Narasi "pemulihan berbentuk K" telah menjadi semacam injil ekonomi, tetapi saya skeptis terhadap survei yang menunjukkan generasi muda merasa "putus asa". Survei sentimen mengukur persepsi, bukan kenyataan.

Lihat data aktualnya: tingkat pekerjaan untuk usia 25-34 tahun tetap berada di dekat rekor tertinggi historis, pertumbuhan upah riil sudah berbalik positif di sebagian besar kuartil pendapatan, dan pembentukan rumah tangga terus berlangsung meski ada pemberitaan. Ya, keterjangkauan perumahan sangat buruk dan utang pendidikan itu nyata — tetapi ini persoalan struktural, bukan bukti bahwa peluang sedang runtuh.

Kesenjangan antara realitas ekonomi dan sentimen telah melebar secara dramatis. Media memperbesar kecemasan, media sosial menciptakan perbandingan yang keliru, dan narasi politik subur dengan doom. Sementara itu, laba perusahaan, belanja konsumen, dan ketatnya pasar tenaga kerja menceritakan kisah yang berbeda.

Ini bukan bias optimisme — ini pengingat bahwa data lebih penting daripada perasaan. Pasar pada akhirnya akan menghargai fundamental, bukan suasana hati. Bentuk K ada pada kepemilikan aset dan akumulasi kekayaan, bukan selalu pada pendapatan atau peluang. Jangan samakan persepsi yang didorong media dengan fakta ekonomi.