti Houthi tidak memiliki makna praktis; itu adalah alat pencegahan strategis, bukan senjata taktis.

Karena itu, strategi Pakistan adalah berjalan di atas tali antara “membela wilayah Arab Saudi” dan “menghindari masuk ke pertempuran di Yaman”. Pada 2015, Arab Saudi pernah meminta Pakistan mengirim pasukan ke Yaman, namun ditolak oleh parlemen Pakistan; inersia sejarah itu masih ada hingga kini. Kali ini, penempatan pasukan melepaskan tiga sinyal utama: tatanan keamanan Timur Tengah sedang disusun ulang, dan sebuah sistem keamanan yang dipimpin Arab Saudi, Pakistan, dan Turki—tanpa melibatkan AS—sedang terbentuk; risiko proliferasi nuklir meningkat, dan perpanjangan kekuatan pencegah nuklir ke Timur Tengah berpotensi mengganggu keseimbangan nuklir di kawasan; serta peran geopolitik Pakistan naik level, sambil memainkan dua identitas sekaligus—sebagai sekutu militer Arab Saudi dan sebagai penengah AS-Iran—sehingga menjadi alat tawar geopolitik yang sangat berharga.

Pernyataan “bersedia mengorbankan apa pun” dimaksudkan untuk semua pihak: urusan Arab Saudi adalah urusan Pakistan. Namun batas bawah “apa pun” pada akhirnya tetaplah kepentingan nasional Pakistan sendiri. AS memindahkan sebagian tanggung jawab keamanan Timur Tengah kepada “mitra regional”, dan Pakistan menerimanya dengan perisai, bukan tombak. Henry Kissinger pernah berkata bahwa menjadi sekutu AS bisa mematikan; Arab Saudi sedang membuktikan pernyataan itu. Palmerston mengatakan tidak ada sekutu yang abadi, hanya ada kepentingan yang abadi—aksi Pakistan adalah catatan kaki paling nyata untuk itu. Dalam permainan ini, Arab Saudi kehilangan satu-satunya tumpuan dari negara adidaya; sementara Pakistan, di timbangan risiko dan manfaat, dengan hati-hati menambah bobot.

Ikuti saya, baca cepat tulisan berikutnya agar tidak ketinggalan.