Minyak mentah Brent minggu ini menembus di atas 100 dolar per barel, dan sempat menyentuh 105,26 dolar. Minyak mentah AS, WTI, juga menembus 100 dolar—ini pertama kalinya sejak Mei. Dibandingkan titik terendah di awal Agustus, Brent sudah memantul lebih dari 30%.

Pertama, mari jelaskan kenaikannya ini sebenarnya terjadi pada apa. Ini bukan “global kehabisan minyak”, melainkan “minyak tak bisa lewat”. Selat Hormuz menanggung sekitar seperlima pengangkutan minyak mentah laut global. Pekan ini, militer AS menyerang kapal tanker Iran; pihak Iran menyatakan bahwa di sekitar Hormuz terjadi serangan terhadap 10 kapal, sementara kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran menguasai Pelabuhan Mokha di Yaman. Dua jalur sekaligus terancam, pemilik kapal hanya punya dua pilihan: memutar rute, atau membeli asuransi perang yang lebih mahal. Biaya tambahan tersebut pada akhirnya akan menjadi harga yang dibayar di pelabuhan.

Efeknya sudah mulai merambat. Rata-rata harga bensin AS naik menjadi sekitar 4,28 dolar per galon; harga solar sebelumnya mencatat rekor, dan tarif angkutan truk serta harga barang di rak juga akan ikut terdorong. Yang lebih penting lagi adalah suku bunga: data dari CME menunjukkan taruhan trader terhadap kenaikan suku bunga Fed pekan depan naik dari 61% menjadi mendekati 70%. Harga minyak secara langsung mengubah “perdagangan penurunan suku bunga” menjadi “risiko kenaikan suku bunga”—ini adalah salah satu hal yang kurang diperhitungkan dalam putaran pasar kali ini.

Ada satu hal lagi yang mudah diabaikan: kenaikan ini terjadi ketika permintaan tidak begitu kuat. Kinerja sektor manufaktur global cenderung lemah; pembelian nyata justru lebih banyak berasal dari penumpukan persediaan dan ongkos kirim yang dipicu oleh rute memutar, bukan pabrik yang beroperasi penuh.

Ke depan, ada tiga hal. Pertama, volume lintas harian di Selat Hormuz dan tarif asuransinya—ini lebih nyata dibanding pernyataan apa pun. Kedua, China—sebagai pengimpor minyak mentah terbesar dunia—belakangan ini kian mempercepat pembelian; baik ING maupun ICIS berpendapat bahwa permintaan China adalah penentu sejauh mana kenaikan bisa bertahan. Ketiga, apakah kapasitas produksi menganggur OPEC+ benar-benar akan dilepas.

Pandangan saya: yang terutama naik sekarang adalah premi risiko, bukan kekurangan fisik yang nyata. Ciri pasar seperti ini adalah volatilitas tinggi—isu gencatan senjata bisa menghapus 10 dolar, dan satu serangan baru juga bisa menarik kembali 10 dolar. Jangan gunakan kerangka tren untuk membaca pergerakan yang digerakkan oleh peristiwa.

#Minyak mentah naik ke level tertinggi sejak Juli