Perbedaan pendapat antara Wall Street dan kalangan ekonom di dunia, menjelang rapat kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve) yang akan digelar sebelum keputusan suku bunga, kini mulai terbuka ke publik. Kepala Ekonom di Moody’s Analytics, Mark Zandi, dalam pernyataan publik baru-baru ini menegaskan bahwa jika The Fed terus memilih menaikkan suku bunga pada rapat yang berlangsung pekan ini, risiko terjadinya kesalahan kebijakan yang serius akan meningkat secara signifikan. Bank Standard Chartered, melalui Steve Englander, Kepala Riset Valas G10, serta Michael Pearce, ekonom utama Amerika Serikat dari Oxford Economics, juga mengambil sikap yang lebih hati-hati. Mereka menyerukan agar The Fed memprioritaskan untuk mempertahankan suku bunga agar tetap tidak berubah.
Inti perdebatan ini terletak pada sinyal inflasi dan pasar tenaga kerja yang bersifat kompleks. Di satu sisi, sebagian trader memperkirakan kenaikan suku bunga berdasarkan data jangka pendek; di sisi lain, para ekonom khawatir bahwa jika kenaikan suku bunga memicu pemutusan hubungan kerja di perusahaan dan peningkatan angka pengangguran, hal itu dapat mendorong terjadinya siklus penurunan ekonomi yang saling menguatkan (self-reinforcing). Selain itu, apabila The Fed terpaksa menurunkan suku bunga secara cepat setelah menaikkan suku bunga karena kondisi ekonomi memburuk, kredibilitas kebijakan akan sangat melemah.
Di pasar keuangan tradisional, permainan ekspektasi seperti ini membuat berbagai aset berada dalam mode menunggu (wait-and-see). Imbal hasil obligasi AS dan indeks dolar AS terus berosilasi di tengah tarik-menarik kubu bullish dan bearish. Kekhawatiran terhadap ketatnya likuiditas yang dapat menekan aset berisiko, berhadapan dengan harapan akan pendaratan lunak ekonomi, sehingga keduanya saling meniadakan. Secara keseluruhan, dana pasar cenderung mengarah pada strategi defensif.
Sementara itu, untuk pasar kripto, $BTC dan pergerakan altcoin arus utama saat ini sangat bergantung pada ekspektasi likuiditas makro. Keputusan akhir The Fed akan berdampak langsung pada preferensi risiko di dalam bursa. Jika The Fed memilih bertahan di tempat, hal itu berpotensi memicu pelepasan emosi dalam jangka pendek; namun jika keputusan bersifat lebih hawkish (ketat) dari perkiraan, hal itu bisa menekan ruang untuk reli. Perang posisi kubu bullish vs bearish masih menunggu ‘sepatu’ jatuh.👀
#Fed #InterestRates #CryptoMarket
Inti perdebatan ini terletak pada sinyal inflasi dan pasar tenaga kerja yang bersifat kompleks. Di satu sisi, sebagian trader memperkirakan kenaikan suku bunga berdasarkan data jangka pendek; di sisi lain, para ekonom khawatir bahwa jika kenaikan suku bunga memicu pemutusan hubungan kerja di perusahaan dan peningkatan angka pengangguran, hal itu dapat mendorong terjadinya siklus penurunan ekonomi yang saling menguatkan (self-reinforcing). Selain itu, apabila The Fed terpaksa menurunkan suku bunga secara cepat setelah menaikkan suku bunga karena kondisi ekonomi memburuk, kredibilitas kebijakan akan sangat melemah.
Di pasar keuangan tradisional, permainan ekspektasi seperti ini membuat berbagai aset berada dalam mode menunggu (wait-and-see). Imbal hasil obligasi AS dan indeks dolar AS terus berosilasi di tengah tarik-menarik kubu bullish dan bearish. Kekhawatiran terhadap ketatnya likuiditas yang dapat menekan aset berisiko, berhadapan dengan harapan akan pendaratan lunak ekonomi, sehingga keduanya saling meniadakan. Secara keseluruhan, dana pasar cenderung mengarah pada strategi defensif.
Sementara itu, untuk pasar kripto, $BTC dan pergerakan altcoin arus utama saat ini sangat bergantung pada ekspektasi likuiditas makro. Keputusan akhir The Fed akan berdampak langsung pada preferensi risiko di dalam bursa. Jika The Fed memilih bertahan di tempat, hal itu berpotensi memicu pelepasan emosi dalam jangka pendek; namun jika keputusan bersifat lebih hawkish (ketat) dari perkiraan, hal itu bisa menekan ruang untuk reli. Perang posisi kubu bullish vs bearish masih menunggu ‘sepatu’ jatuh.👀
#Fed #InterestRates #CryptoMarket