Dalam laporan terbaru yang dirilis pada Senin, Morgan Stanley secara resmi bergabung dengan kubu yang bersikap bullish terhadap kenaikan suku bunga di Wall Street. Mereka memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat pada 15–16 September serta pada bulan Desember, dengan alasan data inflasi terbaru terus berada di atas perkiraan. Sementara itu, karena situasi Iran mendorong biaya energi global, sebuah studi dari Inggris juga menunjukkan bahwa pada tahun depan tingkat inflasi berpotensi menembus 4%, jauh melampaui target bank sentral; tagihan energi rumah tangga bisa naik sekitar 25% pada bulan Januari.
Rangkaian dinamika ini layak diperhatikan karena proses penurunan inflasi global ternyata jauh lebih lambat daripada yang diperkirakan pembuat kebijakan. Analisis Morgan Stanley menilai, lonjakan kedua pada harga energi, tingginya permintaan yang dipicu investasi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), serta kemungkinan suku bunga netral bergeser sementara, semuanya mendorong bank-bank sentral utama untuk mempertahankan sikap kebijakan moneter yang lebih ketat. Dengan demikian, ritme pelonggaran yang semula diperkirakan pasar kini sedang ditinjau ulang.
Dari sudut pandang pasar makro tradisional, inflasi yang cenderung lengket di Eropa dan Amerika serta kenaikan ekspektasi suku bunga akan secara langsung menopang imbal hasil obligasi pemerintah AS dan indeks dolar, sekaligus menekan laju perbaikan valuasi komoditas serta aset berisiko global. Inggris menghadapi tekanan bahwa batas atas tagihan energi mungkin dinaikkan hingga sekitar 2150 poundsterling, yang juga semakin memperkuat kekhawatiran stagnasi-inflasi (stagnasi dengan inflasi) di tingkat ekonomi Eropa secara keseluruhan.
Bagi pasar kripto, bolak-baliknya ekspektasi likuiditas makro sering kali berarti pasar dalam jangka pendek akan terus berada dalam pola konsolidasi di dalam rentang (range-bound). Sikap investor saat ini relatif terpecah: sebagian memilih keluar pasar dan menunggu sambil mencari perlindungan (hedging), sementara sebagian lainnya bertaruh pada logika bahwa pembelian mata uang kripto aset terdesentralisasi dapat mengimbangi penurunan daya beli mata uang fiat. Ke depan, masih perlu memantau dengan saksama keputusan kebijakan yang akan segera dijalankan oleh The Fed dan Bank of Japan. $BTC
#Fed #InterestRates #Inflation
Rangkaian dinamika ini layak diperhatikan karena proses penurunan inflasi global ternyata jauh lebih lambat daripada yang diperkirakan pembuat kebijakan. Analisis Morgan Stanley menilai, lonjakan kedua pada harga energi, tingginya permintaan yang dipicu investasi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), serta kemungkinan suku bunga netral bergeser sementara, semuanya mendorong bank-bank sentral utama untuk mempertahankan sikap kebijakan moneter yang lebih ketat. Dengan demikian, ritme pelonggaran yang semula diperkirakan pasar kini sedang ditinjau ulang.
Dari sudut pandang pasar makro tradisional, inflasi yang cenderung lengket di Eropa dan Amerika serta kenaikan ekspektasi suku bunga akan secara langsung menopang imbal hasil obligasi pemerintah AS dan indeks dolar, sekaligus menekan laju perbaikan valuasi komoditas serta aset berisiko global. Inggris menghadapi tekanan bahwa batas atas tagihan energi mungkin dinaikkan hingga sekitar 2150 poundsterling, yang juga semakin memperkuat kekhawatiran stagnasi-inflasi (stagnasi dengan inflasi) di tingkat ekonomi Eropa secara keseluruhan.
Bagi pasar kripto, bolak-baliknya ekspektasi likuiditas makro sering kali berarti pasar dalam jangka pendek akan terus berada dalam pola konsolidasi di dalam rentang (range-bound). Sikap investor saat ini relatif terpecah: sebagian memilih keluar pasar dan menunggu sambil mencari perlindungan (hedging), sementara sebagian lainnya bertaruh pada logika bahwa pembelian mata uang kripto aset terdesentralisasi dapat mengimbangi penurunan daya beli mata uang fiat. Ke depan, masih perlu memantau dengan saksama keputusan kebijakan yang akan segera dijalankan oleh The Fed dan Bank of Japan. $BTC
#Fed #InterestRates #Inflation