**Status Pipa Timur-Barat Saudi** (per 16 September 2026)
**Status Saat Ini**: Masih ditutup.
Arab Saudi menutup Pipa Timur-Barat (juga disebut Petroline) pada 11 September sebagai langkah pencegahan setelah serangan drone (diduga dilakukan oleh kelompok yang didukung Iran dan beroperasi dari Irak) merusak stasiun pemompaan di wilayah Riyadh dan Madinah.
**Rincian Utama**:
- Pipa ini biasanya mengalirkan **4–5 juta barel per hari** (hingga kapasitas 7 juta bpd setelah ekspansi terbaru) dari ladang minyak di wilayah timur ke pelabuhan Laut Merah Yanbu, melewati Selat Hormuz.
- Citra satelit menunjukkan kebakaran besar serta kerusakan struktural pada setidaknya satu stasiun pemompaan utama.
- Tidak ada minyak mentah yang keluar dari Yanbu sejak 11 September. Saudi Aramco membatalkan atau menunda beberapa pengiriman kargo Eropa.
**Perkiraan Jadwal Perbaikan**:
- **Optimistis (Menteri Energi AS Chris Wright)**: “Gangguan sementara” yang diukur dalam **hari** — kemungkinan sebagian pipa dapat beroperasi kembali dalam waktu dekat.
- **Analis / Sumber industri**:
- Operasi sebagian memungkinkan dilakukan relatif cepat.
- Pemulihan penuh kemungkinan **3–6 minggu** (sebagian estimasi meningkat hingga 6–8 minggu).
- Kpler memperkirakan kapasitas akan bertahan sekitar 50% hingga enam minggu, yang berpotensi memangkas ekspor Yanbu sebesar 2,5–2,7 juta bpd.
**Dampak Pasar**:
Gangguan ini telah berkontribusi pada kenaikan harga minyak (WTI baru-baru ini di atas $106) karena menghilangkan satu rute ekspor alternatif penting di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Arab Saudi saat ini lebih mengandalkan Selat Hormuz (dengan dukungan militer AS) serta menelusuri langkah-langkah pengganti seperti pemindahan kapal ke kapal.
**Kesimpulan**: Pipa ini masih tidak beroperasi. Pejabat berharap dapat terjadi restart parsial yang cepat, tetapi pemulihan penuh diperkirakan memerlukan beberapa minggu.
#Binance
#oil
#CryptoNews
#Bitcoin
#Macro
**Status Saat Ini**: Masih ditutup.
Arab Saudi menutup Pipa Timur-Barat (juga disebut Petroline) pada 11 September sebagai langkah pencegahan setelah serangan drone (diduga dilakukan oleh kelompok yang didukung Iran dan beroperasi dari Irak) merusak stasiun pemompaan di wilayah Riyadh dan Madinah.
**Rincian Utama**:
- Pipa ini biasanya mengalirkan **4–5 juta barel per hari** (hingga kapasitas 7 juta bpd setelah ekspansi terbaru) dari ladang minyak di wilayah timur ke pelabuhan Laut Merah Yanbu, melewati Selat Hormuz.
- Citra satelit menunjukkan kebakaran besar serta kerusakan struktural pada setidaknya satu stasiun pemompaan utama.
- Tidak ada minyak mentah yang keluar dari Yanbu sejak 11 September. Saudi Aramco membatalkan atau menunda beberapa pengiriman kargo Eropa.
**Perkiraan Jadwal Perbaikan**:
- **Optimistis (Menteri Energi AS Chris Wright)**: “Gangguan sementara” yang diukur dalam **hari** — kemungkinan sebagian pipa dapat beroperasi kembali dalam waktu dekat.
- **Analis / Sumber industri**:
- Operasi sebagian memungkinkan dilakukan relatif cepat.
- Pemulihan penuh kemungkinan **3–6 minggu** (sebagian estimasi meningkat hingga 6–8 minggu).
- Kpler memperkirakan kapasitas akan bertahan sekitar 50% hingga enam minggu, yang berpotensi memangkas ekspor Yanbu sebesar 2,5–2,7 juta bpd.
**Dampak Pasar**:
Gangguan ini telah berkontribusi pada kenaikan harga minyak (WTI baru-baru ini di atas $106) karena menghilangkan satu rute ekspor alternatif penting di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Arab Saudi saat ini lebih mengandalkan Selat Hormuz (dengan dukungan militer AS) serta menelusuri langkah-langkah pengganti seperti pemindahan kapal ke kapal.
**Kesimpulan**: Pipa ini masih tidak beroperasi. Pejabat berharap dapat terjadi restart parsial yang cepat, tetapi pemulihan penuh diperkirakan memerlukan beberapa minggu.
#Binance
#oil
#CryptoNews
#Bitcoin
#Macro